Di
tempat ini lagi dengan keadaan seperti ini lagi. Perlahan kulangkahkan kakiku
memasuki sebuah tempat yang teramat sakral bagiku, sebuah tempat yang
sebenarnya tak pernah ingin ku kunjungi. Namun sekarang tempat itu telah dan
harus jadi bagian dari alur hidupku. Aku melangkah lebih dekat dan semakin
dekat hingga tepat dihadapanku sebuah pusara yang masih terlihat baru
dibandingkan pusara-pusara disekitarnya. Sekilas kubaca sebuah nama dalam
pusara itu, aku sangat mengenalnya, nama itu teramat lekat denganku. Yaa… itu
pusara Ayahku. Titik-titik embun dibalik kelopak mata ini hendak keluar dari
peraduannya, namun terhenti ketika pandanganku kualihkan sekilas pada seorang
gadis kecil dihadapanku. Ia tersenyum padaku dengan senyum khasnya yang seakan
tak pernah pudar. Tahukah kamu ? hatiku hancur melihat senyuman itu. Aku merasa
malu, harusnya aku kuat, harusnya aku lebih tegar. Terekam kembali dalam memoriku,
kejadian setahun silam ketika satu bagian yang tak pernah kuharapkan hadir
mewarnai kisah hidupku terjadi dan merenggut impian-impianku. Sore itu, ketika hendak
ku tutup pintu rumah, dari kejauhan kulihat kerumunan orang-orang yang sedang
membopong sesuatu namun menuju kearah rumahku hingga akhirnya ku tahu bahwa
yang dibopong itu adalah ayahku. Aku tak tahu-menahu apa yang terjadi, yang
terlihat hanya orang-orang yang menangis dan Nampak sangat sedih. “ada apa ini
? apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku terjawab ketika kulihat tepat
dihadapanku, ayahku tergeletak kaku dengan mata tertutup dan enggan lagi untuk
menatap dunia. Saat itu, kurasakan langit seakan runtuh menimpaku. “Tuhan…
mengapa Engkau panggil ia secepat ini ? Tuhan… sungguh Engkau tak adil padaku”
aku mulai menyalahkan takdir yang seakan tak adil padaku. Namun, betapa malunya
aku ketika aku sedang menangis sejadi-jadinya tiba-tiba datang seorang gadis
kecil yang menyentuh lembut pipiku hendak menghapus air mataku. Matanya pun
tampak basah, namun ia mencoba tersenyum dan menerima kenyataan. Gadis kecil
itu, Zahra. Adikku. Ia Nampak begitu tegar dengan usianya yang saat itu
menginjak 6 tahun dan ironisnya lagi hari itu tepat sehari setelah hari ulang
tahunnya. Aku belajar menerima kenyataan hidup dari seorang gadis berusia 6
tahun. Pelajaran nomor satu yang ku dapatkan dari malaikatku itu.
“Dila…” suara lembut itu memecah
lamunanku.
“iya bu…”
“kita pulang yuk sayang”
Kulangkahkan
kembali kakiku menjauh dari tempat peristirahatan orang yang teramat kukasihi
ini. Sore itu nampak sangat sepi. Hanya ada sekumpulan anak kecil diseberang
jalan dengan pakaian yang nampak lusuh dan kumuh namun terlihat begitu bahagia.
Setelah ku perhatikan lebih dekat, salah seorang dari kumpulan anak-anak itu
adalah adikku. Sejak kapan ia ada disana?
Tiap kali ke makam ini, ia pasti menyempatkan diri untuk bermain dengan
anak-anak yang tinggal disekitar makam ini dan membagi-bagikan permen yang
didapatnya dari ibu tiap kali ia berhasil bangun pagi. Ia tak pernah mau membagi permennya dengan aku
dan kakaknya yang lain tiap kali kami minta permennya. Dengan tegasnya ia selalu
berkata “Tidak! Ini punya Zahra”. Namun,
aku pun tak pernah melihatnya memakan permen-permen itu. Ia hanya
mengumpulkannya pada kaleng susu kecil yang ia simpan dibawah tempat tidurnya.
Dan hari ini aku tahu, ternyata tiap pagi ia berusaha bangun pagi untuk
mendapatkan sebuah permen yang hendak ia bagikan pada teman-teman kecilnya itu.
Pelajaran nomor dua yang ku dapat dari malaikat kecilku ini, sesulit apapun
keadaan kita jangan pernah mengeluh dan tetap memberi karena diluar sana banyak
jiwa yang merasakan hal yang jauh lebih pahit dari kita.
Aku tak punya banyak waktu untuk
liburan pada Idul Fitri kali ini, waktu liburanku tersisa tiga hari lagi.
Setelah itu aku harus kembali kerutinitasku sebagai mahasiswa yang merantau di
kampung seberang. Selama berada di kampung halaman, kumanfaatkan waktuku sebaik
mungkin untuk menunjukkan baktiku pada ibuku dan kasihku pada kedua adikku.
Satu hal yang tak pernah kulewatkan selama berada di rumah, aku selalu shalat
berjamaah dengan adikku, Zahra. Adzan tengah berkumandang dari mesjid yang tak
jauh dari rumah, aku bergegas mengambil wudhu yang disusul adikku dibelakangku.
Sedangkan ibu dan Fahri bergegas bersama untuk shalat berjamaah di masjid. Aku
bersyukur berada dalam keluarga yang senantiasa menggantungkan hidupNya pada
Sang Maha Pencipta ini.
“Zahra… kok wudhunya buru-buru
sayang? Pelan-pelan aja” tanyaku mengganggu kekhusyuan wudhu Zahra.
“Zahra ga mau ketinggalan roket kak”
jawabnya polos sambil tersenyum.
“roket?” jawabku bingung.
