Aku pernah mengenal seseorang. orang yang mengajarkanku banyak hal. orang yang menjadikanku merasa istimewa. orang yang selalu menyemangatiku untuk mimpi-mimpiku. dia baik. sungguh sangat baik. meskipun dia selalu merasa dirinya jahat dan tak pantas untuk apapun. tapi aku yakin dia baik. dia sangat istimewa sebagaimana ia membuatku selalu jadi istimewa. dia seorang komentator sejati. sangat senang menyemangati orang lain namun selalu lalai menyemangati dirinya sendiri. ^__^
Dia..
aku tak pernah melihatnya. aku tak pernah menyentuhnya.
dia nyata atau tidak, aku tak tau. yang ku tau dia pernah ada, tetap ada, dan akan selalu ada.
Dia..
orang yang sangat istimewa. seorang teman yang setia. seorang sahabat yang rela berkorban. seorang kakak yang bijaksana. seorang anak yang berbakti. dan seorang kekasih yang lembut hatinya.
Dia..
selalu terlihat cuek. namun semakin dia cuek, sebesar itu pula rasa pedulinya.
selalu terlihat santai menjalani apapun. namun dibalk itu, tanggung jawabnya tak diabaikan.
Dia..
jika dimintai sebuah pengakuan. aku orang pertama yang akan mengaku dia cerdas. sangat cerdas. hanya saja sedikit malas. :p
Karena dia..
aku semangat mengejar mimpi itu.
Karena dia..
aku tak peduli dengan masalah yang ada.
Karena dia..
aku tak pernah merasa sendiri.
Dari dia..
aku belajar jadi kakak yang baik.
Dari dia..
aku belajar menghargai hariku.
Dari dia..
aku belajar peduli pada dunia orang lain.
Untuk dia..
tetaplah jadi semangat untuk orang-orang yang ada disekitarmu. namun, jangan lupakan semangat untuk dirimu sendiri. aku yakin kamu bisa berubah. hanya perlu sedikit lebih menghargai apa yang kamu miliki saat ini termasuk kecerdasan yang diberikan Tuhan kepadamu. Dunia membutuhkan orang sepertimu.
Aku orang pertama yang percaya suatu saat kamu akan sukses. ^__^
Untuk dia..
sekali sayang, tetap sayang, akan selalu sayang.
Kamis, 30 Mei 2013
Rabu, 29 Mei 2013
Malaikat Kecil Itu Adikku
Di
tempat ini lagi dengan keadaan seperti ini lagi. Perlahan kulangkahkan kakiku
memasuki sebuah tempat yang teramat sakral bagiku, sebuah tempat yang
sebenarnya tak pernah ingin ku kunjungi. Namun sekarang tempat itu telah dan
harus jadi bagian dari alur hidupku. Aku melangkah lebih dekat dan semakin
dekat hingga tepat dihadapanku sebuah pusara yang masih terlihat baru
dibandingkan pusara-pusara disekitarnya. Sekilas kubaca sebuah nama dalam
pusara itu, aku sangat mengenalnya, nama itu teramat lekat denganku. Yaa… itu
pusara Ayahku. Titik-titik embun dibalik kelopak mata ini hendak keluar dari
peraduannya, namun terhenti ketika pandanganku kualihkan sekilas pada seorang
gadis kecil dihadapanku. Ia tersenyum padaku dengan senyum khasnya yang seakan
tak pernah pudar. Tahukah kamu ? hatiku hancur melihat senyuman itu. Aku merasa
malu, harusnya aku kuat, harusnya aku lebih tegar. Terekam kembali dalam memoriku,
kejadian setahun silam ketika satu bagian yang tak pernah kuharapkan hadir
mewarnai kisah hidupku terjadi dan merenggut impian-impianku. Sore itu, ketika hendak
ku tutup pintu rumah, dari kejauhan kulihat kerumunan orang-orang yang sedang
membopong sesuatu namun menuju kearah rumahku hingga akhirnya ku tahu bahwa
yang dibopong itu adalah ayahku. Aku tak tahu-menahu apa yang terjadi, yang
terlihat hanya orang-orang yang menangis dan Nampak sangat sedih. “ada apa ini
? apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku terjawab ketika kulihat tepat
dihadapanku, ayahku tergeletak kaku dengan mata tertutup dan enggan lagi untuk
menatap dunia. Saat itu, kurasakan langit seakan runtuh menimpaku. “Tuhan…
mengapa Engkau panggil ia secepat ini ? Tuhan… sungguh Engkau tak adil padaku”
aku mulai menyalahkan takdir yang seakan tak adil padaku. Namun, betapa malunya
aku ketika aku sedang menangis sejadi-jadinya tiba-tiba datang seorang gadis
kecil yang menyentuh lembut pipiku hendak menghapus air mataku. Matanya pun
tampak basah, namun ia mencoba tersenyum dan menerima kenyataan. Gadis kecil
itu, Zahra. Adikku. Ia Nampak begitu tegar dengan usianya yang saat itu
menginjak 6 tahun dan ironisnya lagi hari itu tepat sehari setelah hari ulang
tahunnya. Aku belajar menerima kenyataan hidup dari seorang gadis berusia 6
tahun. Pelajaran nomor satu yang ku dapatkan dari malaikatku itu.
