Sabtu, 28 Februari 2015

Cerpenku

Gadis Khatulistiwa

            Adalah sebuah kisah tetang Layla dan Majnun yang terulang di zaman ketika handphone bukan lagi barang mahal, ketika pesawat terbang telah mengudara menghubungkan antarbenua, dan ketika manusia telah mampu berwisata hingga ke bulan. Kisahnya hampir serupa namun dilakonkan oleh tokoh yang berbeda.
            Kisah ini dimulai sebulan yang lalu. Ketika nasib membawaku menjejakkan kaki di tanah Borneo. Sebagai wartawan di salah satu majalah budaya terkenal di negeri ini, hal biasa bagiku jika harus berkeliling dari Sabang hingga Merauke untuk meliput keunikan budaya yang dimiliki bangsa ini. Pagi itu, ketika sedang menikmati hari libur  karena laporan liputanku selama seminggu telah kurampungkan sejak semalam. Aku berniat bangun lebih siang. Menikmati hari libur yang jarang sekali bisa kurasakan. Jam dinding masih menunjuk angka tujuh, kutarik selimut dan kudekap kembali gulingku. Hingga sepuluh menit kemudian ketika aku baru saja melayang menuju alam mimpi, handphone yang tergeletak pasrah disamping bantalku bergetar dengan ringtone volume maksimal. Sontak aku terlonjak dari tempat tidur dan meraih handphone itu. Tertulis “Bos Besar” dilayar screen touch-nya. Tidak biasanya bosku menelpon pagi buta begini. Pasti ada sesuatu yang penting. Dan benar saja, pagi itu juga aku diminta meliput kehidupan masyarakat sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Bosku ini memang aneh, ia sering memberi tugas tak masuk akal bahkan tugas yang sama sekali tidak penting. Hobinya adalah  mengganggu ketentraman hidup anak buahnya. Pagi ini giliranku.
            “Tapi bos, bukannya itu tugas Rio. Saya sudah menyelesaikan bagian saya sejak minggu lalu” Aku menolak dengan berbagai bahasa pembelaan.
            “Iya. Tapi Rio dapat tugas lain yang lebih penting. Hanya kamu yang sedang free. Tolonglah, liputan ini akan mengisi kolom khusus majalah minggu depan jadi tidak bisa ditunda lagi” Hal yang kusukai dari bosku ini, jika sedang ada keinginan, ia akan terus memohon dan berusaha hingga keinginannya terpenuhi. Tidak ada kata berhenti sebelum lawan bicaranya mengatakan iya. Bahkan pernah suatu waktu, ia berhasil mewawancarai salah satu kepala suku pelosok di daerah Timika yang terkenal keras dan enggan bersentuhan dengan media.
            Hingga tibalah aku di tanah Pontianak, Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Nama Pontianak sendiri berasal dari Bahasa melayu yang artinya Kuntilanak. Namun kota ini tidak seseram namanya.
            Hari pertama, aku memutuskan mencari penginapan murah di tengah kota Pontianak karena akses transportasi lebih mudah ditemukan di tengah kota, selain itu jugabudget yang disediakan kantor memang tidak seberapa.  Siang itu dengan menggunakan jasa angkutan umum yang disebut oplet, aku tiba di tepi sungai Kapuas. Tak ada yang istimewa dari sungai terpanjang di Indonesia ini. Alirannya tenang dan terlihat bebarapa perahu kecil tertambat di tepi sungai. Aku memotret berbagai sudut sungai, aktivitas masyarakat di sekitar sungai pun tak luput dari sambaran lensa kameraku. Setelah meliput dan mewawancarai beberapa penduduk di tepi sungai ini, aku memutuskan untuk kembali ke penginapan. Aku punya waktu tiga hari di kota ini.
            Keesokan harinya aku memutuskan untuk meliput salah satu monumen penting di kota ini, yaitu Tugu Khatulistiwa yang berada di daerah Siantan. Tugu ini dibangun tepat digaris lintang nol derajat bumi. Tugu yang menjadi saksi bisu cinta kita. Dibawah tugu inilah aku pertama kali melihatmu, Laylaku. Pertama kali melihat senyummu yang teramat menawan, seketika membuatku menjadi majnun oleh keindahannya. Kuabadikan senyum itu dalam lensa kameraku. Rambut panjang indah terurai ditiup angin serta matamu yang coklat turut melengkapi keindahanmu. Engkau tiba-tiba berjalan mendekatiku. Kuarahkan moncong kameraku ke segala arah untuk menutupi rasa gugupku. Malu rasanya. Mungkin engkau melihat wajahku memerah dan tanganku yang bergetar memegang kamera.
            “Anda wartawan ya?” Suara lembutmu semakin membuat hatiku bergetar. Oh, inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama? Seperti cinta Qays sang penyair di tanah Arab pada Layla pujaan hatinya.
            “Iya.. dari mana anda tahu?” aku berusaha menjawab senormal mungkin.