“iyaa. Kata pak Uztad amalan shalat
itu akan sampai ke langit sesuai dengan waktu shalatnya.”
Aku mengerutkan kening kearah Zahra
sebagai tanda aku ingin penjelasan lebih jauh.
Zahra menyambung pembahasannya yang
berlaga ibarat seorang Uztadsah yang tengah berceramah dalam suatu majelis
“begini kakak dila, yang shalatnya lebih cepat maka amalannya akan sampai ke
Allah naik roket yang kencaaaaangg banget dalam bentuk cahaya yang paling
terang. Sedangkan yang shalatnya belakangan hanya akan naik mobil, naik motor,
naik sepeda, atau bahkan hanya jalan kaki. Makanya Zahra pengen amalan Zahra
naik roket biar cepet nyampe ke tempat Allah”
“oohh…” jawabku singkat tanda mengerti sambil
melebarkan senyuman.
“nah gitu kak”
“hmm… tapi ga harus cepet-cepet
wudhunya sayang, meskipun shalatnya diawal waktu tapi wudhunya ga sah gimana ?
wudhu itukan ibarat bahan bakar roketnya. Entar roketnya macet ditengah jalan
loh karena bahan bakarnya abis”
“iyaa juga yaa kak. Hehheee…”
sambung Zahra sambil berbalik arah kembali ke tempat wudhu untuk mengulang
wudhunya.
Setelah berwudhu kami pun shalat
berjamaah. Aku menjadi imam dalam tiap shalat kami, Zahra berada tepat
disebelahku. Hati terasa sangat tentram ketika menghadap pada Robb Yang Maha
Kasih. Tiada kenikmatan yang melebihi ketika sujud dihadapanNya. Subhanalloh…
Namun,
ketika sujudku pada rakaat kedua betapa terkejutnya aku ketika kurasakan
kehangatan pada pundakku. Aku tak tau apa penyebabnya. Hal itu terjadi hingga
sujud pada rakaat terakhirku. Hingga akhirnya aku mengetahui adikku Zahra
mencium pundakku ketika ia hendak sujud. Tuhan… air mataku menetes ditengah
sujudku. Sungguh adikku begitu menyayangiku. Melebihi rasa sayang yang aku
ketahui selama ini. Melebihi rasa sayangku padanya. Aku berdoa jauh dalam
sujudku. “Allahu Robbii… jaga malaikat kecilku ini, tuntun ia selalu kejalanMu
yang lurus. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya”.
Waktuku untuk berlibur di kampong
halaman terbilang singkat bahkan sangat singkat jika dibangdingkan mahasiswa-mahasiswa
lainnya. Hal itu disebabkan karena pilihanku untuk menjadi akivis kampus yang
penuh dengan kegiatan. Apalagi ketika musim liburan tiba, waktuku lebih banyak
kuhabiskan di kampus dari pada di tempat kost apalagi di kampong halaman. Tak heran
jika adik kecilku ini merasa sangat bahagia ketika kakaknya berada di rumah dan
merasa sangat sedih ketika aku hendak kembali ke tempatku menuntut ilmu.
Pertanyaannya yang tak pernah
terlewatkan setiap kali aku akan kembali ke tempat kuliahku, “kapan kakak akan
datang lagi?” dan jawaban yang kuberikan pasti selalu mengecewakannya “entahlah
sayang. InsyaAllah kalau kakak ada libur lagi” namun ketika mendengar jawabanku
ini, ia berusaha tersenyum pertanda puas dengan jawabanku.
Keesokan harinya, aku pun harus
meninggalkan rumah dan keluargaku kembali. Remuk rasanya harus meninggalkan
orang-orang yang kukasihi ini, namun semua kulakukan untuk mereka. Apalagi
ketika melihat senyum ibuku dengan matanya yang berkaca-kaca ketika hendak
melepasku. Satu hal lagi kebiasaan adikku yang sampai saat ini pun belum aku
temukan jawaban atas sikapnya itu. Ia tak pernah mau melihatku pergi
meninggalkan rumah. Setiap aku akan pergi, ia selalu meninggalkan rumah
terlebih dahulu bersama teman-temannya, jika ia sementara ada di rumah ia lebih
memilih untuk berada dalam kamar dan enggan untuk menyaksikanku meninggalkan
rumah. Namun, bukannya ia membiarkanku pergi tanpa sesuatu. Setiap tiba di
Makassar, selalu kutemukan sesuatu yang membuat air mataku mengalir. Yaa.. itu
dari adikku. Ia pernah menyelipkan boneka kecil kesayangannya ke dalam tasku,
ia pernah menyelipkan sebuah pulpen, sebuah tali sepatu, plastic tempat pensil
warna dan barang-barang lain miliknya. Dan hal itu yang membuatku antusias
untuk membuka ranselku malam ini setibanya di tempat kostku. Aku tidak
menemukan apa-apa, kubongkar semua isi tasku kembali. Dan aku masih tidak
menemukan apa-apa. “apa Zahra lupa menyelipkan sesuatu ya ?” pikirku. Kucari
kembali untuk ketiga kalinya dan masih kosong. Terbersit rasa kecewa dalam hati
ini hingga kuhentikan pencarianku.
Kuputuskan untuk beristirahat
sejenak sembari menatap kamarku yang cukup berantakan dan berdebu setelah lama
kutinggalkan. Jam menunjukkan pukul 20.00 WITA. Aku masih punya waktu sejam dua
jam untuk tidur kemudian melanjutkan laporanku yang kejar tayang hendak ku
kumpulkan esok hari di kampus. Maklum, mahasiswa penganut SKS alias Sistem
Kebut Semalam.
Setelah terlelap beberapa menit,
kuputuskan untuk bangkit dari kasurku yang empuk menuju tumpukan buku yang ada
di meja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar