Selasa, 23 Oktober 2018

Tabiat Karaeng, Daeng na Ata ri Butta Turatea

Penulis : Rizna Kumalasari

Hai guys… Apa kareba?
Pada artikel kali ini, kami akan membahas salah satu budaya yang ada di Butta Turatea (Jeneponto). Kasta merupakan hal yang mutlak dan fundamental dikalangan masyarakat hukum adat yang beregenerasi / turun temurun. Pada dasarnya, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing seperti halnya di kabupaten Jeneponto. Dimana di daerah ini terdapat 3 tingkatan kelas sosial yang dikenal dengan sebutan Karaeng, Daeng dan Ata.
Rekam jejak masa lalu, mereka yang bergelar Karaeng memiliki batasan dalam bersosialisasi dikalangan masyarakat. Contohnya, mereka yang memiliki gelar Karaeng tidak diperbolehkan menikah dengan mereka yang bergelar Daeng terlebih lagi Ata.
Lantas, siapa yang dapat diberi gelar karaeng? Hakikatnya, Karaeng merupakan gelar untuk keturunan bangsawan yang disertai dengan keluhuran budi pekerti. Menurut aturan adat yang disebut “lontarak Bilang” yang berlaku bagi masyarakat Jeneponto, yang berhak diberi gelar Karaeng adalah mantan raja dan turunannya, dengan mengikuti garis turunan Ayah (Sistem Patrilinear), artinya hanya Ayahlah yang dapat mewariskan gelarnya kepada anak-anaknya sedangkan ibu tidak diperbolehkan. Hanya saja, dalam masyarakat banyak yang melanggar aturan ini dan tetap memakai gelar tersebut karena Kareang dalam masyarakat memiliki citra tersendiri. Orang yang seperti inilah yang biasanya terlalu membanggakan gelar Karaengnya padahal sesungguhnya hal tersebut melanggar hukum adat, sehingga mindset orang yang seperti ini akan cenderung merendahkan kasta orang yang ada dibawahnya, dalam hal ini Daeng dan Ata.
Daeng merupakan tingkatan sosial kedua setelah Karaeng. Ada dua makna dari gelar daeng yaitu, pertama gelar Daeng digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua dan merupakan suatu bentuk penghalusan panggilan yang mengandung rasa sopan menghargai serta menghormati orang tersebut. Kedua, Daeng juga bermakna gelar yang diberikan secara turun temurun dan terdapat unsur Do'a di dalam-nya yang berarti suatu julukan serta sifat yang baik dan julukan untuk keberaniannya. Contohnya, pahlawan dari Makassar yang dikenal dengan julukan Ayam Jantan Dari Timur yaitu Sultan Hasanuddin nama daengnya adalah Karaeng Mallombasi Daeng Mattawang. Penyematan paddaengang di belakang nama seseorang, dahulu dilakukan dengan upacara khusus. Namun belakangan seiring perjalanan zaman, paddaengang itu disematkan begitu saja tanpa adanya upacara khusus.
Kasta yang terkahir dikenal dengan sebutan Ata, dimana Ata biasa diartikan sebagai seorang budak. Pada zaman kerajaan Ata merupakan pengabdi seorang raja yang juga bisa disebut pelayan. Ata disini tidak menyandang gelar sebagaimana yang dimiliki karaeng dan daeng dimana mereka hanya memiliki satu nama saja. Seiring perkembangan zaman dan perubahan pola pikir masyarakat, sebagian besar mereka (ata) tidak ingin lagi dikatakan sebagai seorang budak sehingga mereka menyematkan nama pa’daengang untuk dirinya dan berlanjut ke generasi berikutnya.
Sejatinya, gelar tidak menentukan kebahagiaan seseorang melainkan kembali kepada bagaimana mereka mengukir arti kebahagiaan yang sesungguhnya. “The point is you should respect to all of people without look at their social level”.

Selasa, 10 Januari 2017

Cerpenku: Sepatu Merah

SEPATU MERAH

Pernahkah kau benar-benar merasa kehilangan dalam hidupmu? 
Kehilangan seseorang yang telah memberi kesan tak ternilai bagimu, tetapi ia bukan orangtua,
saudara, pasangan atau pun anakmu. Dia adalah orang asing.
Demikian yang kurasakan saat ini. Ketika ia tiba-tiba menghilang tepat tiga tahun yang lalu. Hari dimana aku berhasil memakai jubah kelulusan Harvard University. Impian hampir semua anak muda. Hari itu seharusnya aku bahagia, tetapi justru menjadi hari pertama aku merasakan kehilangan yang teramat mendalam. Begitu menyayat hati setiap kali mengingat orang itu.

International Logan Airport. Boston, November 2009.
Kubiarkan mataku menyapu bersih seluruh kesibukan bandara, sementara otakku sibuk memikirkan jalan mana yang akan kupilih untuk tiba di salah satu flat murah di daerah 293 North Brattle Street Cambridge. Aku sama seperti orang Indonesia pada umumnya yang baru pertama kali keluar negeri, terlebih ke negara Adidaya di dunia. Rasa kagum, bahagia, tidak percaya sekaligus khawatir memenuhi pikiranku. Tapi selalu kuingat pesan Bapak, “Di manapun kau berada, jangan merasa takut. Jangan pernah risau, karena tempat itu tetaplah bumi Allah. Selagi kau mengingatnya, maka Ia akan selalu mengiringimu.”
Mr.Richard yang seharusnya menjemputku tiba-tiba mengabarkan via email bahwa ia tidak bisa datang karena ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditunda. Sebagai gantinya, ia mengirimkan informasi tentang semua jalur dan alat transportasi umum yang bisa kugunakan untuk tiba di flat. Aku meneguhkan hati sekali lagi. Bismillah! Pilihanku tertuju pada taksi, tentu saja. Meskipun mahal, tetapi lebih baik dari pada aku tersesat di jalan. Lagi pula kata Mr.Richard, hanya butuh 30 menit jika menggunakan taksi. Sepertinya aku harus berhemat di hari pertamaku tiba di Amerika.
Kakiku hendak melangkah dari terminal E bagian kedatangan, ketika tiba-tiba sepasang kaki dengan sepatu berwarna merah berdiri tepat dihadapanku.

“Indonesia?”

Aku mendongak untuk melihat wajah pemilik kaki itu. Seketika seulas senyum menyambutku dan kubalas dengan senyum yang tak kalah ramah. Sosoknya tampak begitu ganjil berada di tengah puluhan manusia berambut pirang dengan bola mata warna-warni yang sedang lalu lalang. Ia berambut hitam sepertiku dan warna matanya cokelat.

“Iya, mas juga orang Indonesia?”