            Engkau kembali melontarkan senyum manis itu sembari menunjuk ID Card yang menggantung di leherku. Kuberanikan untuk membalas senyummu. Mungkin itu senyum teraneh yang pernah engkau lihat.
            Dari perkenalan singkat itu, kutahu bahwa namamu adalah Anggun.
            Setelah kembali ke penginapan, bayangan gadis yang kutemui di garis lintang nol derajat itu menari-nari dipelupuk mataku. Senyumnya yang anggun seperti namanya membuat damai dihatiku. Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi. Tapi bagaimana? Aku bahkan tidak tahu alamatmu atau nomor teleponmu. Malamku diisi oleh bayangan tentangmu. Bagaimanapun caranya, aku harus bertemu lagi denganmu.
            Hari terakhirku di Kota Khatulistiwa ini. Aku kembali ke tempat pertemuan kita kemarin, berharap engkau masih ada disana atau engkau akan datang lagi. Namun, berjam-jam aku menunggu tidak juga kutemukan raut itu. Hatiku keluh mengucap rindu. Rindu pada sosokmu yang baru pertama kali kutemui. Kemana aku harus mencarimu?
            Aku memutuskan untuk kembali ke Sungai Kapuas untuk melengkapi laporanku. Sepanjang perjalanan mataku menjelajah mencari wajahmu. Namun tak kunjung ketemui. Hingga keberangkatanku malam ini kembali ke ibu kota.
            Apa yang bisa kulakukan? Bahkan bayanganmu pun menyertaiku. Malam-malamku diisi oleh kerinduan untuk melihat senyum itu lagi. Wajahmu tergambar jelas dilangit-langit kamar yang bisu. Tiga hari setelah kepulanganku dari Pontianak, bayangmu justru semakin kuat menyiratkan kerinduan. Aku harus bertemu denganmu lagi. Kalau perlu aku akan mencarimu ke seluruh pelosok Pulau Kalimantan. Aku hampir gila memikirkanmu.
            Pagi ini ku putuskan untuk kembali ke Kota Pontianak, aku ingin memastikan perasaan ini. Mungkinkah engkau juga merasakan hal yang sama denganku? Setibanya di bandara, aku langsung berangkat menuju Siantan, satu-satunya tempat kita pernah berjumpa. Aku akan mulai mencari dari tempat itu.
            Tepat di bawah Tugu Khatulistiwa, hawa sejuk menyentuh hatiku. Aku melihatmu. Yaa.. benar, itu kau. Wajah yang tak dapat membuatku tidur. Wajah yang teramat kurindukan. Aku mendekatimu dan memberanikan diri menyapamu.
            “Aggun…” Aku lirih memanggil namamu.
            “Mas Arya? Aku pikir mas Arya sudah pulang ke Jakarta.” Senyum itu tiba-tiba memudar. Engkau tertunduk dihadapanku.
            “Iya. aku baru tiba di kota ini tiga jam yang lalu hanya untuk menemui Anggun”
            “Ada apa mas?”
            “Sejak pertemuan kita pertama kali di bawah tugu ini, aku merasakan hal yang membayangkannya pun tak pernah. Bayangan Anggun selalu hadir, tiap saat. Mungkin ini aneh atau berlebihan. Mungkin juga Anggun menganggapku gila. Tapi aku harus menuntaskannya.”
            Betapa bahagianya hatiku saat engkau menjawab punya rasa yang sama. Ternyata cinta benar-benar datang pada kita.
            Ini memang gila. Yaa.. aku benar-benar telah gila karenamu. Seperti Qays yang telah menjadi majnun karena Layla. Sore itu juga aku memutuskan untuk menemui orang tuamu. Aku ingin melamarmu dan segera menjadikanmu istriku. Kita ibarat sepasang kekasih yang lama terpisah dan dipertemukan kembali. Senyummu yang terkembang sepanjang perjalanan semakin menguatkan hatiku untuk segera meminangmu.
            Namun justru malang menimpa. Setelah menemui orang tuamu, kejadian yang kita bayangkan akan berujung bahagia justru menjadi petaka. Engkau telah dijodohkan dengan anak sahabat ayahmu. Adat keluargamu pantang untuk melanggar janji. Ayahmu mengusirku dari rumah mewahmu. Aku hanya bisa pasrah melihatmu diseret. Apa yang harus aku lakukan? Puluhan pengawal ayahmu bahkan telah berbaris dihalaman rumah.
            Malam itu diam-diam engkau menemuiku, memintaku untuk membawamu jauh dari keluargamu. Sungguh aku tak akan mampu melakukannya. Aku terlalu pengecut. Maafkan aku. Kalau saja waktu itu aku berani mengambil keputusan untuk membawamu, mungkin sekarang kita sudah bahagia. Lihatlah keadaanku sekarang, aku ibarat Qays yang hanya mampu menulis puisi-puisi cinta untuk Layla yang terpaksa menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya. Aku terlalu pengecut. Kini aku hanya mampu mengenangmu disudut hatiku. Tiap saat dilanda rindu dan rasa berdosa padamu. Aku dapat kabar tentang pernikahanmu seminggu yang lalu, hatiku hancur. Sungguh, kalau saja waktu itu aku lebih berani.
Maafkan aku, gadis khatulistiwaku.