“Dila…” suara lembut itu memecah
lamunanku.
“iya bu…”
“kita pulang yuk sayang”
Kulangkahkan
kembali kakiku menjauh dari tempat peristirahatan orang yang teramat kukasihi
ini. Sore itu nampak sangat sepi. Hanya ada sekumpulan anak kecil diseberang
jalan dengan pakaian yang nampak lusuh dan kumuh namun terlihat begitu bahagia.
Setelah ku perhatikan lebih dekat, salah seorang dari kumpulan anak-anak itu
adalah adikku. Sejak kapan ia ada disana?
Tiap kali ke makam ini, ia pasti menyempatkan diri untuk bermain dengan
anak-anak yang tinggal disekitar makam ini dan membagi-bagikan permen yang
didapatnya dari ibu tiap kali ia berhasil bangun pagi. Ia tak pernah mau membagi permennya dengan aku
dan kakaknya yang lain tiap kali kami minta permennya. Dengan tegasnya ia selalu
berkata “Tidak! Ini punya Zahra”. Namun,
aku pun tak pernah melihatnya memakan permen-permen itu. Ia hanya
mengumpulkannya pada kaleng susu kecil yang ia simpan dibawah tempat tidurnya.
Dan hari ini aku tahu, ternyata tiap pagi ia berusaha bangun pagi untuk
mendapatkan sebuah permen yang hendak ia bagikan pada teman-teman kecilnya itu.
Pelajaran nomor dua yang ku dapat dari malaikat kecilku ini, sesulit apapun
keadaan kita jangan pernah mengeluh dan tetap memberi karena diluar sana banyak
jiwa yang merasakan hal yang jauh lebih pahit dari kita.
Aku tak punya banyak waktu untuk
liburan pada Idul Fitri kali ini, waktu liburanku tersisa tiga hari lagi.
Setelah itu aku harus kembali kerutinitasku sebagai mahasiswa yang merantau di
kampung seberang. Selama berada di kampung halaman, kumanfaatkan waktuku sebaik
mungkin untuk menunjukkan baktiku pada ibuku dan kasihku pada kedua adikku.
Satu hal yang tak pernah kulewatkan selama berada di rumah, aku selalu shalat
berjamaah dengan adikku, Zahra. Adzan tengah berkumandang dari mesjid yang tak
jauh dari rumah, aku bergegas mengambil wudhu yang disusul adikku dibelakangku.
Sedangkan ibu dan Fahri bergegas bersama untuk shalat berjamaah di masjid. Aku
bersyukur berada dalam keluarga yang senantiasa menggantungkan hidupNya pada
Sang Maha Pencipta ini.
“Zahra… kok wudhunya buru-buru
sayang? Pelan-pelan aja” tanyaku mengganggu kekhusyuan wudhu Zahra.
“Zahra ga mau ketinggalan roket kak”
jawabnya polos sambil tersenyum.
“roket?” jawabku bingung.
“iyaa. Kata pak Uztad amalan shalat
itu akan sampai ke langit sesuai dengan waktu shalatnya.”
Aku mengerutkan kening kearah Zahra
sebagai tanda aku ingin penjelasan lebih jauh.
Zahra menyambung pembahasannya yang
berlaga ibarat seorang Uztadsah yang tengah berceramah dalam suatu majelis
“begini kakak dila, yang shalatnya lebih cepat maka amalannya akan sampai ke
Allah naik roket yang kencaaaaangg banget dalam bentuk cahaya yang paling
terang. Sedangkan yang shalatnya belakangan hanya akan naik mobil, naik motor,
naik sepeda, atau bahkan hanya jalan kaki. Makanya Zahra pengen amalan Zahra
naik roket biar cepet nyampe ke tempat Allah”
“oohh…” jawabku singkat tanda mengerti sambil
melebarkan senyuman.