            “Tepat! Perkenalkan nama saya Habiburrahman, panggil saja Bang Bib.” Tiba-tiba tubuhku terasa diguyur air segar. Begitu bahagia melihat saudara setanah air di negeri asing ini.

“Saya Khiar Ghani, boleh panggil Khiar atau Ghani,” sahutku sambil mengulurkan tangan.
“Pilihan terbaik.”

  “Ya?” Keningku mengerut, tanda tidak mengerti.

            “Khiar artinya pilihan terbaik. Tapi saya lebih suka menyebut Ghani.” Ia menjabat tanganku erat-erat seperti kawan lama yang baru bertemu setelah bertahun-tahun.
“Dari tadi saya melihat kamu seperti orang kebingungan di sini. Mahasiswa ya? Baru tiba? Belum ada yang menjemput?”
“Iya Bang. Orang yang seharusnya menjemput, tidak bisa datang karena ada kepentingan lain.”
Ia mengangguk sejenak, “Baiklah, mari saya antar. Kamu ke arah mana?”
Mataku melebar mendengar tawaran itu. “Di daerah 293 North Brattle Street Cambridge. Tapi saya tidak mau merepotkan Bang,” kataku, sungkan.
“Santai saja. Saya juga mau ke wilayah itu.”
Pertolongan Allah memang selalu datang dari arah yang tidak terduga, Ia menghadirkan seseorang yang bisa menjadi saudara di negeri asing ini. Selama perjalanan menuju Cambridge, kami bercakap-cakap panjang lebar. Tepatnya Bang Bib yang lebih banyak bercerita. Ia tiba di Amerika dua tahun yang lalu, setelah kakeknya meninggal. Ia berdarah Medan-Jawa. Ayahnya orang Medan dan Ibunya dari Yogyakarta, tetapi ia dan kakeknya tinggal di Bogor setelah orangtuanya meninggal saat ia masih berumur 8 tahun.
Ia memiliki beberapa pekerjaan. Hari senin sampai kamis, ia bekerja di sebuah bengkel otomotif dari pagi hingga sore, sedangkan hari jumat hingga minggu bekerja sebagai supir di salah satu perusahaan travel. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pegawai binatu dan office boy di malam hari. Ketika kutanya bagaimana ia mengatur waktu, ia hanya berkata, “ Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal; Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan. Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja. Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya. Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak. Ini pesan Rasulullah, saya hanya berusaha memanfaatkan semua anugerah itu dengan baik.”
Sejak hari itu, aku tahu bahwa ia bukan pemuda biasa. Umurnya masih 24 tahun, lima tahun lebih tua dariku. Tetapi pola pikir dan tindakannya sangat bijaksana.

Jakarta, Juli 2016.
Aku menarik napas panjang. Kitab Al-Hikam yang semestinya kubaca, justru menatapku memohon perhatian. Mataku sedari tadi hanya mengerjap-ngerjap kosong dengan pikiran yang kini berada di tahun 2010. 

Museum of Science. Boston, Januari 2010.
Waktu telah memasuki jadwal shalat duhur. Namun, jangan berharap di tempat ini ada mushallah apalagi masjid. Mendengar suara adzan saja merupakan keajaiban. Itu salah satu hal yang membuatku merindukan Indonesia. Negara dengan sejuta masjid.
Aku bergegas ke toilet untuk berwudhu. Selanjutnya menyempil untuk mencari ruangan yang bisa dijadikan tempat shalat. Namun ternyata tidak semudah yang kupikirkan. Aku telah berkeliling museum untuk mencari tempat yang tepat. Ketika hendak kugelar sajadah lipat yang selalu kubawa kemana-mana, seorang petugas museum menegur, “What are you doing, Boy? Sorry, this is public place, be a distraction if you stand here.”

Akhirnya kulipat kembali sajadahku dan berniat keluar dari museum untuk mencari tempat shalat. Padahal aku baru menjelajah seperempat isi museum. 
Saat aku hendak keluar, mataku menangkap sepatu merah yang tidak asing di salah satu
pojokan kecil yang sedikit tersembunyi. Aku mengenali sepatu itu. Iya, aku tahu pemiliknya.
Aku mendekat ke pojokan dan kulihat seorang pemuda tengah khusyuk sujud menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Sang Pemilik Semesta. Wajahnya teduh dan menenangkan. Beberapa pengunjung
museum terhenti sejenak mengamati orang itu. 
Setelah salam keduanya selesai dan berzikir sebentar, ia berbalik dan tersenyum ketika melihatku
berdiri dihadapannya.
“Assalamu Alaikum, Bang.” Sapaku dengan wajah tak kalah bahagia.
“Wa’alaikum Salam, Ghani. Adik Abang.” Ia bangkit dan memelukku erat. Inilah salah satu kebahagiaan menemukan saudara seiman.
“Abang kerja di sini?” Aku menilik seragam yang ia kenakan.
“Iya, biasanya Abang ke sini saat malam hari. Tapi hari ini travel tempat Abang kerja sedang sepi, jadi Abang bisa pulang lebih cepat.”
Aku mengangguk-angguk, “Oh.. Bang, boleh saya numpang shalat di sini? Dari tadi saya tidak menemukan tempat untuk shalat.”
“Silakan, pakai saja. Abang juga mau lanjut kerja. Nanti kamu jangan pulang dulu ya? Kita makan malam bersama. Tenang saja, Abang yang traktir.”
“Siap Bang! Kalau ada gratisan, pasti ada Ghani.” Sahutku bersemangat.
Ia bekerja sebagai office boy dengan gaji 12 dollar per jam. Namun, ia tidak pernah megeluh dan mensyukuri semua yang diperolehnya.
“Kalau boleh tahu, kenapa Abang sampai bekerja keras seperti ini?” Tanyaku saat makan malam di sekitar Charles River.
“Abang ingin berkunjung ke suatu tempat. Jadi harus menabung.” Matanya menyiratkan kekuatan besar yang tersembunyi.
“Kemana Bang?” Tanyaku kembali.
“Ke tempat yang hampir semua muslim ingin mengunjunginya. Salah satu tempat terbaik untuk menutup lembaran hidup di bumi Allah. Tempat dimana keinginan untuk mengunjunginya sebesar ragu dan takut yang tersembunyi.” Aku mengernyitkan kening. Memangnya ada tempat seperti itu?
“Sudahlah, habiskan saja makananmu. Mumpung gratis. Abang tahu betul watak mahasiswa beasiswa sepertimu. Pemuja kata gratis.” Aku tersenyum lebar mendengar kalimatnya.
Itu pertemuan kedua kami. Sekaligus pintu pembuka pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Kadang ia mengunjungiku dengan membawa berbagai macam makanan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan selama seminggu ke depan. Kadang pula aku yang mengunjunginya demi mendengarkan
cerita-ceritanya. Selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersamanya. Kami berbagi cerita tentang
banyak hal. Meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi, ilmu dan pemahaman yang ia miliki jauh lebih
luas di banding kebanyakan mahasiswa.
Bahkan ide tugas akhirku di kampus juga kudiskusikan dengannya. Ilmu tentang hukum bagi penggiat
shadow economy di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan,
Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya. Penjelasan tentang shadow economy memang cenderung
ditutup-tutupi keberadaannya. Namun, Abang ini berhasil membuka pikiranku dan mengetuk rasa ingin
tahuku tentang keberadaannya.Aku lulus dari Harvard University dengan predikat cumlaude. 

