Rabu, 29 Mei 2013

Malaikat Kecil Itu Adikku

Di tempat ini lagi dengan keadaan seperti ini lagi. Perlahan kulangkahkan kakiku memasuki sebuah tempat yang teramat sakral bagiku, sebuah tempat yang sebenarnya tak pernah ingin ku kunjungi. Namun sekarang tempat itu telah dan harus jadi bagian dari alur hidupku. Aku melangkah lebih dekat dan semakin dekat hingga tepat dihadapanku sebuah pusara yang masih terlihat baru dibandingkan pusara-pusara disekitarnya. Sekilas kubaca sebuah nama dalam pusara itu, aku sangat mengenalnya, nama itu teramat lekat denganku. Yaa… itu pusara Ayahku. Titik-titik embun dibalik kelopak mata ini hendak keluar dari peraduannya, namun terhenti ketika pandanganku kualihkan sekilas pada seorang gadis kecil dihadapanku. Ia tersenyum padaku dengan senyum khasnya yang seakan tak pernah pudar. Tahukah kamu ? hatiku hancur melihat senyuman itu. Aku merasa malu, harusnya aku kuat, harusnya aku lebih tegar. Terekam kembali dalam memoriku, kejadian setahun silam ketika satu bagian yang tak pernah kuharapkan hadir mewarnai kisah hidupku terjadi dan merenggut impian-impianku. Sore itu, ketika hendak ku tutup pintu rumah, dari kejauhan kulihat kerumunan orang-orang yang sedang membopong sesuatu namun menuju kearah rumahku hingga akhirnya ku tahu bahwa yang dibopong itu adalah ayahku. Aku tak tahu-menahu apa yang terjadi, yang terlihat hanya orang-orang yang menangis dan Nampak sangat sedih. “ada apa ini ? apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku terjawab ketika kulihat tepat dihadapanku, ayahku tergeletak kaku dengan mata tertutup dan enggan lagi untuk menatap dunia. Saat itu, kurasakan langit seakan runtuh menimpaku. “Tuhan… mengapa Engkau panggil ia secepat ini ? Tuhan… sungguh Engkau tak adil padaku” aku mulai menyalahkan takdir yang seakan tak adil padaku. Namun, betapa malunya aku ketika aku sedang menangis sejadi-jadinya tiba-tiba datang seorang gadis kecil yang menyentuh lembut pipiku hendak menghapus air mataku. Matanya pun tampak basah, namun ia mencoba tersenyum dan menerima kenyataan. Gadis kecil itu, Zahra. Adikku. Ia Nampak begitu tegar dengan usianya yang saat itu menginjak 6 tahun dan ironisnya lagi hari itu tepat sehari setelah hari ulang tahunnya. Aku belajar menerima kenyataan hidup dari seorang gadis berusia 6 tahun. Pelajaran nomor satu yang ku dapatkan dari malaikatku itu.
            “Dila…” suara lembut itu memecah lamunanku.
            “iya bu…”
            “kita pulang yuk sayang”
Kulangkahkan kembali kakiku menjauh dari tempat peristirahatan orang yang teramat kukasihi ini. Sore itu nampak sangat sepi. Hanya ada sekumpulan anak kecil diseberang jalan dengan pakaian yang nampak lusuh dan kumuh namun terlihat begitu bahagia. Setelah ku perhatikan lebih dekat, salah seorang dari kumpulan anak-anak itu adalah adikku. Sejak kapan ia ada disana?  Tiap kali ke makam ini, ia pasti menyempatkan diri untuk bermain dengan anak-anak yang tinggal disekitar makam ini dan membagi-bagikan permen yang didapatnya dari ibu tiap kali ia berhasil bangun pagi.  Ia tak pernah mau membagi permennya dengan aku dan kakaknya yang lain tiap kali kami minta permennya. Dengan tegasnya ia selalu berkata “Tidak! Ini punya Zahra”.  Namun, aku pun tak pernah melihatnya memakan permen-permen itu. Ia hanya mengumpulkannya pada kaleng susu kecil yang ia simpan dibawah tempat tidurnya. Dan hari ini aku tahu, ternyata tiap pagi ia berusaha bangun pagi untuk mendapatkan sebuah permen yang hendak ia bagikan pada teman-teman kecilnya itu. Pelajaran nomor dua yang ku dapat dari malaikat kecilku ini, sesulit apapun keadaan kita jangan pernah mengeluh dan tetap memberi karena diluar sana banyak jiwa yang merasakan hal yang jauh lebih pahit dari kita.
            Aku tak punya banyak waktu untuk liburan pada Idul Fitri kali ini, waktu liburanku tersisa tiga hari lagi. Setelah itu aku harus kembali kerutinitasku sebagai mahasiswa yang merantau di kampung seberang. Selama berada di kampung halaman, kumanfaatkan waktuku sebaik mungkin untuk menunjukkan baktiku pada ibuku dan kasihku pada kedua adikku. Satu hal yang tak pernah kulewatkan selama berada di rumah, aku selalu shalat berjamaah dengan adikku, Zahra. Adzan tengah berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah, aku bergegas mengambil wudhu yang disusul adikku dibelakangku. Sedangkan ibu dan Fahri bergegas bersama untuk shalat berjamaah di masjid. Aku bersyukur berada dalam keluarga yang senantiasa menggantungkan hidupNya pada Sang Maha Pencipta ini.
            “Zahra… kok wudhunya buru-buru sayang? Pelan-pelan aja” tanyaku mengganggu kekhusyuan wudhu Zahra.
            “Zahra ga mau ketinggalan roket kak” jawabnya polos sambil tersenyum.
            “roket?” jawabku bingung.