“nah gitu kak”
“hmm… tapi ga harus cepet-cepet
wudhunya sayang, meskipun shalatnya diawal waktu tapi wudhunya ga sah gimana ?
wudhu itukan ibarat bahan bakar roketnya. Entar roketnya macet ditengah jalan
loh karena bahan bakarnya abis”
“iyaa juga yaa kak. Hehheee…”
sambung Zahra sambil berbalik arah kembali ke tempat wudhu untuk mengulang
wudhunya.
Setelah berwudhu kami pun shalat
berjamaah. Aku menjadi imam dalam tiap shalat kami, Zahra berada tepat
disebelahku. Hati terasa sangat tentram ketika menghadap pada Robb Yang Maha
Kasih. Tiada kenikmatan yang melebihi ketika sujud dihadapanNya. Subhanalloh…
Namun,
ketika sujudku pada rakaat kedua betapa terkejutnya aku ketika kurasakan
kehangatan pada pundakku. Aku tak tau apa penyebabnya. Hal itu terjadi hingga
sujud pada rakaat terakhirku. Hingga akhirnya aku mengetahui adikku Zahra
mencium pundakku ketika ia hendak sujud. Tuhan… air mataku menetes ditengah
sujudku. Sungguh adikku begitu menyayangiku. Melebihi rasa sayang yang aku
ketahui selama ini. Melebihi rasa sayangku padanya. Aku berdoa jauh dalam
sujudku. “Allahu Robbii… jaga malaikat kecilku ini, tuntun ia selalu kejalanMu
yang lurus. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya”.
Waktuku untuk berlibur di kampong
halaman terbilang singkat bahkan sangat singkat jika dibangdingkan mahasiswa-mahasiswa
lainnya. Hal itu disebabkan karena pilihanku untuk menjadi akivis kampus yang
penuh dengan kegiatan. Apalagi ketika musim liburan tiba, waktuku lebih banyak
kuhabiskan di kampus dari pada di tempat kost apalagi di kampong halaman. Tak heran
jika adik kecilku ini merasa sangat bahagia ketika kakaknya berada di rumah dan
merasa sangat sedih ketika aku hendak kembali ke tempatku menuntut ilmu.
Pertanyaannya yang tak pernah
terlewatkan setiap kali aku akan kembali ke tempat kuliahku, “kapan kakak akan
datang lagi?” dan jawaban yang kuberikan pasti selalu mengecewakannya “entahlah
sayang. InsyaAllah kalau kakak ada libur lagi” namun ketika mendengar jawabanku
ini, ia berusaha tersenyum pertanda puas dengan jawabanku.
Keesokan harinya, aku pun harus
meninggalkan rumah dan keluargaku kembali. Remuk rasanya harus meninggalkan
orang-orang yang kukasihi ini, namun semua kulakukan untuk mereka. Apalagi
ketika melihat senyum ibuku dengan matanya yang berkaca-kaca ketika hendak
melepasku. Satu hal lagi kebiasaan adikku yang sampai saat ini pun belum aku
temukan jawaban atas sikapnya itu. Ia tak pernah mau melihatku pergi
meninggalkan rumah. Setiap aku akan pergi, ia selalu meninggalkan rumah
terlebih dahulu bersama teman-temannya, jika ia sementara ada di rumah ia lebih
memilih untuk berada dalam kamar dan enggan untuk menyaksikanku meninggalkan
rumah. Namun, bukannya ia membiarkanku pergi tanpa sesuatu. Setiap tiba di
Makassar, selalu kutemukan sesuatu yang membuat air mataku mengalir. Yaa.. itu
dari adikku. Ia pernah menyelipkan boneka kecil kesayangannya ke dalam tasku,
ia pernah menyelipkan sebuah pulpen, sebuah tali sepatu, plastic tempat pensil
warna dan barang-barang lain miliknya. Dan hal itu yang membuatku antusias
untuk membuka ranselku malam ini setibanya di tempat kostku. Aku tidak
menemukan apa-apa, kubongkar semua isi tasku kembali. Dan aku masih tidak
menemukan apa-apa. “apa Zahra lupa menyelipkan sesuatu ya ?” pikirku. Kucari
kembali untuk ketiga kalinya dan masih kosong. Terbersit rasa kecewa dalam hati
ini hingga kuhentikan pencarianku.