Boston, Juli 2013.
Sehari sebelum wisuda, kudatangi Bang Bib ke apartemennya untuk mengingatkan kembali agar ia datang ke acara wisudaku. Orangtuaku tidak bisa hadir dan ia kudaulat sebagai wakil keluarga. Aku sangat ingin membuatnya bangga hari itu. Namun, justru yang kudapatkan adalah kecewa dan penyesalan. Kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal?
Sikapnya sedikit aneh hari itu. Ia menatapku dengan senyum bahagia dan berulang kali mengatakan bangga padaku. “Kamu adalah salah satu harta agama dan bangsa yang tak ternilai. Kamu selalu mempertahankan akidah yang menyatu dalam darahmu bahkan di negara yang menganut kebebasan ini. Tidak semua pemuda bisa lulus ujian macam itu. Lulus di kampus besar dengan predikat cumlaude memang memuaskan, tapi lulus dari ujian-Nya dengan predikat muslim sejati merupakan kepuasaan tak ternilai. Abang bangga! Abang sungguh-sungguh bangga padamu.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, “Semua ini juga berkat dukungan dan bantuan Abang selama ini. Terima kasih, Bang.” Aku memeluknya dengan perasaan haru dan bahagia. Tak kusangka bisa menemukan seorang kakak sepertinya, disaat aku merasa sendirian di kota ini. Aku memberikan sebuah hadiah berupa sepatu pantofel hitam agar bisa dikenakannya besok saat menghadiri wisudaku. Hadiah itu hasil dari tabunganku selama tiga bulan terakhir. Ia menerimanya dengan senang hati.
“Abang ingin menceritakan satu kisah kepadamu,” Aku mengangguk takzim dan mengatur posisi duduk. Tak pernah bosan rasanya mendengar cerita-cerita inspiratif darinya. Kadang aku merasa kebahagiaan masa kecilku kembali, saat Ustad Mansyur guru mengajiku dulu selalu menceritakan kisah-kisah nabi dan rasul, serta para sahabat dan kisah pejuang islam lainnya.
“Kau tahu dik kenapa abang selalu memakai sepatu merah ini?” Aku menggeleng pelan.
Ia tersenyum, “Meskipun sepatu ini sudah lusuh, terlihat kuno, beberapa kali sobek dan dijahit kembali, juga kelihatan sangat tidak layak untuk dipakai, sepatu ini memiliki filosofi.”
Aku semakin khidmat mendengarkan, “Sepatu ini milik kakekku yang meninggal enam tahun lalu. Ia memberikan sepatu ini tiga hari sebelum ia pergi untuk selamanya. Sepatu ini dipakainya saat ia seusiamu. Sengaja disimpan sebagai salah satu bukti perjuangannya.” Bang Bib menarik napas panjang lantas melanjutkan, “Dulu ia mengenakan sepatu ini saat masih nyantri di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sepatu ini menemaninya melawan pemberontak komunis 30 September 1965 saat mereka menyerang pesantren itu. Kiai yang begitu ia hormati jadi korban kekejaman dan fitnah orang-orang itu. Tapi kakek dan santri-santri lainnya tidak gentar dan mundur selangkah pun. Mereka terus bertahan dan melawan, hingga akhirnya berhasil menyelamatkan pesantren. Kisah itu selalu menginspirasiku. Setiap kali kakek menceritakan bagaimana perjuangan santri-santri itu, aku seperti bisa merasakan keberaniannya. Bagaimana keteguhan hati mereka yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi akidah yang mereka percaya dan demi saudara-saudara seiman. Aku selalu merasa iri dan berharap suatu saat bisa memberikan pengorbanan sebesar itu untuk agama ini.” Kulihat mata Bang Bib berkaca-kaca dan kekuatan hebat terpancar di dalamnya. Sebelum tetesan itu menyembur dari pelupuk, ia memejamkan mata kuat-kuat dan memandang ke arahku sambil tersenyum.
“Abang jadi terbawa suasana. Selalu menyenangkan mendengar cerita kakek. Kalau saja beliau masih hidup, Abang sangat ingin mengenalkannya padamu,” lanjutnya.
“Keteguhan dan semangat beliau sudah tertular padaku lewat Abang.”
“Aku tidak sempat merasakan nikmatnya ilmu hingga ke jenjangmu, dik. Tapi ada satu pesan kakek lagi yang ingin kusampaikan padamu.”
Aku mendengarkan pesan itu dengan hati tertusuk hingga merasa ilmu duniaku, Harvard, gelar bergengsi yang kudapat sebagai Alumni kampus terbaik di dunia tidak artinya. 
Bang Bib memelukku erat-erat sekali lagi ketika aku berpamitan. Tanpa kusadari, itulah hari terakhir aku melihatnya.