Minggu, 29 September 2013

My Real Little Friend II

continue...

kalau si cantik ini namanya Nova...
Nova ini anaknya periang dan mudah dekat dengan siapa saja. dia suka skali tersenyum.
tapi sayang, sejak umur beberapa hari ia tinggal di panti. tak seorang pun tau siapa orang tuanya. :'(

diusia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua apalagi ibu, dia tak pernah merasakannya.

tapi beruntung krn ibu panti yang baik hati merawatnya dengan penuh kasih sayang. begitu juga dengan saudara-saudara barunya yang ada di panti. :)
Nova jadi tidak sedih dan lebih sering tertawa karena saudara-saudaranya yang banyak slalu menghiburnya.

pertama kali bertemu anak ini, miris rasanya. sungguh tega orang tua yang membuang buah hatinya begitu saja. padahal disisi lain begitu banyak calon ibu dan bapak yang tiap saat bermunajah kepada Robb Sang Maha Kasih agar dikarunia buah hati. Semoga Nova bisa tumbuh dan menjadi anak solehah serta teladan bagi orang-orang disekitarnya. aamiin.

Senin, 10 Juni 2013

My Real Little Friend

Ini sahabat-sahabat kecilku..
mereka slalu menginspirasi, slalu membuat siapapun yang melihatnya tersenyum. mereka mampu meluluhkan masalah-masalah yang ada dan menghadirkan solusi alami. mereka istimewa. sangat istmewa.

sahabatku yang satu ini namanya Fahri tapi lebih sering dipanggil Fakfak.. tau gak kenapa ??
itu karena dia lahir dan besar di salah satu Pulau besar disebelah Timur Indonesia. yaapp.. Papua tepatnya di Fak-Fak.
sahabatku ini sangat periang, ramah, tapi penakut. hehehee
ia sangat senang menghibur orang lain dan sangat senang menyemangati orang lain untuk menjadi pemberani padahal sebenarnya dia sendiri sangat penakut.
dia suka skali tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi ompongnya.
Rambutnya yang keriting alias iwil-iwil buat dia makin lucu. dia juga punya lesung pipi. 
anak yang benar-benar manis.. ^__^

nahh...
kalo yang ini namanya Ahmad Fauzan alias Ojan...
manusia satu ini adalah manusia termuda dikampus ^_^ tiap hari kerjaannya nangkring di perpus. Bukan karena dia udah jago baca, tapi krn his mom kepala perpus kampus. hehhee..
Ojan ini jago banget main game. sekarang usianya hampir 4 tahun dan dia udah jago acak-acak file di laptop. yaa apalagi kalo bukan nyari games. mulai dari game house sampe game online dibabat sama manusia unyu ini. 
etttss... tapi jangan salah, si Ojan ini udah hafal banyak surah pendek dalam Al-Qur'an termasuk ayat kursi dan buanyak doa sehari-hari lho. kagum juga sama bocah satu ini.
dia paling seneng makan permen yupi-yupi.. :D jadi kalo pengen minta dia ngelakuin sesuatu cuma dua senjata ampuhnya, sogok dengan games atau yupi-yupii... hehehee :D anak ini manis banget, lucu, tapi kadang ngeselin kalo lagi pengen sesuatu. Ummh.. Sayyyaaaaang Fauzan :*

Kamis, 30 Mei 2013

D I A

Aku pernah mengenal seseorang. orang yang mengajarkanku banyak hal. orang yang menjadikanku merasa istimewa. orang yang selalu menyemangatiku untuk mimpi-mimpiku. dia baik. sungguh sangat baik. meskipun dia selalu merasa dirinya jahat dan tak pantas untuk apapun. tapi aku yakin dia baik. dia sangat istimewa sebagaimana ia membuatku selalu jadi istimewa. dia seorang komentator sejati. sangat senang menyemangati orang lain namun selalu lalai menyemangati dirinya sendiri. ^__^


Dia..

aku tak pernah melihatnya. aku tak pernah menyentuhnya. 
dia nyata atau tidak, aku tak tau. yang ku tau dia pernah ada, tetap ada, dan akan selalu ada.


Dia..

orang yang sangat istimewa. seorang teman yang setia. seorang sahabat yang rela berkorban. seorang kakak yang bijaksana. seorang anak yang berbakti. dan seorang kekasih yang lembut hatinya.


Dia..

selalu terlihat cuek. namun semakin dia cuek, sebesar itu pula rasa pedulinya.
selalu terlihat santai menjalani apapun. namun dibalk itu, tanggung jawabnya tak diabaikan.


Dia..

jika dimintai sebuah pengakuan. aku orang pertama yang akan mengaku dia cerdas. sangat cerdas. hanya saja sedikit malas. :p


Karena dia..

aku semangat mengejar mimpi itu.
Karena dia..
aku tak peduli dengan masalah yang ada.
Karena dia..
aku tak pernah merasa sendiri.


Dari dia..

aku belajar jadi kakak yang baik.
Dari dia..
aku belajar menghargai hariku.
Dari dia..
aku belajar peduli pada dunia orang lain.


Untuk dia..

tetaplah jadi semangat untuk orang-orang yang ada disekitarmu. namun, jangan lupakan semangat untuk dirimu sendiri. aku yakin kamu bisa berubah. hanya perlu sedikit lebih menghargai apa yang kamu miliki saat ini termasuk kecerdasan yang diberikan Tuhan kepadamu. Dunia membutuhkan orang sepertimu.