Kuputuskan untuk beristirahat
sejenak sembari menatap kamarku yang cukup berantakan dan berdebu setelah lama
kutinggalkan. Jam menunjukkan pukul 20.00 WITA. Aku masih punya waktu sejam dua
jam untuk tidur kemudian melanjutkan laporanku yang kejar tayang hendak ku
kumpulkan esok hari di kampus. Maklum, mahasiswa penganut SKS alias Sistem
Kebut Semalam.
Setelah terlelap beberapa menit,
kuputuskan untuk bangkit dari kasurku yang empuk menuju tumpukan buku yang ada
di meja.
Senyum Najwa
Rembulan malam itu tersenyum, senyum yang indah. Sungguh sangat indah. Namun rasanya sangat tidak adil karena hanya sebagian penikmat karunia Tuhan yang mampu merasakan indahnya salah satu ciptaanNya itu. Betapa miris rasanya melihat keadaan gadis kecil disudut jalan Pettarani itu. Malam itu pertama kali aku berkenalan dengan Najwa. Gadis kecil berusia 8 tahun yang harus tinggal bersama adiknya yang baru berusia sekitar 3 tahun. Sejak usia 4 tahun, Najwa telah merasakan kerasnya kehidupan jalanan kota. Sebagaimana kehidupan jalanan, Najwa tumbuh menjadi gadis kecil yang keras, bahasa yang tidak tertata, cuek terhadap lingkungan sekitar, jauh berbeda dengan anak-anak yang sejak kecil mendapat kasih sayang orang tua dan mengenyam dunia pendidikan. Namun, dibalik kehidupan dan sikapnya yang keras itu terpendam mutiara indah jauh dalam lubuk hati anak ini. Hatinya begitu lembut.
Malam itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyapa gadis kecil itu. Aku telah lama memperhatikannya karena jalanan tempat Najwa mengais rejeki adalah jalanan yang kulalui setiap hari. Awalnya aku ragu namun rasa penasaranku yang membuncah mampu mengalahkan rasa ragu itu. Aku parkirkan motorku tak jauh dari tempat Najwa dan adiknya. Perlahan kudekati gadis kecil itu. Kulempar sebuah senyuman lembut sebagai tanda aku ingin menggapai lembut hatinya. Ia menatapku tanpa ekspresi. Begitu datar. Aku semakin mendekat namun ia berusaha mengacuhkanku. Setelah aku berada tepat dihadapannya, ia berusaha menghindar dariku, ia membereskan kardus-kardus yang ia jadikan alas beristirahat dengan adiknya. Malam itu sekitar jam 12 malam. Waktu ketika anak-anak seusianya telah terlelap ditempat tidurnya yang nyaman. Sedangkan dua gadis kecil ini harus tidur dibawah jalan layang beralaskan kardus seadanya dan kain tipis sebagai selimut. Malam yang dingin. Sangat dingin. Aku berusaha mencegahnya bergegas dari tempatnya.
“adik mau kemana?” sapaku lembut.
“mau pergi” jawabnya singkat.
“kemana? Kasihan adiknya pasti kedinginan.”
“bukan urusan kamu.” Ia menjawab dengan ketus. Alis matanya mengkerut seakan-akan ia bertanya dalam hati ‘orang ini siapa sih? Mau tau saja urusan orang’.
“maaf yaa adik kalau kakak mengganggu tapi boleh tidak kakak minta sedikit saja waktu adik. Kakak Cuma pengen kenalan. Boleh ? tambahku lagi.
“mau kenalan ? untuk apa ? saya tidak punya waktu” timpalnya kembali.
“hemm… kakak janji tidak akan lama. Atau gini aja supaya waktu adik tidak terbuang sia-sia nanti kakak kasih bayaran untuk tiap pertanyaan kakak. Gimana ?”
Dan sesuai dugaanku, ia akhirnya bersedia. Gambaran kehidupannya yang keras dan merasa uang adalah segalanya. Anak sekecil itu harus bersusah payah mencari recehan untuk bisa makan. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk adiknya. Apapun itu yang penting ia bisa mendapatkan uang. Termasuk untuk berteman sekalipun.