Jakarta, November 2016.
Kutandai halaman terakhir yang kubaca dengan pita pembatas berwarna hijau lantas
kureggangkan sedikit kaki dan tangan yang kaku setelah beberapa jam khidmat membaca
sekaligus dengan pikiran tentang Bang Bib. Aku merindukan saudaraku itu.
Kunyalakan televisi untuk menonton sedikit berita. Innalillah… berita tentang bom yang
lagi-lagi meledak di tanah Pakistan. Zionis tanpa hati nurani kembali membombardir wilayah
itu setelah gencatan senjata selama tiga hari.
Siaran langsung dari lokasi kejadian. Seorang reporter berseragam serba hitam melaporkan
langsung dari lokasi. Kamera menyorot puing-puing gedung yang berserakan di belakangnya
lantas bergeser menuju kepulan asap di kejauhan. Namun, tiba-tiba sebuah bom mendarat
tak jauh dari posisi sang reporter, membuat kamera yang sedari tadi merekam kejadian sekitar
seperti kehilangan arah. Suara jeritan dan dzikir “Alluhu Akbar” menggema dan layar seketika
abu-abu. 
Kembali ke studio di Jakarta. Presenter berita di televisi terlihat panik dan cukup kaget melihat
apa yang barusan sama-sama kami saksikan. Mereka kehilangan kontak dengan sang reporter.
Aku ikut khawatir menunggu kelanjutan berita dan kabar sang reporter serta warga yang berada
di sekitar lokasi.
“Baik pemirsa, kami kembali terhubung dengan saudara Zaki langsung dari Palestina.
Saudara Zaki, bagaimana kondisi di sana? Apakah ada korban terluka?” Lanjut presenter di televisi.
Kamera mula-mula menyorot tanah yang dipenuh reruntuhan bangunan, kepulan asap masih terlihat
di kejauhan. Sepertinya mereka bergeser ke tempat yang lebih aman. Saat itulah, saat kamera masih
mencari spot terbaik untuk ditampilkan dan saat sang reporter memulai laporannya, tiba-tiba kamera
menangkap sesuatu yang membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Kamera itu menangkap
dua pasang kaki dengan sepatu merah yang sangat aku kenali. Aku menatap layar kaca dengan mata
melebar dan tangan gemetaran. Kamera perlahan ke atas dan menyorot sang reporter, juga seseorang.
Orang itu… Orang itu… “Bang Bib”. 
Bibirku keluh mengucap nama itu. Sosoknya kini muncul di samping sang reporter dan menjawab
beberapa pertanyaan yang diajukan. Wajahnya masih sama. Wajah teduh dengan gurat tegas yang menenangkan.
Mata cokelatnya memancarkan kekuatan besar yang berakar dari hati yang tak kalah kuat.
Sekarang aku paham tempat yang selalu ingin dikunjunginya. Tempat yang juga ingin dikunjungi semua
umat muslim di dunia namun penuh ragu dan rasa takut. Tempat terbaik untuk menutup lembar kehidupan.
Kini ia menuntaskan janjinya. Janji setia pada agama yang dijunjungnya. Mengorbankan jiwa dan raga demi
melindungi saudara seiman dan masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah, sang pemimpin umat.
Aku yang tadi refleks berdiri, kini terkulai lemas di kursi dan menarik napas panjang. Aku menemukannya.
Saudaraku yang kurindukan. Seketika kuingat pesan terakhir kakeknya yang meyakinkanku untuk kembali ke Indonesia,
“Ilmu dunia bisa menyelamatkanmu untuk tetap hidup. Namun lebih dari itu, ilmu agama akan menyelamatkanmu
untuk hidup dengan sebenar-benarnya kehidupan. Jangan tinggalkan keduanya. Namun, jika terpaksa harus memilih,
pilihlah ilmu agama.”

Selasa, 16 Agustus 2016

Cerpenku: Lautan Mimpi

LAUTAN MIMPI

Apakah kau percaya bahwa dengan kebaikan, kesugguhan dan kejujuran sebuah mimpi besar dapat tercapai? Mungkin kau akan tertawa dan menganggap ini sebagai lelucon. Tapi aku percaya, bahkan sangat percaya. Akan kuceritakan padamu sebuah kisah yang mungkin akan membuatmu semakin tertawa. Tetapi sebelum kuceritakan, terlebih dahulu tanamkanlah dalam dirimu kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.
Ini hanya satu kisah tentang seorang anak yang percaya pada kekuatan mimpi. Ia lahir dengan mimpi menjadi pemain sepak bola dunia. Sebuah mimpi yang mustahil untuk seorang anak kampung yang tinggal di pesisir pantai Sabang. Tepat di kilometer nol Indonesia. Semakin mustahil lagi karena ia lahir dengan kaki yang tidak simetris. Kaki sebelah kirinya lebih pendek beberapa centimeter dibanding kaki sebelah kanannya. Hanya satu orang di dunia ini yang percaya bahwa ia bisa menjadi pemain sepak bola dunia. Sang ayah, Tengku Majid.  Seorang nelayan miskin yang sehari-hari bekerja di tengah lautan. Ah, bagaimana pula seseorang yang bahkan tak pernah menginjakkan kaki ke lapangan sepak bola mampu melatih seorang anak bermain sepak bola? Namun sang ayah lah yang selalu menanamkan keyakinan dan menumbuhkannya menjadi bunga semangat yang tak pernah kuncup.
Tengku Majid melaut setiap malam hari saat angin laut sedang bersahabat dan pulang ketika matahari mulai menunjukkan pesonanya. Setelah itu, ia dibantu sang istri menjualkan hasil tangkapannya ke pasar. Sore hari, barulah ia mengajak sang anak ke tepi pantai untuk berlatih sepak bola.
“Bapak, kaki abang sakit pakai bola ini” ia menunjukkan kaki merahnya karena seharian menendang bola yang terbuat dari batok kelapa yang dengan dibentuk sedemikian rupa menyerupai bola.
“Sabar sedikit lagi nak, minggu depan ayah belikan kau bola” Amar kecil hanya mengangguk dengan cahaya harapan dimatanya.
            Sambil menyaksikan hebatnya matahari terbenam di lautan Aceh, Tengku Majid merentangkan kakinya diatas pasir putih yang lembut. Disampingnya sang anak ikut duduk menatap kagum pada pemandangan istimewa dihadapannya. Hanya sekian detik matahari sempurna tergelincir ke tempat persembunyiannya.
            “Amar anakku, bisa kau lihat ujung lautan ini? Bapak harap mimpimu akan seluas lautan, tanpa ujung, tanpa batasan. Suatu hari kau akan berlayar dari sudut-sudut dunia untuk memperjuangkan mimpi-mimpimu dan bapak orang pertama yang percaya bahwa kau bisa meraihnya. Milikilah kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.” Amar kecil khidmat mendengarkan nasihat sang ayah. Ombak dihadapan mereka menjadi saksi kuatnya mimpi seorang anak pesisir. Lautan mimpi yang tak akan goyah meski menghantam dinding karang sekuat baja.
            Amar kecil berlatih setiap hari dengan penuh keyakinan. Ia tak peduli pada ejekan teman-temannya yang terus berusaha mematahkan semangatnya. “Jalan saja susah, bagaimana mau jadi pemain sepak bola? Jangan mimpi kau mar”
            Kalimat-kalimat ejekan itu justru menjadi suntikan semangat bagi Amar dan membuatnya semakin giat berlatih. Ketika Amar berusia 12 tahun Tengku Majid mengajaknya menonton pertandingan sepak bola tingkat propinsi di kota Banda Aceh. Dengan menumpang perahu kayu milik tetangga yang juga ingin menyaksikan pertandingan itu, berangkatlah mereka ke ibu kota propinsi. Amar begitu terpesona menyaksikan gerakan lincah kaki-kaki pemain lapangan itu. Semangat dalam dirinya kian terbakar hingga ia pun semakin semangat berlatih.
            Dua tahun kemudian, tim sepak bola propinsi sedang mencari pemain junior. Berangkatlah Amar dengan restu dari ibu dan bapaknya. Bocah kampung merantau ke kota untuk mengejar mimpi. Kalimat ini sepertinya sering terdengar. Beberapa berhasil dan beberapa terpaksa pulang menghabiskan sisa usia di kampung halaman. Tetapi Amar ingin memperjuangkan mimpi-mimpinya.
            Di kota ia menumpang pada tetangganya yang sedang merantau mencari pekerjaan. Uang tabungannya bertahun-tahun dan bekal dari sang ayah tidak cukup untuk menyewa sebuah tempat tinggal.
            Pada hari seleksi tanpa perlu mengikuti tes di lapangan, ia langsung dinyatakan gugur. Panitia seleksi tidak bisa menerimanya dengan dalih kakinya yang tidak simetris. Amar merasa dunianya akan berakhir, tapi tak mungkin ia pulang ke kampung halaman dan menyerah. Petuah-petuah sang ayah terus terngiang dalam hati dan pikirannya. Ia akan melakukan apapun untuk meraih impiannya. Amar pun menawarkan diri menjadi petugas kebersihan di klub sepak bola itu. Setidaknya ia bisa menyaksikan orang-orang yang berlatih dan melihat megahnya lapangan sepak bola yang tidak pernah ada di kampungnya.
            Hanya dengan melihat lapangan sepak bola setiap hari, sudah mampu menumbuhkan semangatnya. Ia pun diizinkan menempati gudang tempat peralatan sepak bola tua yang sudah tidak terpakai. Setiap malam setelah semua pekerjaannya selesai dan latihan klub juga telah selesai, ditemani pak Samid yang juga bekerja disana, ia bertugas menyimpan alat-alat yang telah digunakan untuk latihan. Kesempatan itu tak dilewatkan Amar untuk berlatih. Selama 10-15 menit ia bermain sendiri di tengah lapangan. Menggiring bola menuju gawang dengan sangat piawai. Merasakan euphoria bermain sungguhan dalam sebuah pertandingan megah.
            “Seharusnya kau menjadi pemain di klub ini nak, bukan petugas kebersihan. Kau bahkan lebih berbakat dari orang-orang yang ada disini”
            “Nasib berkata lain pak. Tapi Amar tidak akan menyerah seperti kata bapak, miliki kebaikan, kesungguhan dan kejujuran”
            Hingga suatu malam saat Amar sedang berlatih sendirian, seorang pelatih klub melihatnya dan sangat terpukau dengan gerakan lincah kaki-kaki Amar menggiring bola. Sang pelatih berjalan ke pinggir lapangan, hendak melihat permainan Amar lebih dekat. Amar segera menghentikan permainannya dan meminta maaf karena telah menggunakan peralatan tanpa izin.
            “Saya pikir kamu salah satu pemain klub ini. Siapa namamu? Boleh sekali lagi saya melihat permainan sepak bolamu tadi?” Sang pelatih merasa sangat terpesona dengan permainan Amar hingga akhirnya Amar diajak bergabung dalam klub. Awalnya sebagai pemain cadangan, kemudian menjadi pemain utama. Karir sepak bola Amar semakin bersinar hingga pada tahun kedua ia berhasil membawa timnya kebabak final sepak bola Nasional. Ia sangat menjujung tinggi kejujuran dalam bermain. Beberapa kali ia mendapat tawaran berlaku curang oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Namun ia selalu teringat petuah yang disampaikan ayahnya. Karir Amar terus menanjak hingga saat ini ia telah resmi menjadi pemain Tim sepak bola Nasional. Mimpinya menjadi pemain dunia semakin dekat.
            Kau tahu, kenapa aku tahu persis kisah si Amar? Sebab inilah aku, Amar bin Majid yang akan segera mambawa nama bangsa dikancah dunia. Mimpiku menjadi pemain sepak bola dunia selangkah lagi akan terwujud melalui kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.