Aku orang pertama yang percaya suatu saat kamu akan sukses. ^__^

Untuk dia..

sekali sayang, tetap sayang, akan selalu sayang.




Rabu, 29 Mei 2013

Malaikat Kecil Itu Adikku

Di tempat ini lagi dengan keadaan seperti ini lagi. Perlahan kulangkahkan kakiku memasuki sebuah tempat yang teramat sakral bagiku, sebuah tempat yang sebenarnya tak pernah ingin ku kunjungi. Namun sekarang tempat itu telah dan harus jadi bagian dari alur hidupku. Aku melangkah lebih dekat dan semakin dekat hingga tepat dihadapanku sebuah pusara yang masih terlihat baru dibandingkan pusara-pusara disekitarnya. Sekilas kubaca sebuah nama dalam pusara itu, aku sangat mengenalnya, nama itu teramat lekat denganku. Yaa… itu pusara Ayahku. Titik-titik embun dibalik kelopak mata ini hendak keluar dari peraduannya, namun terhenti ketika pandanganku kualihkan sekilas pada seorang gadis kecil dihadapanku. Ia tersenyum padaku dengan senyum khasnya yang seakan tak pernah pudar. Tahukah kamu ? hatiku hancur melihat senyuman itu. Aku merasa malu, harusnya aku kuat, harusnya aku lebih tegar. Terekam kembali dalam memoriku, kejadian setahun silam ketika satu bagian yang tak pernah kuharapkan hadir mewarnai kisah hidupku terjadi dan merenggut impian-impianku. Sore itu, ketika hendak ku tutup pintu rumah, dari kejauhan kulihat kerumunan orang-orang yang sedang membopong sesuatu namun menuju kearah rumahku hingga akhirnya ku tahu bahwa yang dibopong itu adalah ayahku. Aku tak tahu-menahu apa yang terjadi, yang terlihat hanya orang-orang yang menangis dan Nampak sangat sedih. “ada apa ini ? apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku terjawab ketika kulihat tepat dihadapanku, ayahku tergeletak kaku dengan mata tertutup dan enggan lagi untuk menatap dunia. Saat itu, kurasakan langit seakan runtuh menimpaku. “Tuhan… mengapa Engkau panggil ia secepat ini ? Tuhan… sungguh Engkau tak adil padaku” aku mulai menyalahkan takdir yang seakan tak adil padaku. Namun, betapa malunya aku ketika aku sedang menangis sejadi-jadinya tiba-tiba datang seorang gadis kecil yang menyentuh lembut pipiku hendak menghapus air mataku. Matanya pun tampak basah, namun ia mencoba tersenyum dan menerima kenyataan. Gadis kecil itu, Zahra. Adikku. Ia Nampak begitu tegar dengan usianya yang saat itu menginjak 6 tahun dan ironisnya lagi hari itu tepat sehari setelah hari ulang tahunnya. Aku belajar menerima kenyataan hidup dari seorang gadis berusia 6 tahun. Pelajaran nomor satu yang ku dapatkan dari malaikatku itu.
            “Dila…” suara lembut itu memecah lamunanku.
            “iya bu…”
            “kita pulang yuk sayang”
Kulangkahkan kembali kakiku menjauh dari tempat peristirahatan orang yang teramat kukasihi ini. Sore itu nampak sangat sepi. Hanya ada sekumpulan anak kecil diseberang jalan dengan pakaian yang nampak lusuh dan kumuh namun terlihat begitu bahagia. Setelah ku perhatikan lebih dekat, salah seorang dari kumpulan anak-anak itu adalah adikku. Sejak kapan ia ada disana?  Tiap kali ke makam ini, ia pasti menyempatkan diri untuk bermain dengan anak-anak yang tinggal disekitar makam ini dan membagi-bagikan permen yang didapatnya dari ibu tiap kali ia berhasil bangun pagi.  Ia tak pernah mau membagi permennya dengan aku dan kakaknya yang lain tiap kali kami minta permennya. Dengan tegasnya ia selalu berkata “Tidak! Ini punya Zahra”.  Namun, aku pun tak pernah melihatnya memakan permen-permen itu. Ia hanya mengumpulkannya pada kaleng susu kecil yang ia simpan dibawah tempat tidurnya. Dan hari ini aku tahu, ternyata tiap pagi ia berusaha bangun pagi untuk mendapatkan sebuah permen yang hendak ia bagikan pada teman-teman kecilnya itu. Pelajaran nomor dua yang ku dapat dari malaikat kecilku ini, sesulit apapun keadaan kita jangan pernah mengeluh dan tetap memberi karena diluar sana banyak jiwa yang merasakan hal yang jauh lebih pahit dari kita.
            Aku tak punya banyak waktu untuk liburan pada Idul Fitri kali ini, waktu liburanku tersisa tiga hari lagi. Setelah itu aku harus kembali kerutinitasku sebagai mahasiswa yang merantau di kampung seberang. Selama berada di kampung halaman, kumanfaatkan waktuku sebaik mungkin untuk menunjukkan baktiku pada ibuku dan kasihku pada kedua adikku. Satu hal yang tak pernah kulewatkan selama berada di rumah, aku selalu shalat berjamaah dengan adikku, Zahra. Adzan tengah berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah, aku bergegas mengambil wudhu yang disusul adikku dibelakangku. Sedangkan ibu dan Fahri bergegas bersama untuk shalat berjamaah di masjid. Aku bersyukur berada dalam keluarga yang senantiasa menggantungkan hidupNya pada Sang Maha Pencipta ini.
            “Zahra… kok wudhunya buru-buru sayang? Pelan-pelan aja” tanyaku mengganggu kekhusyuan wudhu Zahra.