“adik namanya siapa?” tanyaku membuka perkenalan.
“najwa” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
“kalau sikecil ini namanya siapa?”
“Salah” jawabnya kembali. Karena ia tak dapat menyebut huruf R makanya nama adiknya yang sebenarnya Sarah berubah menjadi Salah.
“Najwa umurnya berapa sekarang?”
“8 tahun. Kalau Salah sudah 3 tahun.” Jawabnya mulai panjang dan sedikit terbuka.
“oohh… maaf yaa, kok Najwa bobo disini?”
“yaa.. mau bobo dimana lagi ? najwa tidak ada rumah”
“najwa sejak kapan bobo di tempat seperti ini?”
“sudah lama sejak Najwa kabur dari panti”
“najwa pernah tinggal di panti ? kenapa kabur ? bukannya dipanti tempat tidurnya lebih nyaman daripada disini?”
Ia pun menjelaskan mengapa ia kabur dari panti asuhan. Ia tidak tahan dengan ibu panti yang sangat keras dan suka memukulinya. Sungguh tragis nasib gadis kecil ini. Malam itu masih banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan pada Najwa. Namun, ia Nampak sangat lelah dan mengantuk.
“Najwa ngantuk. Mau tidur. Mana uangnya?” tanyanya mengakhiri pembicaraan kami yang cukup panjang malam itu. Aku pun memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan padanya. Ia Nampak lebih cerah dari sebelumnya setelah menerima uang dariku namun ia masih enggan untuk tersenyum.
Aku kembali ke rumah dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya ia mulai terbuka untuk berkenalan denganku. Entah mengapa aku merasa sayang pada gadis kecil itu. Ada sesuatu yang menarik darinya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Beberapa hari setelah perkenalan itu, setiap lewat dijalan itu aku selalu menyempatkan diri untuk menyapa atau sekedar tersenyum pada Najwa. Namun, gadis itu masih juga enggan membagi senyumnya padaku. Sejujurnya Najwa adalah gadis yang sangat manis. Ia punya lensung pipit di pipi kanannya yang mencuat sesekali saat ia bicara. Manisnya anak ini seandainya hari-harinya dipenuhi oleh senyuman.
Setelah beberapa pekan setelah awal perkenalanku dengan Najwa, aku semakin dekat dengannya. Hingga terungkap satu hal yang membuat hatiku tersentuh dan tak menyangka akan kelembutan hati gadis kecil yang nampak sangat keras dari luarnya ini. Sejak kecil Najwa tak pernah tau siapa orang tuanya dan tak pernah tau dimana ia berasal. Ia ditemukan di tempat sampah depan panti asuhan kala ia berumur 1 hari. Tuhan… orang tua macam apa yang tega membuang anaknya di tempat seperti itu. Hatiku sangat miris mendengar ucapan gadis kecil itu.
“kata ibu Aisyah, salah satu ibu panti yang baik hati, waktu itu Najwa nangis di tempat sampah. Lucu skali kata Ibu Aisyah, kak Putri.” Anak ini bercerita tanpa rasa dendam sedikitpun dihatinya pada orang tua yang tega membuangnya begitu saja.
Rasanya dadaku teramat sesak medengar cerita-cerita Najwa, hingga butiran-butiran lembut dari kelopak ini keluar dari peraduannya. Kenapa justru aku yang merasa kufur, merasa dunia ini begitu tak adil pada gadis kecil berhati lembut ini.
“kak putri kok nangis ?” Tanya Najwa. Dengan sigap aku menghapus butiran air mata ini dan tersenyum padanya. Hingga untuk pertama kalinya selama aku mengenal Najwa ia tersenyum padaku. Memperlihatkan barisan-barisan gigi ompongnya.
Tuhan… mengapa justru aku yang merasa begitu lemah ? harusya aku yang menguatkan gadis kecil ini.
Fakta lain yang kutemukan dalam kisah hidup gadis ini ternya Sarah bukanlah adik kandung dari Najwa. Ia mengaku menemukan Sarah tengah menangis karena kehilangan orang tuanya. Ia menemukan Sarah dipinggir pantai Losari saat ia dan teman-temannya sedang mengamen disana.
“ waktu itu Salah nangis k, Najwa Tanya siapa namanya tapi dia tidak jawab. Dia masih sangat kecil waktu itu. Belum bisa jalan k. najwa nemuin dek Salah dipinggir jalan.”