Cerpenku : Senjata Terhebat

SENJATA TERHEBAT

Palembang, 15 Joeli 1945.

Teroentoek Adinda Saritje Terkasih.

"Abang boekan bermaksoed meninggalkan Adinda tanpa berkabar, hanja sahadja ada sesuatoe oeroesan jang sangatlah penting dan mendesak jang haroes Abang lakoekan demi tanah air kita."

Penoeh Kasih
Abangda Joesoef.

    Surat singkat dari sang pujaan hati cukup membuat Sarice terganggu batin dan pikirannya selama tiga hari tiga malam. Pantas saja, karena diluar sana perlawanan sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh pejuang pribumi dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan bangsa. Yusuf merupakan salah satu pejuang yang berdiri kokoh dibarisan terdepan, gagah berani siap mengorbankan jiwa dan raga demi kata “Merdeka”.
       Sudah tiga hari Yusuf pergi tanpa kabar, kecuali surat lusuh yang dititipkannya pada Pak Sulaeman yang kebetulan akan mengantar sembako ke kampung Sarice. Sarice sendiri sibuk mengabdikan diri sebagai guru tidak resmi bagi anak-anak di kampungnya. Beruntung ia sebagai salah satu warga pribumi yang masih sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat.
     Sarice ingin sekali membalas dan menanyakan kabar sang pujaan hati yang telah berjanji akan menikahinya setelah ikrar kemerdekaan dikumandangkan ke seluruh pelosok negeri. Hanya saja ia tak tahu hendak mengirimkan kemana surat-surat yang telah ia tulis. Pak Sulaeman pun tak pernah lagi berjumpa atau sekedar melihat batang hidung Yusuf.
Hari berganti dan terus berlalu, kampung Sarice yang awalnya aman dan menjadi tempat persembunyian warga pribumi yang masih tersisa dari tawanan kompeni kini mulai terdesak. Pemudah-pemuda kampung sebagian besarnya menghilang entah kemana. Ada yang mengatakan bahwa mereka telah menjadi tawanan Belanda dan dikurung di lubang bawah tanah tanpa cahaya, ada yang mengatakan mereka dijadikan pekerja romusa di pulau seberang, ada pula yang mengatakan mereka telah di bunuh dan dikuburkan diam-diam di tengah hutan Sumatera. Ah, memikirkan itu saja sudah membuat lutut Sarice lemas dan berat. Ia hanya mampu meratap dan menangis pilu akan keadaan kekasihnya yang entah seperti apa saat ini.
     Satu minggu suram kembali berlalu tanpa kabar, pihak Kompeni telah menguasai tiga per empat bagian dari perkampungan Sarice. Sekolah diam-diam yang didirikan Sarice dan warga kampung pun harus ditutup karena saungnya telah dirubuhkan dan dibakar penjajah.

“Perdomze.. Untuk apalah kalian warga pribumi sekolah? Tak ada guna!”

     Sementara itu di suatu tempat dalam hutan larangan, Yusuf dan pemuda-pemuda pribumi yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang sedang menyiapkan rencana penyerangan, menunggu arahan dari pimpinan pusat di ibu kota. Mereka menyiapkan segala macam benda yang bisa dijadikan senjata. Bambu runcing, busur dan anak panah dari kayu, senapan-senapan dan bom yang dibawa oleh pengawal kompeni berdarah pribumi yang berkhianat pada tuannya. Mereka menyelundupkan berbagai macam senjata pada dini hari ketika semua pengawal kelelahan setelah bertugas seharian.
   Yusuf bertugas sebagai pimpinan pasukan, usianya masih tergolong muda untuk dipercaya sebagai pemimpin, namun pembawaannya yang tenang dan bijaksana membuat ia disegani dan didengarkan bahkan oleh orang yang jauh lebih tua darinya. Tepat tanggal 1 Agustus 1945, berhembus kabar dari ibu kota bahwa Indonesia akan segera mengumandangkan Proklamasi kemerdekan. Darah Yusuf dan pejuang-pejuang pribumi semakin terbakar dan bergejolak untuk segera melakukan perlawanan.

“Bagaimana kalau malam ini saja kita melakukan perlawanan, Abangda?” Sahril salah seorang pemuda yang sudah nyaris kehilangan kesabaran setelah berlatih berminggu-minggu menawarkan pilihan pada Yusuf.

“Jangan… tenangkan diri kalian, akan banyak warga tak berdosa yang berguguran jika kita gegabah. Kita harus cermat dan menunggu informasi dari pimpinan pusat”

“Tapi Abangda, kami sudah siap. Kami sanggup mempertaruhkan jiwa dan raga kami demi bangsa ini. Merdekaaa!!!!” Mansur ikut menambahi.

“Merdekaaaaa!!!!” Sorakan kemerdekaan menggantung dilangit-langit hutan.

       Namun hal yang jauh diluar dugaan mereka terjadi tepat pada malam tanggal 7 Agustus tahun 1945. Pihak Kompeni mengetahui persekongkolan warga pribumi dan menyerang Yusuf serta pasukannya disaat yang tak terduga. Puluhan pasukan penjajah dengan persenjataan lengkap dan truk-truk raksasa menyerang lokasi perkumpulan Yusuf. Peperangan sengit pun terjadi. Pimpinan pasukan kompeni berada dibarisan depan, bergerak mengeluarkan senapan dari sarungnya. Mengarahkan senapan ke segala arah. Yusuf sedang melawan dua penajajah sekaligus dari jarak dekat. Yusuf menghunuskan pedang panjangnya ke arah lawan disisi kanan, tepat mengenai dada sang lawan sedangkan serangan lawan dari sisi kiri berhasil mengenai perut Yusuf. Beruntung lawannya tidak menggunakan senjata apapun. Hanya rasa nyeri akibat pukulan keras yang dirasakan Yusuf. Ia kembali mengayunkan pedangnya ke arah kiri dan dalam hitungan detik lawannya berhasil dirubuhkan ke tanah. Namun, dalam detik itu pula pimpinan Kompeni telah menarik pelatuk pada senapannya ke arah Yusuf. Yusuf tak sanggup bergerak menghidari peluru yang mengarah tepat ke jantungnya. Saat itulah, saat harapan seakan telah sampai pada puncak dan saat Yusuf merasa perjuangannya akan berakhir malam ini, Mansur tiba-tiba datang entah dari mana, ia berdiri tepat di hadapan Yusuf menghalangi peluru yang mengarah ke Yusuf dengan tubuhnya. Seketika itu juga Mansur jatuh dengan peluru bersarang dikepalanya. Yusuf yang melihat kejadian itu tak mampu berbuat apapun karena serangan penjajah terus mengarah kepadanya. Ia berusaha menghidar, menangkis dan melepaskan hunusan pedang lewat perang jarak dekat.
      Ketika matahari mulai merangkak naik, Yusuf memberikan instruksi pada pasukannya untuk bergerak mundur. Mereka tidak akan sanggup melawan penjajah yang terus berdatangan bak air bah, tak ada habis-habisnya. Pejuang yang tersisa hanya tinggal separuh dari jumlah awal. Mereka mengamankan diri dalam lubang persembunyian di tengah hutan yang mereka buat tempo hari sebagai persiapan kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Apa kubilang Abangda, sebaiknya kita menyerang malam itu. Kalau Abangda mendengarkan saran saya, Mansur dan pejuang-pejuang lain tidak akan mati” Sahril mengajukan protes atas apa yang telah terjadi.

        Yusuf yang mendengar kalimat Sahril hanya tertunduk dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Ia pun merasa menyesal tapi jika saja malam itu mereka melakukan perlawanan lebih dahulu, akan lebih banyak korban yang berjatuhan dari pihak pejuang.
“Sabar Sahril, kita dengarkan keputusan Yusuf. Bagaimanapun juga kita telah bersepakat untuk mengangkat Yusuf sebagai pimpinan kita. Hargai itu! Kita harus tetap berjuang hingga darah habis dari tubuh kita” Salah seorang pejuang ikut bersuara.
        Yusuf semakin menyesali apa yang telah menimpa pasukannya, namun ia tidak boleh lemah. Ia harus kuat. Arah perjuangan ada ditangannya dan ia masih memiliki janji pada Sarice sang kekasih yang harus ia tepati. Beban dalam hatinya semakin berkecamuk, darahnya kembali mendidih membayangkan sang kekasih dan rakyat Indonesia mengumandangkan kemerdekaan tanpa tekanan.

“Kita akan mengatur strategi baru. Jumlah tidaklah menentukan kekuatan. Yang terpenting adalah kita memiliki hati yang kuat, jiwa yang kokoh dan semangat yang membara demi bangsa dan tanah air kita. Kita mungkin tidak memiliki senapan dan tank hebat seperti mereka, namun kita memiliki senjata terhebat yaitu HATI YANG KOKOH. Sebab hati yang kokoh akan menguatkan jiwa yang lemah dan tubuh yang tidak berdaya. Kemerdekaan sudah di depan mata, pimpinan-pimpinan yang ada di kota telah mengambil keputusan mutlak, bulan ini juga kita harus merdeka, bangsa Indonesia harus MERDEKA!” Yusuf membakar semangat pasukan-pasukannya yang diiringi teriakan merdeka tanpa memedulikan tubuh-tubuh mereka yang penuh luka akibat perang semalam.
       Disisi lain, Sarice mendengar penyerangan yang terjadi di tengah hutan yang melibatkan banyak pejuang pribumi berguguran. Ia berharap tidak ada Yusuf diantara pejuang-pejuang itu. Sarice pun diam-diam masih mengajarkan baca tulis pada anak-anak di kampungnya.

“Meskipun fisik kita terjajah namun hati dan pikiran kita tidak boleh ikut terjajah. Pikiran kita berhak merdeka. Merdeka atas ilmu yang mahaluas demi masa depan bangsa kita” Kalimat itu yang selalu ditanamkan Sarice pada murid-muridnya.
10 Agustus 1945. Kabar yang ditunggu-tunggu Sarice akhirnya tiba. Kabar dari sang pujaan hati.

Jang Abangda sajangi, Adinda Saritje…
Abangda disini baik-baik sadja, semoga adinda poen demikian. Djangan khawatirkan Abang. Abang akan baik-baik sadja dan memenoehi djandji Abang oentoek memberikan kemerdekaan dan tjinta pada Adinda.

Penoeh Kasih
Abangda Joesoef.

    Sesaat setelah kabar bahagia menyelimuti jiwa Sarice, para penjajah berhasil mengepung seluruh isi kampung. Warga kampung yang anak-anak dan perempuan dibawa paksa dan ditahan dalam penjara bawah tanah milik penjajah, termasuk Sarice. Sedangkan yang laki-laki sebagian besar dibunuh dan sebagiannya lagi ikut dipenjarakan. Kabar penyerangan itu terdengar sampai ketelinga Yusuf dan pejuang-pejuang pribumi. Yusuf hanya mampu berdoa dan berharap agar Sarice dan warga kampung dalam keadaan baik. Ia pun telah mendapat kabar bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera dikumandangkan dalam waktu dekat. Persiapan yang dilakukan Yusuf dan pasukannya juga semakin matang. Banyak pemuda-pemuda pribumi baru yang direkrut menjadi anggota pasukan Yusuf. Mereka bertambah jumlahnya dan semakin kokoh.

“Sebentar lagi kita akan menghirup manisnya kemerdekaan. Kita akan merasakan kebebasan berpijak di tanah kita. Kita akan berkumpul bersama, bersatupadu membangun bangsa kita sendiri, bangsa kita yang merdeka. Merdeka!!!”
“Merdekaaaaa!!!!”

16 Agustus 1945.
    Perintah penyerangan besar-besaran telah turun dari pimpinan pusat. Yusuf dan pasukannya pun bersiap melakukan penyerangan dengan semangat membara dan hati yang siap berkorban. Penyerangan dilakukan tepat pada pukul 02.00 dini hari, saat pihak penjajah sedang disibukkan dan digemparkan oleh isu kemerdekaan rakyat Indonesia. Yusuf dan pasukannya dengan gagah berani melakukan penyerangan ke kerajaan besar Belanda di Palembang bersama ratusan pasukan tersembunyi lainnya yang bermarkas di tempat lain. Perang berkecamuk hebat, semua siap dikorbankan. Harta, jiwa dan raga semua untuk kemerdekaan. Warga yang ada di penjara bawah tanah mendengar kerusuhan yang terjadi di atas. Mereka sekuat tenaga bersatu dan bergotong-royong merubuhkan pintu besi penjara hingga akhirnya mereka dapat terbebas dari penjara. Penjajah yang ada di sekitar penjara menyerang warga secara membabi buta. Mereka melepaskan senapan dan menghunuskan pedang tanpa memandang wanita dan anak-anak. Namun beruntung dalam hitungan jam pasukan pribumi berhasil melumpuhkan sebagian besar markas kerajaan Kompeni, mereka segera ke penjara bawah tanah untuk menyelamatkan warga yang tersisa.
        Setelah bebas dari penjara bawah tanah, Sarice dibantu pemuda kampung bergegas ke atas dan mengarahkan warga lainnya ke tempat yang lebih aman. Saat itulah, saat pejuang kemerdekan telah merasakan atmosfer kemerdekaan, saat markas penjajah telah sepenuhnya di kuasai, saat penjajah-penjajah yang ratusan tahun mendiami tanah kelahiran mereka berhasil dipukul mundur, saat detik-detik Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 siap dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, serta saat Yusuf dan Sarice kembali bersua setelah berminggu-minggu terpisah, tiba-tiba pimpinan kompeni yang telah tergeletak akibat hantaman senjata Yusuf, bangkit dan mengarahkan senapannya kembali ke arah Yusuf. Hanya sepersekian detik, peluru itu mengarah ke Yusuf dan kali ini tidak ada Mansur atau pun pasukan lain yang bisa menjadi tameng untuk Yusuf. Kejadian itu sangat cepat. Peluru sang pimpinan Kompeni mantap bersarang diperut Yusuf. Sarice yang melihat kejadian itu spontan berteriak dan berlari ke arah kekasih hatinya. Sementara pasukan lain mengarahkan bambu runcing tepat ke arah pimpinan Kompeni tadi.
Tepat saat proklamasi dikumandangkan di ibu kota, Yusuf terjerembab ke tanah. Darahnya mengalir menyatu dengan tanah kelahirannya. Sarice berusaha merebahkan Yusuf ke pangkuannya. Dengan sisa tenaga, yusuf berkata lirih.

“Adinda… ini janji Abang. Janji kemerdekaan dan cinta yang telah lama Abang ucapkan pada Adinda. Jangan bersedih, kita telah merdeka. Pengorbanan ini tidak seberapa dibanding harga yang telah dibayarkan pejuang-pejuang kita. Percayalah dengan hati yang lapang dan ikhlas, perjuangan selanjutnya akan lebih mudah. Kita telah merdeka.”

         Mata Yusuf terpejam saat kata merdeka terucap dari mulutnya. Bangsa ini telah benar-benar merdeka. Merdeka fisik, hati dan pikiran. Perjuangan selanjutnya adalah lebih sulit. Pejuangan mempertahankan kemerdekaan akibat penjajahan oleh bangsa sendiri. Sungguh, itu lebih berat. Jauh lebih berat. Kemerdekaan melawan koruptor, penguasa yang semena-mena dan perjuangan melawan orang-orang bergelar pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri namun mengatasnamakan bangsa dan rakyat.

--------

         Dua bulan kemudian, Yusuf dan Sarice melangsungkan pernikahan. Acara pernikahan sederhana dan bahagia. Disaksikan oleh pejuang-pejuang kemerdekaan dan seluruh warga kampung. Yusuf berhasil diselamatkan oleh tim medis dari kota. Ia memiliki hati yang luas dan jiwa yang rela berkorban sehingga takdir baik bersedia membayar semua perjuangan yang telah ia lakukan selama ini. Milikilah selalu hati yang bersih, tulus dan kokoh sebagai senjata dalam hidup, maka mata kebaikan akan mampu melihatnya sekali pun dalam gelap.

Sabtu, 28 Februari 2015

Cerpenku

 Secarik Rindu

                Zah menarik nafas panjang. Matanya mengamati sekitar. Kesibukan kota yang tak pernah padam. Bahkan ditengah terpaan hujan seperti sore ini. Ia sangat menyukai hujan seperti kesukaannya pada coklat hangat yang kini merapat dikedua tangannya. Ia mengatupkan tangannya membungkus gelas berisi cokelat yang hangatnya terasa menembus kulit.
                Hujan yang kian deras memaksanya untuk berteduh. Motor matic birunya terparkir pasrah dibawah guyuran hujan. Lima belas menit yang lalu ia memutuskan berteduh disebuah coffee shop di pinggir jalan.
                Percikan air hujan terlihat hendak menembus, namun tergulai pasrah perlahan mengalir di dinding kaca besar toko. Zah menarik pandangannya menuju percikan-percikan air hujan di jendela kaca dekat tempat duduknya. Tatapannya kosong. Pikirannya mulai melayang pada hujan tiga tahun yang lalu di salah satu toko buku besar di tengah kota.
                Zah sedang memilih-milih buku di pojok toko bertuliskan “Novel dan Fiksi” ia menggerakkan jari-jarinya disudut buku-buku yang terpajang rapi di rak-rak toko. Hingga tanpa sadar ia menjatuhkan buku ditangannya yang sudah ia pilih terlebih dahulu.
                “Maaf, bukunya jatuh” Sapaan lembut dari belakangan membuyarkan konsentrasi Zah yang sedang sibuk membaca judul-judul buku di rak.
                Disitulah kali pertama ia berkenalan dengan Lana. Lana adalah laki-laki yang menyenangkan. Selain wajahnya yang cukup tampan, wawasannya juga sangat luas. Senyumnya amat bersahaja. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Zah. Tutur katanya yang santun dan bijaksana membuat siapapun segan untuk menolak diajak ngobrol oleh Lana. Termasuk Zah yang biasanya cuek.
                Zah meneguk coklat hangatnya. Manisnya terasa menyentuh hingga ke ulu hati. Lamunannya berlanjut.
                Waktu berjalan sangat cepat. Setahun berlalu dari hari perkenalannya dengan Lana. Mereka tidak lagi saling bertemu. Hanya sekali pertemuan di toko buku itu. Namun sesekali Lana menghubungi Zah melalui email. Lana mengakui ketertarikannya pada Zah, begitupun sebaliknya. Namun Lana menghargai prinsip hidup Zah yang tak ingin menjalin hubungan special dengan seorang pria sebelum akad pernikahan. Dua tahun berlalu, komunikasi mereka semakin lancar. Apalagi riset yang dilakukan Lana, sesuai dengan judul skripsi yang sedang dikerjakan Zah masa itu. Hal tersebut membuat Zah banyak bertanya pada Lana. Benih-benih kasih semakin mekar dihati keduanya. Namun mereka tetap berusaha menjaga diri masing-masing. Komunikasi hanya dilakukan melalui email. Tanpa pernah bertemu. Apalagi mereka berada di pulau yang berbeda. Saat pertemuan di toko buku itu, Lana hanya kebetulan sedang mengadakan penelitian di kota tempat tinggal Zah.
                Waktu semakin tak bisa dihentikan, enam bulan bergulir hingga akhirnya Lana mantap memutuskan akan menjalin hubungan yang serius dengan Zah. Setiap malam hatinya dirundung rindu pada pemilik wajah berlesung pipi itu. Senyuman Zah dua tahun yang lalu masih terbayang jelas dipelupuk mata Lana. Setiap malam selama dua tahun ia berusaha melakukan berbagai aktivitas yang bisa menahannya sejenak dari rindu pada gadis berkerudung yang pernah ditemuinya di toko buku.
                Hanya sekali bertemu dan rindu itu tumbuh subur dihati keduanya. Carik demi carik rindu mereka kumpulkan tanpa ada yang tahu.
                Zah kembali menghela nafas panjang. Hujan diluar sana semakin deras. Lamunan Zah melambung hingga tiga bulan yang lalu.
                Setelah tiga bulan tidak berkomunikasi dengan Lana, Zah mulai merasa ada yang hilang dari hidupnya. Hingga akhirnya Lana datang ke kota Zah tepat tiga bulan yang lalu bersama kedua orangtuanya. Ia hendak melamar Zah. Zah dengan senang hati menerima lamaran Lana, satu-satunya pria dalam hidupnya yang pernah membuat ia tersenyum tanpa sebab.
                Namun malang menimpa, orang tua Zah yang masih memegang teguh budaya ditengah kehidupan kota yang kian modern tak merestui hubungan anak tunggalnya itu. Orang tua Zah menolak dengan dua alasan, alasan pertama karena budaya mereka yang notabene tinggal di pulau yang berbeda tidak sama. Alasan kedua karena mereka tak ingin anak mereka tinggal jauh dari mereka. Orang tua Lana telah mengikhlaskan jika Lana ingin tinggal di kota yang sama dengan Zah. Namun orang tua Zah tetap tidak setuju karena alasan budaya turun temurun yang berbeda.
                Zah telah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa budaya tidak seharusnya menjadi penghalang niat suci. Agama dapat menjadi penyatu dari budaya yang berbeda. Namun orang tua Zah tetap kekeh pada pendiriannya.
                “Jika kamu tetap memilih menikah dengan laki-laki itu, kamu bukan anak kami lagi!” Kalimat ini membuat Zah bergeming tanpa sepatah kata pun.
                Air mata Zah menetes seirama tetesan hujan yang mengalir perlahan di dinding kaca. Bayangan kerasnya orang tuanya yang menolak Lana kembali menggelayut dipikirannya. Secarik rindu masih tersisa dihatinya untuk Lana.
Rasanya sangat tidak adil jika perbedaan harus menjadi penghalang, jika perbedaan harus didahulukan diatas niat yang mulia, jika perbedaan harus diprioritaskan dalam segala hal. Perbedaan antara suku ini dan suku itu, antara si kaya dan si miskin, si cantik dan si buruk, si penguasa dan rakyat biasa, dll. Justru seharusnya perbedaan menjadi warna yang semakin mengeratkan. Bayangkan jika pelangi hanya memiliki satu warna, masih kah ada yang ingin menarik mata sejenak untuk memandanginya? Jika langit hanya tersusun atas hamparan hitam tanpa bintang sebagai pembeda, masihkan malam akan terlihat bercahaya?
                Ditengan lamunannya, ia dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar sekali. Sebuah email.
                “Wahai wanita yang lembut hatinya, tulus tuturnya, indah akhlaknya. Sungguh aku ingin bersamamu meraih surgaNya. Berjalan beriringan merangkai kasih atas namaNya. Mendidik pejuang-pejuang yang akan istiqomah dijalanNya. Hatiku tak pernah letih memohon dalam doa, semoga engkau yang dirangkai dari tulang rusukku. Aku mencintaimu Zahratunnisa. Aku akan menjadikanmu bidadari diistanaku. Perjunganku belum berakhir. Tunggu aku menjemputmu.”
                                                                                                                       #Lana

to be continued...