            “iyaa. Kata pak Uztad amalan shalat itu akan sampai ke langit sesuai dengan waktu shalatnya.”
            Aku mengerutkan kening kearah Zahra sebagai tanda aku ingin penjelasan lebih jauh.
            Zahra menyambung pembahasannya yang berlaga ibarat seorang Uztadsah yang tengah berceramah dalam suatu majelis “begini kakak dila, yang shalatnya lebih cepat maka amalannya akan sampai ke Allah naik roket yang kencaaaaangg banget dalam bentuk cahaya yang paling terang. Sedangkan yang shalatnya belakangan hanya akan naik mobil, naik motor, naik sepeda, atau bahkan hanya jalan kaki. Makanya Zahra pengen amalan Zahra naik roket biar cepet nyampe ke tempat Allah”
                “oohh…”  jawabku singkat tanda mengerti sambil melebarkan senyuman.
            “nah gitu kak”
            “hmm… tapi ga harus cepet-cepet wudhunya sayang, meskipun shalatnya diawal waktu tapi wudhunya ga sah gimana ? wudhu itukan ibarat bahan bakar roketnya. Entar roketnya macet ditengah jalan loh karena bahan bakarnya abis”
            “iyaa juga yaa kak. Hehheee…” sambung Zahra sambil berbalik arah kembali ke tempat wudhu untuk mengulang wudhunya.
            Setelah berwudhu kami pun shalat berjamaah. Aku menjadi imam dalam tiap shalat kami, Zahra berada tepat disebelahku. Hati terasa sangat tentram ketika menghadap pada Robb Yang Maha Kasih. Tiada kenikmatan yang melebihi ketika sujud dihadapanNya. Subhanalloh…
Namun, ketika sujudku pada rakaat kedua betapa terkejutnya aku ketika kurasakan kehangatan pada pundakku. Aku tak tau apa penyebabnya. Hal itu terjadi hingga sujud pada rakaat terakhirku. Hingga akhirnya aku mengetahui adikku Zahra mencium pundakku ketika ia hendak sujud. Tuhan… air mataku menetes ditengah sujudku. Sungguh adikku begitu menyayangiku. Melebihi rasa sayang yang aku ketahui selama ini. Melebihi rasa sayangku padanya. Aku berdoa jauh dalam sujudku. “Allahu Robbii… jaga malaikat kecilku ini, tuntun ia selalu kejalanMu yang lurus. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya”.
            Waktuku untuk berlibur di kampong halaman terbilang singkat bahkan sangat singkat jika dibangdingkan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Hal itu disebabkan karena pilihanku untuk menjadi akivis kampus yang penuh dengan kegiatan. Apalagi ketika musim liburan tiba, waktuku lebih banyak kuhabiskan di kampus dari pada di tempat kost apalagi di kampong halaman. Tak heran jika adik kecilku ini merasa sangat bahagia ketika kakaknya berada di rumah dan merasa sangat sedih ketika aku hendak kembali ke tempatku menuntut ilmu.
            Pertanyaannya yang tak pernah terlewatkan setiap kali aku akan kembali ke tempat kuliahku, “kapan kakak akan datang lagi?” dan jawaban yang kuberikan pasti selalu mengecewakannya “entahlah sayang. InsyaAllah kalau kakak ada libur lagi” namun ketika mendengar jawabanku ini, ia berusaha tersenyum pertanda puas dengan jawabanku.
            Keesokan harinya, aku pun harus meninggalkan rumah dan keluargaku kembali. Remuk rasanya harus meninggalkan orang-orang yang kukasihi ini, namun semua kulakukan untuk mereka. Apalagi ketika melihat senyum ibuku dengan matanya yang berkaca-kaca ketika hendak melepasku. Satu hal lagi kebiasaan adikku yang sampai saat ini pun belum aku temukan jawaban atas sikapnya itu. Ia tak pernah mau melihatku pergi meninggalkan rumah. Setiap aku akan pergi, ia selalu meninggalkan rumah terlebih dahulu bersama teman-temannya, jika ia sementara ada di rumah ia lebih memilih untuk berada dalam kamar dan enggan untuk menyaksikanku meninggalkan rumah. Namun, bukannya ia membiarkanku pergi tanpa sesuatu. Setiap tiba di Makassar, selalu kutemukan sesuatu yang membuat air mataku mengalir. Yaa.. itu dari adikku. Ia pernah menyelipkan boneka kecil kesayangannya ke dalam tasku, ia pernah menyelipkan sebuah pulpen, sebuah tali sepatu, plastic tempat pensil warna dan barang-barang lain miliknya. Dan hal itu yang membuatku antusias untuk membuka ranselku malam ini setibanya di tempat kostku. Aku tidak menemukan apa-apa, kubongkar semua isi tasku kembali. Dan aku masih tidak menemukan apa-apa. “apa Zahra lupa menyelipkan sesuatu ya ?” pikirku. Kucari kembali untuk ketiga kalinya dan masih kosong. Terbersit rasa kecewa dalam hati ini hingga kuhentikan pencarianku.
            Kuputuskan untuk beristirahat sejenak sembari menatap kamarku yang cukup berantakan dan berdebu setelah lama kutinggalkan. Jam menunjukkan pukul 20.00 WITA. Aku masih punya waktu sejam dua jam untuk tidur kemudian melanjutkan laporanku yang kejar tayang hendak ku kumpulkan esok hari di kampus. Maklum, mahasiswa penganut SKS alias Sistem Kebut Semalam.

            Setelah terlelap beberapa menit, kuputuskan untuk bangkit dari kasurku yang empuk menuju tumpukan buku yang ada di meja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar