SEPATU MERAH
Pernahkah kau benar-benar merasa kehilangan dalam hidupmu?
Kehilangan seseorang yang telah memberi kesan tak ternilai bagimu, tetapi ia bukan orangtua,
saudara, pasangan atau pun anakmu. Dia adalah orang asing.
Demikian yang kurasakan saat ini. Ketika ia tiba-tiba menghilang tepat tiga tahun yang lalu. Hari dimana aku berhasil memakai jubah kelulusan Harvard University. Impian hampir semua anak muda. Hari itu seharusnya aku bahagia, tetapi justru menjadi hari pertama aku merasakan kehilangan yang teramat mendalam. Begitu menyayat hati setiap kali mengingat orang itu.
International Logan Airport. Boston, November 2009.
Kubiarkan mataku menyapu bersih seluruh kesibukan bandara, sementara otakku sibuk memikirkan jalan mana yang akan kupilih untuk tiba di salah satu flat murah di daerah 293 North Brattle Street Cambridge. Aku sama seperti orang Indonesia pada umumnya yang baru pertama kali keluar negeri, terlebih ke negara Adidaya di dunia. Rasa kagum, bahagia, tidak percaya sekaligus khawatir memenuhi pikiranku. Tapi selalu kuingat pesan Bapak, “Di manapun kau berada, jangan merasa takut. Jangan pernah risau, karena tempat itu tetaplah bumi Allah. Selagi kau mengingatnya, maka Ia akan selalu mengiringimu.”
Mr.Richard yang seharusnya menjemputku tiba-tiba mengabarkan via email bahwa ia tidak bisa datang karena ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditunda. Sebagai gantinya, ia mengirimkan informasi tentang semua jalur dan alat transportasi umum yang bisa kugunakan untuk tiba di flat. Aku meneguhkan hati sekali lagi. Bismillah! Pilihanku tertuju pada taksi, tentu saja. Meskipun mahal, tetapi lebih baik dari pada aku tersesat di jalan. Lagi pula kata Mr.Richard, hanya butuh 30 menit jika menggunakan taksi. Sepertinya aku harus berhemat di hari pertamaku tiba di Amerika.
Kakiku hendak melangkah dari terminal E bagian kedatangan, ketika tiba-tiba sepasang kaki dengan sepatu berwarna merah berdiri tepat dihadapanku.
“Indonesia?”
Aku mendongak untuk melihat wajah pemilik kaki itu. Seketika seulas senyum menyambutku dan kubalas dengan senyum yang tak kalah ramah. Sosoknya tampak begitu ganjil berada di tengah puluhan manusia berambut pirang dengan bola mata warna-warni yang sedang lalu lalang. Ia berambut hitam sepertiku dan warna matanya cokelat.
“Iya, mas juga orang Indonesia?”
“Tepat! Perkenalkan nama saya Habiburrahman, panggil saja Bang Bib.” Tiba-tiba tubuhku terasa diguyur air segar. Begitu bahagia melihat saudara setanah air di negeri asing ini.
“Saya Khiar Ghani, boleh panggil Khiar atau Ghani,” sahutku sambil mengulurkan tangan.
“Pilihan terbaik.”
“Ya?” Keningku mengerut, tanda tidak mengerti.
“Khiar artinya pilihan terbaik. Tapi saya lebih suka menyebut Ghani.” Ia menjabat tanganku erat-erat seperti kawan lama yang baru bertemu setelah bertahun-tahun.
“Dari tadi saya melihat kamu seperti orang kebingungan di sini. Mahasiswa ya? Baru tiba? Belum ada yang menjemput?”
“Iya Bang. Orang yang seharusnya menjemput, tidak bisa datang karena ada kepentingan lain.”
Ia mengangguk sejenak, “Baiklah, mari saya antar. Kamu ke arah mana?”
Mataku melebar mendengar tawaran itu. “Di daerah 293 North Brattle Street Cambridge. Tapi saya tidak mau merepotkan Bang,” kataku, sungkan.
“Santai saja. Saya juga mau ke wilayah itu.”
Pertolongan Allah memang selalu datang dari arah yang tidak terduga, Ia menghadirkan seseorang yang bisa menjadi saudara di negeri asing ini. Selama perjalanan menuju Cambridge, kami bercakap-cakap panjang lebar. Tepatnya Bang Bib yang lebih banyak bercerita. Ia tiba di Amerika dua tahun yang lalu, setelah kakeknya meninggal. Ia berdarah Medan-Jawa. Ayahnya orang Medan dan Ibunya dari Yogyakarta, tetapi ia dan kakeknya tinggal di Bogor setelah orangtuanya meninggal saat ia masih berumur 8 tahun.