            “Zahra ga mau ketinggalan roket kak” jawabnya polos sambil tersenyum.
            “roket?” jawabku bingung.
            “iyaa. Kata pak Uztad amalan shalat itu akan sampai ke langit sesuai dengan waktu shalatnya.”
            Aku mengerutkan kening kearah Zahra sebagai tanda aku ingin penjelasan lebih jauh.
            Zahra menyambung pembahasannya yang berlaga ibarat seorang Uztadsah yang tengah berceramah dalam suatu majelis “begini kakak dila, yang shalatnya lebih cepat maka amalannya akan sampai ke Allah naik roket yang kencaaaaangg banget dalam bentuk cahaya yang paling terang. Sedangkan yang shalatnya belakangan hanya akan naik mobil, naik motor, naik sepeda, atau bahkan hanya jalan kaki. Makanya Zahra pengen amalan Zahra naik roket biar cepet nyampe ke tempat Allah”
                “oohh…”  jawabku singkat tanda mengerti sambil melebarkan senyuman.
            “nah gitu kak”
            “hmm… tapi ga harus cepet-cepet wudhunya sayang, meskipun shalatnya diawal waktu tapi wudhunya ga sah gimana ? wudhu itukan ibarat bahan bakar roketnya. Entar roketnya macet ditengah jalan loh karena bahan bakarnya abis”
            “iyaa juga yaa kak. Hehheee…” sambung Zahra sambil berbalik arah kembali ke tempat wudhu untuk mengulang wudhunya.
            Setelah berwudhu kami pun shalat berjamaah. Aku menjadi imam dalam tiap shalat kami, Zahra berada tepat disebelahku. Hati terasa sangat tentram ketika menghadap pada Robb Yang Maha Kasih. Tiada kenikmatan yang melebihi ketika sujud dihadapanNya. Subhanalloh…
Namun, ketika sujudku pada rakaat kedua betapa terkejutnya aku ketika kurasakan kehangatan pada pundakku. Aku tak tau apa penyebabnya. Hal itu terjadi hingga sujud pada rakaat terakhirku. Hingga akhirnya aku mengetahui adikku Zahra mencium pundakku ketika ia hendak sujud. Tuhan… air mataku menetes ditengah sujudku. Sungguh adikku begitu menyayangiku. Melebihi rasa sayang yang aku ketahui selama ini. Melebihi rasa sayangku padanya. Aku berdoa jauh dalam sujudku. “Allahu Robbii… jaga malaikat kecilku ini, tuntun ia selalu kejalanMu yang lurus. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya”.
            Waktuku untuk berlibur di kampong halaman terbilang singkat bahkan sangat singkat jika dibangdingkan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Hal itu disebabkan karena pilihanku untuk menjadi akivis kampus yang penuh dengan kegiatan. Apalagi ketika musim liburan tiba, waktuku lebih banyak kuhabiskan di kampus dari pada di tempat kost apalagi di kampong halaman. Tak heran jika adik kecilku ini merasa sangat bahagia ketika kakaknya berada di rumah dan merasa sangat sedih ketika aku hendak kembali ke tempatku menuntut ilmu.
            Pertanyaannya yang tak pernah terlewatkan setiap kali aku akan kembali ke tempat kuliahku, “kapan kakak akan datang lagi?” dan jawaban yang kuberikan pasti selalu mengecewakannya “entahlah sayang. InsyaAllah kalau kakak ada libur lagi” namun ketika mendengar jawabanku ini, ia berusaha tersenyum pertanda puas dengan jawabanku.
            Keesokan harinya, aku pun harus meninggalkan rumah dan keluargaku kembali. Remuk rasanya harus meninggalkan orang-orang yang kukasihi ini, namun semua kulakukan untuk mereka. Apalagi ketika melihat senyum ibuku dengan matanya yang berkaca-kaca ketika hendak melepasku. Satu hal lagi kebiasaan adikku yang sampai saat ini pun belum aku temukan jawaban atas sikapnya itu. Ia tak pernah mau melihatku pergi meninggalkan rumah. Setiap aku akan pergi, ia selalu meninggalkan rumah terlebih dahulu bersama teman-temannya, jika ia sementara ada di rumah ia lebih memilih untuk berada dalam kamar dan enggan untuk menyaksikanku meninggalkan rumah. Namun, bukannya ia membiarkanku pergi tanpa sesuatu. Setiap tiba di Makassar, selalu kutemukan sesuatu yang membuat air mataku mengalir. Yaa.. itu dari adikku. Ia pernah menyelipkan boneka kecil kesayangannya ke dalam tasku, ia pernah menyelipkan sebuah pulpen, sebuah tali sepatu, plastic tempat pensil warna dan barang-barang lain miliknya. Dan hal itu yang membuatku antusias untuk membuka ranselku malam ini setibanya di tempat kostku. Aku tidak menemukan apa-apa, kubongkar semua isi tasku kembali. Dan aku masih tidak menemukan apa-apa. “apa Zahra lupa menyelipkan sesuatu ya ?” pikirku. Kucari kembali untuk ketiga kalinya dan masih kosong. Terbersit rasa kecewa dalam hati ini hingga kuhentikan pencarianku.
            Kuputuskan untuk beristirahat sejenak sembari menatap kamarku yang cukup berantakan dan berdebu setelah lama kutinggalkan. Jam menunjukkan pukul 20.00 WITA. Aku masih punya waktu sejam dua jam untuk tidur kemudian melanjutkan laporanku yang kejar tayang hendak ku kumpulkan esok hari di kampus. Maklum, mahasiswa penganut SKS alias Sistem Kebut Semalam.

            Setelah terlelap beberapa menit, kuputuskan untuk bangkit dari kasurku yang empuk menuju tumpukan buku yang ada di meja. 

Senyum Najwa

        Rembulan malam itu tersenyum, senyum yang indah. Sungguh sangat indah. Namun rasanya sangat tidak adil karena hanya sebagian penikmat karunia Tuhan yang mampu merasakan indahnya salah satu ciptaanNya itu. Betapa miris rasanya melihat keadaan gadis kecil disudut jalan Pettarani itu. Malam itu pertama kali aku berkenalan dengan Najwa. Gadis kecil berusia 8 tahun yang harus tinggal bersama adiknya yang baru berusia sekitar 3 tahun. Sejak usia 4 tahun, Najwa telah merasakan kerasnya kehidupan jalanan kota. Sebagaimana kehidupan jalanan, Najwa tumbuh menjadi gadis kecil yang keras, bahasa yang tidak tertata, cuek terhadap lingkungan sekitar, jauh berbeda dengan anak-anak yang sejak kecil mendapat kasih sayang orang tua dan mengenyam dunia pendidikan. Namun, dibalik kehidupan dan sikapnya yang keras itu terpendam mutiara indah jauh dalam lubuk hati anak ini. Hatinya begitu lembut.
            Malam itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyapa gadis kecil itu. Aku telah lama memperhatikannya karena jalanan tempat Najwa mengais rejeki adalah jalanan yang kulalui setiap hari. Awalnya aku ragu namun rasa penasaranku yang membuncah mampu mengalahkan rasa ragu itu. Aku parkirkan motorku tak jauh dari tempat Najwa dan adiknya. Perlahan kudekati gadis kecil itu. Kulempar sebuah senyuman lembut sebagai tanda aku ingin menggapai lembut hatinya. Ia menatapku tanpa ekspresi. Begitu datar. Aku semakin mendekat namun ia berusaha mengacuhkanku. Setelah aku berada tepat dihadapannya, ia berusaha menghindar dariku, ia membereskan kardus-kardus yang ia jadikan alas beristirahat dengan adiknya. Malam itu sekitar jam 12 malam. Waktu ketika anak-anak seusianya telah terlelap ditempat tidurnya yang nyaman. Sedangkan dua gadis kecil ini harus tidur dibawah jalan layang beralaskan kardus seadanya dan kain tipis sebagai selimut. Malam yang dingin. Sangat dingin. Aku berusaha mencegahnya bergegas dari tempatnya.
            “adik mau kemana?” sapaku lembut.
            “mau pergi” jawabnya singkat.
            “kemana? Kasihan adiknya pasti kedinginan.”
            “bukan urusan kamu.” Ia menjawab dengan ketus. Alis matanya mengkerut seakan-akan ia bertanya dalam hati ‘orang ini siapa sih? Mau tau saja urusan orang’.
            “maaf yaa adik kalau kakak mengganggu tapi boleh tidak kakak minta sedikit saja waktu adik. Kakak Cuma pengen kenalan. Boleh ? tambahku lagi.
            “mau kenalan ? untuk apa ? saya tidak punya waktu” timpalnya kembali.
            “hemm… kakak janji tidak akan lama. Atau gini aja supaya waktu adik tidak terbuang sia-sia  nanti kakak kasih bayaran untuk tiap pertanyaan kakak. Gimana ?”
Dan sesuai dugaanku, ia akhirnya bersedia. Gambaran kehidupannya yang keras dan merasa uang adalah segalanya. Anak sekecil itu harus bersusah payah mencari recehan untuk bisa makan. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk adiknya. Apapun itu yang penting ia bisa mendapatkan uang. Termasuk untuk berteman sekalipun.
            “adik namanya siapa?” tanyaku membuka perkenalan.
            “najwa” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
            “kalau sikecil ini namanya siapa?”
            “Salah” jawabnya kembali. Karena ia tak dapat menyebut huruf R makanya nama adiknya yang sebenarnya Sarah berubah menjadi Salah.
            “Najwa umurnya berapa sekarang?”
            “8 tahun. Kalau Salah sudah 3 tahun.” Jawabnya mulai panjang dan sedikit terbuka.
            “oohh… maaf yaa, kok Najwa bobo disini?”
            “yaa.. mau bobo dimana lagi ? najwa tidak ada rumah”
            “najwa sejak kapan bobo di tempat seperti ini?”
            “sudah lama sejak Najwa kabur dari panti”
            “najwa pernah tinggal di panti ? kenapa kabur ? bukannya dipanti tempat tidurnya lebih nyaman daripada disini?”
Ia pun menjelaskan mengapa ia kabur dari panti asuhan. Ia tidak tahan dengan ibu panti yang sangat keras dan suka memukulinya. Sungguh tragis nasib gadis kecil ini. Malam itu masih banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan pada Najwa. Namun, ia Nampak sangat lelah dan mengantuk.
            “Najwa ngantuk. Mau tidur. Mana uangnya?” tanyanya mengakhiri pembicaraan kami yang cukup panjang malam itu. Aku pun memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan padanya. Ia Nampak lebih cerah dari sebelumnya setelah menerima uang dariku namun ia masih enggan untuk tersenyum.