Ia memiliki beberapa pekerjaan. Hari senin sampai kamis, ia bekerja di sebuah bengkel otomotif dari pagi hingga sore, sedangkan hari jumat hingga minggu bekerja sebagai supir di salah satu perusahaan travel. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pegawai binatu dan office boy di malam hari. Ketika kutanya bagaimana ia mengatur waktu, ia hanya berkata, “ Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal; Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan. Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja. Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya. Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak. Ini pesan Rasulullah, saya hanya berusaha memanfaatkan semua anugerah itu dengan baik.”
Sejak hari itu, aku tahu bahwa ia bukan pemuda biasa. Umurnya masih 24 tahun, lima tahun lebih tua dariku. Tetapi pola pikir dan tindakannya sangat bijaksana.
Jakarta, Juli 2016.
Aku menarik napas panjang. Kitab Al-Hikam yang semestinya kubaca, justru menatapku memohon perhatian. Mataku sedari tadi hanya mengerjap-ngerjap kosong dengan pikiran yang kini berada di tahun 2010.
Museum of Science. Boston, Januari 2010.
Waktu telah memasuki jadwal shalat duhur. Namun, jangan berharap di tempat ini ada mushallah apalagi masjid. Mendengar suara adzan saja merupakan keajaiban. Itu salah satu hal yang membuatku merindukan Indonesia. Negara dengan sejuta masjid.
Aku bergegas ke toilet untuk berwudhu. Selanjutnya menyempil untuk mencari ruangan yang bisa dijadikan tempat shalat. Namun ternyata tidak semudah yang kupikirkan. Aku telah berkeliling museum untuk mencari tempat yang tepat. Ketika hendak kugelar sajadah lipat yang selalu kubawa kemana-mana, seorang petugas museum menegur, “What are you doing, Boy? Sorry, this is public place, be a distraction if you stand here.”
Akhirnya kulipat kembali sajadahku dan berniat keluar dari museum untuk mencari tempat shalat. Padahal aku baru menjelajah seperempat isi museum.
Saat aku hendak keluar, mataku menangkap sepatu merah yang tidak asing di salah satu
pojokan kecil yang sedikit tersembunyi. Aku mengenali sepatu itu. Iya, aku tahu pemiliknya.
Aku mendekat ke pojokan dan kulihat seorang pemuda tengah khusyuk sujud menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Sang Pemilik Semesta. Wajahnya teduh dan menenangkan. Beberapa pengunjung
museum terhenti sejenak mengamati orang itu.
Setelah salam keduanya selesai dan berzikir sebentar, ia berbalik dan tersenyum ketika melihatku
berdiri dihadapannya.
“Assalamu Alaikum, Bang.” Sapaku dengan wajah tak kalah bahagia.
“Wa’alaikum Salam, Ghani. Adik Abang.” Ia bangkit dan memelukku erat. Inilah salah satu kebahagiaan menemukan saudara seiman.
“Abang kerja di sini?” Aku menilik seragam yang ia kenakan.
“Iya, biasanya Abang ke sini saat malam hari. Tapi hari ini travel tempat Abang kerja sedang sepi, jadi Abang bisa pulang lebih cepat.”
Aku mengangguk-angguk, “Oh.. Bang, boleh saya numpang shalat di sini? Dari tadi saya tidak menemukan tempat untuk shalat.”
“Silakan, pakai saja. Abang juga mau lanjut kerja. Nanti kamu jangan pulang dulu ya? Kita makan malam bersama. Tenang saja, Abang yang traktir.”
“Siap Bang! Kalau ada gratisan, pasti ada Ghani.” Sahutku bersemangat.
Ia bekerja sebagai office boy dengan gaji 12 dollar per jam. Namun, ia tidak pernah megeluh dan mensyukuri semua yang diperolehnya.
“Kalau boleh tahu, kenapa Abang sampai bekerja keras seperti ini?” Tanyaku saat makan malam di sekitar Charles River.
“Abang ingin berkunjung ke suatu tempat. Jadi harus menabung.” Matanya menyiratkan kekuatan besar yang tersembunyi.
“Kemana Bang?” Tanyaku kembali.
“Ke tempat yang hampir semua muslim ingin mengunjunginya. Salah satu tempat terbaik untuk menutup lembaran hidup di bumi Allah. Tempat dimana keinginan untuk mengunjunginya sebesar ragu dan takut yang tersembunyi.” Aku mengernyitkan kening. Memangnya ada tempat seperti itu?
“Sudahlah, habiskan saja makananmu. Mumpung gratis. Abang tahu betul watak mahasiswa beasiswa sepertimu. Pemuja kata gratis.” Aku tersenyum lebar mendengar kalimatnya.