            Aku kembali ke rumah dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya ia mulai terbuka untuk berkenalan denganku. Entah mengapa aku merasa sayang pada gadis kecil itu. Ada sesuatu yang menarik darinya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Beberapa hari setelah perkenalan itu, setiap lewat dijalan itu aku selalu menyempatkan diri untuk menyapa atau sekedar tersenyum pada Najwa. Namun, gadis itu masih juga enggan membagi senyumnya padaku. Sejujurnya Najwa adalah gadis yang sangat manis. Ia punya lensung pipit di pipi kanannya yang mencuat sesekali saat ia bicara. Manisnya anak ini seandainya hari-harinya dipenuhi oleh senyuman.
            Setelah beberapa pekan setelah awal perkenalanku dengan Najwa, aku semakin dekat dengannya. Hingga terungkap satu hal yang membuat hatiku tersentuh dan tak menyangka akan kelembutan hati gadis kecil yang nampak sangat keras dari luarnya ini. Sejak kecil Najwa tak pernah tau siapa orang tuanya dan tak pernah tau dimana ia berasal. Ia ditemukan di tempat sampah depan panti asuhan kala ia berumur 1 hari. Tuhan… orang tua macam apa yang tega membuang anaknya di tempat seperti itu. Hatiku sangat miris mendengar ucapan gadis kecil itu.
            “kata ibu Aisyah, salah satu ibu panti yang baik hati, waktu itu Najwa nangis di tempat sampah. Lucu skali kata Ibu Aisyah, kak Putri.” Anak ini bercerita tanpa rasa dendam sedikitpun dihatinya pada orang tua yang tega membuangnya begitu saja.
Rasanya dadaku teramat sesak medengar cerita-cerita Najwa, hingga butiran-butiran lembut dari kelopak ini keluar dari peraduannya. Kenapa justru aku yang merasa kufur, merasa dunia ini begitu tak adil pada gadis kecil berhati lembut ini.
            “kak putri kok nangis ?” Tanya Najwa. Dengan sigap aku menghapus butiran air mata ini dan tersenyum padanya. Hingga untuk pertama kalinya selama aku mengenal Najwa ia tersenyum padaku. Memperlihatkan barisan-barisan gigi ompongnya.
Tuhan… mengapa justru aku yang merasa begitu lemah ? harusya aku yang menguatkan gadis kecil ini.
Fakta lain yang kutemukan dalam kisah hidup gadis ini ternya Sarah bukanlah adik kandung dari Najwa. Ia mengaku menemukan Sarah tengah menangis karena kehilangan orang tuanya. Ia menemukan Sarah dipinggir pantai Losari saat ia dan teman-temannya sedang mengamen disana.
            “ waktu itu Salah nangis k, Najwa Tanya siapa namanya tapi dia tidak jawab. Dia masih sangat kecil waktu itu. Belum bisa jalan k. najwa nemuin dek Salah dipinggir jalan.”
            “trus kenapa Najwa ga coba nyari orang tua Sarah?”
            “sudah kak. Ada yang ngaku orang tua Sarah tapi Najwa tau dia anak buah Om Parman.”
            “memangnya Om Parman itu siapa?”
            “Om Parman itu, Om Om yang jadi bos pengemis di Pantai. Najwa tidak mau Salah dibawa sama dia. Nanti Salah juga dipukuli kayak Najwa.”
            “memangnya Najwa pernah dipukuli sama Om Parman?”
            “iya. Pernah. Waktu Najwa ikut sama Om Parman. Tapi Najwa kabur lagi. Najwa pernah ditangkap lagi lho kak putri. Sampe Najwa pernah diikat pakai rantai dikaki Najwa. Ini masih ada bekasnya.” Sambung Najwa sambil memperlihatkan kakinya yang terdapat luka seperti luka gores.
Air mata ini semakin deras mengalir. Semakin aku berusa menahannya semakin dadaku terasa sesak. Hidup ini sungguh tak adil. Tak adil bagi Najwa dan Sarah.
Aku memandang wajah Sarah yang tengah lelap.
“Najwa tidak takut malam-malam begini tidur diluar berdua dengan dek Sarah ?”
“sudah biasa kak putri.”
“kenapa Najwa tidak balik saja ke panti asuhan?”
“tidak mau !” ucap Najwa yang tiba-tiba kembali ketus.
“kenapa sayang ? bukannya disana ada Ibu Aisyah yang baik hati.”
“Ibu Aisyah juga jahat. Ibu Aisyah ninggalin Najwa juga. Kata teman-teman Ibu Aisyah pergi ke tempat Tuhan. Ibu Aisyah pergi tapi tidak mengajak Najwa.”
“Ibu panti yang  lain kan ada syg? Apalagi kalau nanti ada orang tua yang mau jadiin Najwa anak mereka.”
“Najwa tidak mau kalau tidak ada Ibu Aisyah. Ibu Norma jahat sama Najwa. Suka pukul Najwa.
“trus dek Sarah bagaimana ? Najwa tega biarin Sarah tidur ditempat seperti ini setiap hari?”
“tidak. Tapi Najwa tidak mau pisah sama Salah” Najwa kembali mengeluarkan nada tinggi hingga air matanya pun tumpah tanpa ia sadari.
Hatiku semakin hancur melihat dua gadis kecil ini. Perjuangan hidup mereka sungguh tidak mudah. Berbeda denganku yang sejak dulu tinggal bersama orang tua dan minta apapun selalu ada. Aku memeluk Najwa erat. Aku tak ingin melepasnya. Ia membalas pelukanku. Ingin rasanya aku membawa mereka pulang dan menjadikan mereka adik-adikku. Tapi bagaimana dengan orang tuaku ? apalagi di Makassar ini aku masih tinggal kost. Masih mengandalkan biaya hidup dari orang tua. Kuliahku saja belum selesai. Tuhan… apa yang bisa kulakukan untuk gadis kecil ini ?