Itu pertemuan kedua kami. Sekaligus pintu pembuka pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Kadang ia mengunjungiku dengan membawa berbagai macam makanan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan selama seminggu ke depan. Kadang pula aku yang mengunjunginya demi mendengarkan
cerita-ceritanya. Selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersamanya. Kami berbagi cerita tentang
banyak hal. Meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi, ilmu dan pemahaman yang ia miliki jauh lebih
luas di banding kebanyakan mahasiswa.
Bahkan ide tugas akhirku di kampus juga kudiskusikan dengannya. Ilmu tentang hukum bagi penggiat
shadow economy di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan,
Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya. Penjelasan tentang shadow economy memang cenderung
ditutup-tutupi keberadaannya. Namun, Abang ini berhasil membuka pikiranku dan mengetuk rasa ingin
tahuku tentang keberadaannya.Aku lulus dari Harvard University dengan predikat cumlaude.
Boston, Juli 2013.
Sehari sebelum wisuda, kudatangi Bang Bib ke apartemennya untuk mengingatkan kembali agar ia datang ke acara wisudaku. Orangtuaku tidak bisa hadir dan ia kudaulat sebagai wakil keluarga. Aku sangat ingin membuatnya bangga hari itu. Namun, justru yang kudapatkan adalah kecewa dan penyesalan. Kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal?
Sikapnya sedikit aneh hari itu. Ia menatapku dengan senyum bahagia dan berulang kali mengatakan bangga padaku. “Kamu adalah salah satu harta agama dan bangsa yang tak ternilai. Kamu selalu mempertahankan akidah yang menyatu dalam darahmu bahkan di negara yang menganut kebebasan ini. Tidak semua pemuda bisa lulus ujian macam itu. Lulus di kampus besar dengan predikat cumlaude memang memuaskan, tapi lulus dari ujian-Nya dengan predikat muslim sejati merupakan kepuasaan tak ternilai. Abang bangga! Abang sungguh-sungguh bangga padamu.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, “Semua ini juga berkat dukungan dan bantuan Abang selama ini. Terima kasih, Bang.” Aku memeluknya dengan perasaan haru dan bahagia. Tak kusangka bisa menemukan seorang kakak sepertinya, disaat aku merasa sendirian di kota ini. Aku memberikan sebuah hadiah berupa sepatu pantofel hitam agar bisa dikenakannya besok saat menghadiri wisudaku. Hadiah itu hasil dari tabunganku selama tiga bulan terakhir. Ia menerimanya dengan senang hati.
“Abang ingin menceritakan satu kisah kepadamu,” Aku mengangguk takzim dan mengatur posisi duduk. Tak pernah bosan rasanya mendengar cerita-cerita inspiratif darinya. Kadang aku merasa kebahagiaan masa kecilku kembali, saat Ustad Mansyur guru mengajiku dulu selalu menceritakan kisah-kisah nabi dan rasul, serta para sahabat dan kisah pejuang islam lainnya.
“Kau tahu dik kenapa abang selalu memakai sepatu merah ini?” Aku menggeleng pelan.
Ia tersenyum, “Meskipun sepatu ini sudah lusuh, terlihat kuno, beberapa kali sobek dan dijahit kembali, juga kelihatan sangat tidak layak untuk dipakai, sepatu ini memiliki filosofi.”
Aku semakin khidmat mendengarkan, “Sepatu ini milik kakekku yang meninggal enam tahun lalu. Ia memberikan sepatu ini tiga hari sebelum ia pergi untuk selamanya. Sepatu ini dipakainya saat ia seusiamu. Sengaja disimpan sebagai salah satu bukti perjuangannya.” Bang Bib menarik napas panjang lantas melanjutkan, “Dulu ia mengenakan sepatu ini saat masih nyantri di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sepatu ini menemaninya melawan pemberontak komunis 30 September 1965 saat mereka menyerang pesantren itu. Kiai yang begitu ia hormati jadi korban kekejaman dan fitnah orang-orang itu. Tapi kakek dan santri-santri lainnya tidak gentar dan mundur selangkah pun. Mereka terus bertahan dan melawan, hingga akhirnya berhasil menyelamatkan pesantren. Kisah itu selalu menginspirasiku. Setiap kali kakek menceritakan bagaimana perjuangan santri-santri itu, aku seperti bisa merasakan keberaniannya. Bagaimana keteguhan hati mereka yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi akidah yang mereka percaya dan demi saudara-saudara seiman. Aku selalu merasa iri dan berharap suatu saat bisa memberikan pengorbanan sebesar itu untuk agama ini.” Kulihat mata Bang Bib berkaca-kaca dan kekuatan hebat terpancar di dalamnya. Sebelum tetesan itu menyembur dari pelupuk, ia memejamkan mata kuat-kuat dan memandang ke arahku sambil tersenyum.
“Abang jadi terbawa suasana. Selalu menyenangkan mendengar cerita kakek. Kalau saja beliau masih hidup, Abang sangat ingin mengenalkannya padamu,” lanjutnya.
“Keteguhan dan semangat beliau sudah tertular padaku lewat Abang.”
“Aku tidak sempat merasakan nikmatnya ilmu hingga ke jenjangmu, dik. Tapi ada satu pesan kakek lagi yang ingin kusampaikan padamu.”
Aku mendengarkan pesan itu dengan hati tertusuk hingga merasa ilmu duniaku, Harvard, gelar bergengsi yang kudapat sebagai Alumni kampus terbaik di dunia tidak artinya.
Bang Bib memelukku erat-erat sekali lagi ketika aku berpamitan. Tanpa kusadari, itulah hari terakhir aku melihatnya.
Jakarta, November 2016.
Kutandai halaman terakhir yang kubaca dengan pita pembatas berwarna hijau lantas
kureggangkan sedikit kaki dan tangan yang kaku setelah beberapa jam khidmat membaca
sekaligus dengan pikiran tentang Bang Bib. Aku merindukan saudaraku itu.
Kunyalakan televisi untuk menonton sedikit berita. Innalillah… berita tentang bom yang
lagi-lagi meledak di tanah Pakistan. Zionis tanpa hati nurani kembali membombardir wilayah
itu setelah gencatan senjata selama tiga hari.
Siaran langsung dari lokasi kejadian. Seorang reporter berseragam serba hitam melaporkan
langsung dari lokasi. Kamera menyorot puing-puing gedung yang berserakan di belakangnya
lantas bergeser menuju kepulan asap di kejauhan. Namun, tiba-tiba sebuah bom mendarat
tak jauh dari posisi sang reporter, membuat kamera yang sedari tadi merekam kejadian sekitar
seperti kehilangan arah. Suara jeritan dan dzikir “Alluhu Akbar” menggema dan layar seketika
abu-abu.
Kembali ke studio di Jakarta. Presenter berita di televisi terlihat panik dan cukup kaget melihat
apa yang barusan sama-sama kami saksikan. Mereka kehilangan kontak dengan sang reporter.
Aku ikut khawatir menunggu kelanjutan berita dan kabar sang reporter serta warga yang berada
di sekitar lokasi.
“Baik pemirsa, kami kembali terhubung dengan saudara Zaki langsung dari Palestina.
Saudara Zaki, bagaimana kondisi di sana? Apakah ada korban terluka?” Lanjut presenter di televisi.
Kamera mula-mula menyorot tanah yang dipenuh reruntuhan bangunan, kepulan asap masih terlihat
di kejauhan. Sepertinya mereka bergeser ke tempat yang lebih aman. Saat itulah, saat kamera masih
mencari spot terbaik untuk ditampilkan dan saat sang reporter memulai laporannya, tiba-tiba kamera
menangkap sesuatu yang membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Kamera itu menangkap
dua pasang kaki dengan sepatu merah yang sangat aku kenali. Aku menatap layar kaca dengan mata
melebar dan tangan gemetaran. Kamera perlahan ke atas dan menyorot sang reporter, juga seseorang.
Orang itu… Orang itu… “Bang Bib”.
Bibirku keluh mengucap nama itu. Sosoknya kini muncul di samping sang reporter dan menjawab
beberapa pertanyaan yang diajukan. Wajahnya masih sama. Wajah teduh dengan gurat tegas yang menenangkan.
Mata cokelatnya memancarkan kekuatan besar yang berakar dari hati yang tak kalah kuat.
Sekarang aku paham tempat yang selalu ingin dikunjunginya. Tempat yang juga ingin dikunjungi semua
umat muslim di dunia namun penuh ragu dan rasa takut. Tempat terbaik untuk menutup lembar kehidupan.
Kini ia menuntaskan janjinya. Janji setia pada agama yang dijunjungnya. Mengorbankan jiwa dan raga demi
melindungi saudara seiman dan masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah, sang pemimpin umat.
Aku yang tadi refleks berdiri, kini terkulai lemas di kursi dan menarik napas panjang. Aku menemukannya.
Saudaraku yang kurindukan. Seketika kuingat pesan terakhir kakeknya yang meyakinkanku untuk kembali ke Indonesia,
“Ilmu dunia bisa menyelamatkanmu untuk tetap hidup. Namun lebih dari itu, ilmu agama akan menyelamatkanmu
untuk hidup dengan sebenar-benarnya kehidupan. Jangan tinggalkan keduanya. Namun, jika terpaksa harus memilih,
pilihlah ilmu agama.”
Kehilangan seseorang yang telah memberi kesan tak ternilai bagimu, tetapi ia bukan orangtua,
saudara, pasangan atau pun anakmu. Dia adalah orang asing.
Demikian yang kurasakan saat ini. Ketika ia tiba-tiba menghilang tepat tiga tahun yang lalu. Hari dimana aku berhasil memakai jubah kelulusan Harvard University. Impian hampir semua anak muda. Hari itu seharusnya aku bahagia, tetapi justru menjadi hari pertama aku merasakan kehilangan yang teramat mendalam. Begitu menyayat hati setiap kali mengingat orang itu.
International Logan Airport. Boston, November 2009.
Kubiarkan mataku menyapu bersih seluruh kesibukan bandara, sementara otakku sibuk memikirkan jalan mana yang akan kupilih untuk tiba di salah satu flat murah di daerah 293 North Brattle Street Cambridge. Aku sama seperti orang Indonesia pada umumnya yang baru pertama kali keluar negeri, terlebih ke negara Adidaya di dunia. Rasa kagum, bahagia, tidak percaya sekaligus khawatir memenuhi pikiranku. Tapi selalu kuingat pesan Bapak, “Di manapun kau berada, jangan merasa takut. Jangan pernah risau, karena tempat itu tetaplah bumi Allah. Selagi kau mengingatnya, maka Ia akan selalu mengiringimu.”
Mr.Richard yang seharusnya menjemputku tiba-tiba mengabarkan via email bahwa ia tidak bisa datang karena ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditunda. Sebagai gantinya, ia mengirimkan informasi tentang semua jalur dan alat transportasi umum yang bisa kugunakan untuk tiba di flat. Aku meneguhkan hati sekali lagi. Bismillah! Pilihanku tertuju pada taksi, tentu saja. Meskipun mahal, tetapi lebih baik dari pada aku tersesat di jalan. Lagi pula kata Mr.Richard, hanya butuh 30 menit jika menggunakan taksi. Sepertinya aku harus berhemat di hari pertamaku tiba di Amerika.
Kakiku hendak melangkah dari terminal E bagian kedatangan, ketika tiba-tiba sepasang kaki dengan sepatu berwarna merah berdiri tepat dihadapanku.
“Indonesia?”
Aku mendongak untuk melihat wajah pemilik kaki itu. Seketika seulas senyum menyambutku dan kubalas dengan senyum yang tak kalah ramah. Sosoknya tampak begitu ganjil berada di tengah puluhan manusia berambut pirang dengan bola mata warna-warni yang sedang lalu lalang. Ia berambut hitam sepertiku dan warna matanya cokelat.
“Iya, mas juga orang Indonesia?”
“Tepat! Perkenalkan nama saya Habiburrahman, panggil saja Bang Bib.” Tiba-tiba tubuhku terasa diguyur air segar. Begitu bahagia melihat saudara setanah air di negeri asing ini.
“Saya Khiar Ghani, boleh panggil Khiar atau Ghani,” sahutku sambil mengulurkan tangan.
“Pilihan terbaik.”
“Ya?” Keningku mengerut, tanda tidak mengerti.
“Khiar artinya pilihan terbaik. Tapi saya lebih suka menyebut Ghani.” Ia menjabat tanganku erat-erat seperti kawan lama yang baru bertemu setelah bertahun-tahun.
“Dari tadi saya melihat kamu seperti orang kebingungan di sini. Mahasiswa ya? Baru tiba? Belum ada yang menjemput?”
“Iya Bang. Orang yang seharusnya menjemput, tidak bisa datang karena ada kepentingan lain.”
Ia mengangguk sejenak, “Baiklah, mari saya antar. Kamu ke arah mana?”
Mataku melebar mendengar tawaran itu. “Di daerah 293 North Brattle Street Cambridge. Tapi saya tidak mau merepotkan Bang,” kataku, sungkan.
“Santai saja. Saya juga mau ke wilayah itu.”
Pertolongan Allah memang selalu datang dari arah yang tidak terduga, Ia menghadirkan seseorang yang bisa menjadi saudara di negeri asing ini. Selama perjalanan menuju Cambridge, kami bercakap-cakap panjang lebar. Tepatnya Bang Bib yang lebih banyak bercerita. Ia tiba di Amerika dua tahun yang lalu, setelah kakeknya meninggal. Ia berdarah Medan-Jawa. Ayahnya orang Medan dan Ibunya dari Yogyakarta, tetapi ia dan kakeknya tinggal di Bogor setelah orangtuanya meninggal saat ia masih berumur 8 tahun.
Ia memiliki beberapa pekerjaan. Hari senin sampai kamis, ia bekerja di sebuah bengkel otomotif dari pagi hingga sore, sedangkan hari jumat hingga minggu bekerja sebagai supir di salah satu perusahaan travel. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pegawai binatu dan office boy di malam hari. Ketika kutanya bagaimana ia mengatur waktu, ia hanya berkata, “ Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal; Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan. Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja. Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya. Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak. Ini pesan Rasulullah, saya hanya berusaha memanfaatkan semua anugerah itu dengan baik.”
Sejak hari itu, aku tahu bahwa ia bukan pemuda biasa. Umurnya masih 24 tahun, lima tahun lebih tua dariku. Tetapi pola pikir dan tindakannya sangat bijaksana.
Jakarta, Juli 2016.
Aku menarik napas panjang. Kitab Al-Hikam yang semestinya kubaca, justru menatapku memohon perhatian. Mataku sedari tadi hanya mengerjap-ngerjap kosong dengan pikiran yang kini berada di tahun 2010.
Museum of Science. Boston, Januari 2010.
Waktu telah memasuki jadwal shalat duhur. Namun, jangan berharap di tempat ini ada mushallah apalagi masjid. Mendengar suara adzan saja merupakan keajaiban. Itu salah satu hal yang membuatku merindukan Indonesia. Negara dengan sejuta masjid.
Aku bergegas ke toilet untuk berwudhu. Selanjutnya menyempil untuk mencari ruangan yang bisa dijadikan tempat shalat. Namun ternyata tidak semudah yang kupikirkan. Aku telah berkeliling museum untuk mencari tempat yang tepat. Ketika hendak kugelar sajadah lipat yang selalu kubawa kemana-mana, seorang petugas museum menegur, “What are you doing, Boy? Sorry, this is public place, be a distraction if you stand here.”
Akhirnya kulipat kembali sajadahku dan berniat keluar dari museum untuk mencari tempat shalat. Padahal aku baru menjelajah seperempat isi museum.
Saat aku hendak keluar, mataku menangkap sepatu merah yang tidak asing di salah satu
pojokan kecil yang sedikit tersembunyi. Aku mengenali sepatu itu. Iya, aku tahu pemiliknya.
Aku mendekat ke pojokan dan kulihat seorang pemuda tengah khusyuk sujud menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Sang Pemilik Semesta. Wajahnya teduh dan menenangkan. Beberapa pengunjung
museum terhenti sejenak mengamati orang itu.
Setelah salam keduanya selesai dan berzikir sebentar, ia berbalik dan tersenyum ketika melihatku
berdiri dihadapannya.
“Assalamu Alaikum, Bang.” Sapaku dengan wajah tak kalah bahagia.
“Wa’alaikum Salam, Ghani. Adik Abang.” Ia bangkit dan memelukku erat. Inilah salah satu kebahagiaan menemukan saudara seiman.
“Abang kerja di sini?” Aku menilik seragam yang ia kenakan.
“Iya, biasanya Abang ke sini saat malam hari. Tapi hari ini travel tempat Abang kerja sedang sepi, jadi Abang bisa pulang lebih cepat.”
Aku mengangguk-angguk, “Oh.. Bang, boleh saya numpang shalat di sini? Dari tadi saya tidak menemukan tempat untuk shalat.”
“Silakan, pakai saja. Abang juga mau lanjut kerja. Nanti kamu jangan pulang dulu ya? Kita makan malam bersama. Tenang saja, Abang yang traktir.”
“Siap Bang! Kalau ada gratisan, pasti ada Ghani.” Sahutku bersemangat.
Ia bekerja sebagai office boy dengan gaji 12 dollar per jam. Namun, ia tidak pernah megeluh dan mensyukuri semua yang diperolehnya.
“Kalau boleh tahu, kenapa Abang sampai bekerja keras seperti ini?” Tanyaku saat makan malam di sekitar Charles River.
“Abang ingin berkunjung ke suatu tempat. Jadi harus menabung.” Matanya menyiratkan kekuatan besar yang tersembunyi.
“Kemana Bang?” Tanyaku kembali.
“Ke tempat yang hampir semua muslim ingin mengunjunginya. Salah satu tempat terbaik untuk menutup lembaran hidup di bumi Allah. Tempat dimana keinginan untuk mengunjunginya sebesar ragu dan takut yang tersembunyi.” Aku mengernyitkan kening. Memangnya ada tempat seperti itu?
“Sudahlah, habiskan saja makananmu. Mumpung gratis. Abang tahu betul watak mahasiswa beasiswa sepertimu. Pemuja kata gratis.” Aku tersenyum lebar mendengar kalimatnya.
Itu pertemuan kedua kami. Sekaligus pintu pembuka pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Kadang ia mengunjungiku dengan membawa berbagai macam makanan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan selama seminggu ke depan. Kadang pula aku yang mengunjunginya demi mendengarkan
cerita-ceritanya. Selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersamanya. Kami berbagi cerita tentang
banyak hal. Meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi, ilmu dan pemahaman yang ia miliki jauh lebih
luas di banding kebanyakan mahasiswa.
Bahkan ide tugas akhirku di kampus juga kudiskusikan dengannya. Ilmu tentang hukum bagi penggiat
shadow economy di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan,
Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya. Penjelasan tentang shadow economy memang cenderung
ditutup-tutupi keberadaannya. Namun, Abang ini berhasil membuka pikiranku dan mengetuk rasa ingin
tahuku tentang keberadaannya.Aku lulus dari Harvard University dengan predikat cumlaude.
Boston, Juli 2013.
Sehari sebelum wisuda, kudatangi Bang Bib ke apartemennya untuk mengingatkan kembali agar ia datang ke acara wisudaku. Orangtuaku tidak bisa hadir dan ia kudaulat sebagai wakil keluarga. Aku sangat ingin membuatnya bangga hari itu. Namun, justru yang kudapatkan adalah kecewa dan penyesalan. Kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal?
Sikapnya sedikit aneh hari itu. Ia menatapku dengan senyum bahagia dan berulang kali mengatakan bangga padaku. “Kamu adalah salah satu harta agama dan bangsa yang tak ternilai. Kamu selalu mempertahankan akidah yang menyatu dalam darahmu bahkan di negara yang menganut kebebasan ini. Tidak semua pemuda bisa lulus ujian macam itu. Lulus di kampus besar dengan predikat cumlaude memang memuaskan, tapi lulus dari ujian-Nya dengan predikat muslim sejati merupakan kepuasaan tak ternilai. Abang bangga! Abang sungguh-sungguh bangga padamu.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, “Semua ini juga berkat dukungan dan bantuan Abang selama ini. Terima kasih, Bang.” Aku memeluknya dengan perasaan haru dan bahagia. Tak kusangka bisa menemukan seorang kakak sepertinya, disaat aku merasa sendirian di kota ini. Aku memberikan sebuah hadiah berupa sepatu pantofel hitam agar bisa dikenakannya besok saat menghadiri wisudaku. Hadiah itu hasil dari tabunganku selama tiga bulan terakhir. Ia menerimanya dengan senang hati.
“Abang ingin menceritakan satu kisah kepadamu,” Aku mengangguk takzim dan mengatur posisi duduk. Tak pernah bosan rasanya mendengar cerita-cerita inspiratif darinya. Kadang aku merasa kebahagiaan masa kecilku kembali, saat Ustad Mansyur guru mengajiku dulu selalu menceritakan kisah-kisah nabi dan rasul, serta para sahabat dan kisah pejuang islam lainnya.
“Kau tahu dik kenapa abang selalu memakai sepatu merah ini?” Aku menggeleng pelan.
Ia tersenyum, “Meskipun sepatu ini sudah lusuh, terlihat kuno, beberapa kali sobek dan dijahit kembali, juga kelihatan sangat tidak layak untuk dipakai, sepatu ini memiliki filosofi.”
Aku semakin khidmat mendengarkan, “Sepatu ini milik kakekku yang meninggal enam tahun lalu. Ia memberikan sepatu ini tiga hari sebelum ia pergi untuk selamanya. Sepatu ini dipakainya saat ia seusiamu. Sengaja disimpan sebagai salah satu bukti perjuangannya.” Bang Bib menarik napas panjang lantas melanjutkan, “Dulu ia mengenakan sepatu ini saat masih nyantri di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sepatu ini menemaninya melawan pemberontak komunis 30 September 1965 saat mereka menyerang pesantren itu. Kiai yang begitu ia hormati jadi korban kekejaman dan fitnah orang-orang itu. Tapi kakek dan santri-santri lainnya tidak gentar dan mundur selangkah pun. Mereka terus bertahan dan melawan, hingga akhirnya berhasil menyelamatkan pesantren. Kisah itu selalu menginspirasiku. Setiap kali kakek menceritakan bagaimana perjuangan santri-santri itu, aku seperti bisa merasakan keberaniannya. Bagaimana keteguhan hati mereka yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi akidah yang mereka percaya dan demi saudara-saudara seiman. Aku selalu merasa iri dan berharap suatu saat bisa memberikan pengorbanan sebesar itu untuk agama ini.” Kulihat mata Bang Bib berkaca-kaca dan kekuatan hebat terpancar di dalamnya. Sebelum tetesan itu menyembur dari pelupuk, ia memejamkan mata kuat-kuat dan memandang ke arahku sambil tersenyum.
“Abang jadi terbawa suasana. Selalu menyenangkan mendengar cerita kakek. Kalau saja beliau masih hidup, Abang sangat ingin mengenalkannya padamu,” lanjutnya.
“Keteguhan dan semangat beliau sudah tertular padaku lewat Abang.”
“Aku tidak sempat merasakan nikmatnya ilmu hingga ke jenjangmu, dik. Tapi ada satu pesan kakek lagi yang ingin kusampaikan padamu.”
Aku mendengarkan pesan itu dengan hati tertusuk hingga merasa ilmu duniaku, Harvard, gelar bergengsi yang kudapat sebagai Alumni kampus terbaik di dunia tidak artinya.
Bang Bib memelukku erat-erat sekali lagi ketika aku berpamitan. Tanpa kusadari, itulah hari terakhir aku melihatnya.
Jakarta, November 2016.
Kutandai halaman terakhir yang kubaca dengan pita pembatas berwarna hijau lantas
kureggangkan sedikit kaki dan tangan yang kaku setelah beberapa jam khidmat membaca
sekaligus dengan pikiran tentang Bang Bib. Aku merindukan saudaraku itu.
Kunyalakan televisi untuk menonton sedikit berita. Innalillah… berita tentang bom yang
lagi-lagi meledak di tanah Pakistan. Zionis tanpa hati nurani kembali membombardir wilayah
itu setelah gencatan senjata selama tiga hari.
Siaran langsung dari lokasi kejadian. Seorang reporter berseragam serba hitam melaporkan
langsung dari lokasi. Kamera menyorot puing-puing gedung yang berserakan di belakangnya
lantas bergeser menuju kepulan asap di kejauhan. Namun, tiba-tiba sebuah bom mendarat
tak jauh dari posisi sang reporter, membuat kamera yang sedari tadi merekam kejadian sekitar
seperti kehilangan arah. Suara jeritan dan dzikir “Alluhu Akbar” menggema dan layar seketika
abu-abu.
Kembali ke studio di Jakarta. Presenter berita di televisi terlihat panik dan cukup kaget melihat
apa yang barusan sama-sama kami saksikan. Mereka kehilangan kontak dengan sang reporter.
Aku ikut khawatir menunggu kelanjutan berita dan kabar sang reporter serta warga yang berada
di sekitar lokasi.
“Baik pemirsa, kami kembali terhubung dengan saudara Zaki langsung dari Palestina.
Saudara Zaki, bagaimana kondisi di sana? Apakah ada korban terluka?” Lanjut presenter di televisi.
Kamera mula-mula menyorot tanah yang dipenuh reruntuhan bangunan, kepulan asap masih terlihat
di kejauhan. Sepertinya mereka bergeser ke tempat yang lebih aman. Saat itulah, saat kamera masih
mencari spot terbaik untuk ditampilkan dan saat sang reporter memulai laporannya, tiba-tiba kamera
menangkap sesuatu yang membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Kamera itu menangkap
dua pasang kaki dengan sepatu merah yang sangat aku kenali. Aku menatap layar kaca dengan mata
melebar dan tangan gemetaran. Kamera perlahan ke atas dan menyorot sang reporter, juga seseorang.
Orang itu… Orang itu… “Bang Bib”.
Bibirku keluh mengucap nama itu. Sosoknya kini muncul di samping sang reporter dan menjawab
beberapa pertanyaan yang diajukan. Wajahnya masih sama. Wajah teduh dengan gurat tegas yang menenangkan.
Mata cokelatnya memancarkan kekuatan besar yang berakar dari hati yang tak kalah kuat.
Sekarang aku paham tempat yang selalu ingin dikunjunginya. Tempat yang juga ingin dikunjungi semua
umat muslim di dunia namun penuh ragu dan rasa takut. Tempat terbaik untuk menutup lembar kehidupan.
Kini ia menuntaskan janjinya. Janji setia pada agama yang dijunjungnya. Mengorbankan jiwa dan raga demi
melindungi saudara seiman dan masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah, sang pemimpin umat.
Aku yang tadi refleks berdiri, kini terkulai lemas di kursi dan menarik napas panjang. Aku menemukannya.
Saudaraku yang kurindukan. Seketika kuingat pesan terakhir kakeknya yang meyakinkanku untuk kembali ke Indonesia,
“Ilmu dunia bisa menyelamatkanmu untuk tetap hidup. Namun lebih dari itu, ilmu agama akan menyelamatkanmu
untuk hidup dengan sebenar-benarnya kehidupan. Jangan tinggalkan keduanya. Namun, jika terpaksa harus memilih,
pilihlah ilmu agama.”