            “Najwa syg, malam ini Najwa mau tidak ikut kak Putri?” ajakku untuk kesekian kalinya berharap ia menerima ajakanku kali ini. Dan alhasil ia mengangguk menandakan iya. Senang rasanya melihat isyarat itu. Aku membawa Najwa dan Sarah ke tempat kost ku, sekitar sepuluh kilometer dari tempat Najwa dan Sarah mengais rezeki. Malam itu adalah malam yang sangat indah untukku, melihat dua gadis kecil yang sangat aku kasihi ini tidur di tempat tidur yang layak. Aku menatap wajah mungil mereka yang tengah terlelap. Ada perasaan haru, senang, bingung, marah atas orang tua yang tega menelantarkan anak mereka seperti ini. Terbersit dalam hatiku, aku ingin segera jadi seorang ibu. Akan kutunjukkan pada dunia, aku akan menjadi ibu yang baik. Ibu yang merawat anak-anaknya dengan segenap jiwa. Aku pun teringat pada tanteku yang memiliki panti Asuhan di salah satu kota kecil tak jauh dari Ibu Kota Makassar. Aku berniat menitipkan Najwa dan Sarah pada tanteku itu. Dengan bersusah payah aku membujuk Najwa untuk mengikuti ajakanku itu. Ia menolak. Sangat keras. Hingga akhirnya aku mengajak Najwa dan Sarah ke tempat itu. Sarah terlihat sangat bahagia dan senang berada disana. Melihat kebahagiaan Sarah itu, akhirnya Najwa memutuskan untuk menerima tawaranku untuk tinggal dipanti itu. Aku berjanji pada Najwa dan Sarah bahwa suatu saat aku akan datang untuk menjemput mereka. Aku janji itu. Suatu saat ketika aku mampu membiaya diriku sendiri. Aku akan menjadikan mereka kakak dari anak-anakku. Hingga senyum yang selalu kurindukan itu akan senantiasa mewarnai istana kecil yang akan kubangun. Iya.. suatu saat nanti. Tunggu aku Najwa…

Cerita Tentang Cerita

Kumulai tulisanku dengan sebuah cerita, bukan tentang diriku atau orang lain. Namun, tentang cerita itu sendiri. Yaa.. sebuah cerita tentang cerita. Segala sesuatu punya ceritanya sendiri. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang punya cerita sama. Ada yang sama tapi sebenarnya tak sama. semua yang ada di dunia ini punya ceritanya masing-masing yang unik dan berbeda. Ada yang cenderung menyama-nyamakan, lebih tepatnya memaksa menyamakan. Namun bukankah sesuatu yang berbeda itu lebih istimewa ?

Tuhan telah mengatur semuanya dengan istimewa. Tuhan telah menuliskan naskah indahnya dan engkau adalah pelakonnya. engkau yang berhak mengimprovisasi ceritamu sendiri. Silahkan mainkan peranmu dengan indah, unik, dan berbeda. Dan Tuhan tak pernah membiarkanmu sendiri. Harta dan tahta tak selamanya bisa diwariskan, namun sebuah cerita dapat diwariskan hingga puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun mendatang tanpa pernah mengurangi makna dalam cerita itu.
Selamat bercerita  dan selamat membaca goresan penaku kawan :)