“trus kenapa Najwa ga coba nyari orang tua Sarah?”
“sudah kak. Ada yang ngaku orang tua Sarah tapi Najwa tau dia anak buah Om Parman.”
“memangnya Om Parman itu siapa?”
“Om Parman itu, Om Om yang jadi bos pengemis di Pantai. Najwa tidak mau Salah dibawa sama dia. Nanti Salah juga dipukuli kayak Najwa.”
“memangnya Najwa pernah dipukuli sama Om Parman?”
“iya. Pernah. Waktu Najwa ikut sama Om Parman. Tapi Najwa kabur lagi. Najwa pernah ditangkap lagi lho kak putri. Sampe Najwa pernah diikat pakai rantai dikaki Najwa. Ini masih ada bekasnya.” Sambung Najwa sambil memperlihatkan kakinya yang terdapat luka seperti luka gores.
Air mata ini semakin deras mengalir. Semakin aku berusa menahannya semakin dadaku terasa sesak. Hidup ini sungguh tak adil. Tak adil bagi Najwa dan Sarah.
Aku memandang wajah Sarah yang tengah lelap.
“Najwa tidak takut malam-malam begini tidur diluar berdua dengan dek Sarah ?”
“sudah biasa kak putri.”
“kenapa Najwa tidak balik saja ke panti asuhan?”
“tidak mau !” ucap Najwa yang tiba-tiba kembali ketus.
“kenapa sayang ? bukannya disana ada Ibu Aisyah yang baik hati.”
“Ibu Aisyah juga jahat. Ibu Aisyah ninggalin Najwa juga. Kata teman-teman Ibu Aisyah pergi ke tempat Tuhan. Ibu Aisyah pergi tapi tidak mengajak Najwa.”
“Ibu panti yang lain kan ada syg? Apalagi kalau nanti ada orang tua yang mau jadiin Najwa anak mereka.”
“Najwa tidak mau kalau tidak ada Ibu Aisyah. Ibu Norma jahat sama Najwa. Suka pukul Najwa.
“trus dek Sarah bagaimana ? Najwa tega biarin Sarah tidur ditempat seperti ini setiap hari?”
“tidak. Tapi Najwa tidak mau pisah sama Salah” Najwa kembali mengeluarkan nada tinggi hingga air matanya pun tumpah tanpa ia sadari.
Hatiku semakin hancur melihat dua gadis kecil ini. Perjuangan hidup mereka sungguh tidak mudah. Berbeda denganku yang sejak dulu tinggal bersama orang tua dan minta apapun selalu ada. Aku memeluk Najwa erat. Aku tak ingin melepasnya. Ia membalas pelukanku. Ingin rasanya aku membawa mereka pulang dan menjadikan mereka adik-adikku. Tapi bagaimana dengan orang tuaku ? apalagi di Makassar ini aku masih tinggal kost. Masih mengandalkan biaya hidup dari orang tua. Kuliahku saja belum selesai. Tuhan… apa yang bisa kulakukan untuk gadis kecil ini ?
“Najwa syg, malam ini Najwa mau tidak ikut kak Putri?” ajakku untuk kesekian kalinya berharap ia menerima ajakanku kali ini. Dan alhasil ia mengangguk menandakan iya. Senang rasanya melihat isyarat itu. Aku membawa Najwa dan Sarah ke tempat kost ku, sekitar sepuluh kilometer dari tempat Najwa dan Sarah mengais rezeki. Malam itu adalah malam yang sangat indah untukku, melihat dua gadis kecil yang sangat aku kasihi ini tidur di tempat tidur yang layak. Aku menatap wajah mungil mereka yang tengah terlelap. Ada perasaan haru, senang, bingung, marah atas orang tua yang tega menelantarkan anak mereka seperti ini. Terbersit dalam hatiku, aku ingin segera jadi seorang ibu. Akan kutunjukkan pada dunia, aku akan menjadi ibu yang baik. Ibu yang merawat anak-anaknya dengan segenap jiwa. Aku pun teringat pada tanteku yang memiliki panti Asuhan di salah satu kota kecil tak jauh dari Ibu Kota Makassar. Aku berniat menitipkan Najwa dan Sarah pada tanteku itu. Dengan bersusah payah aku membujuk Najwa untuk mengikuti ajakanku itu. Ia menolak. Sangat keras. Hingga akhirnya aku mengajak Najwa dan Sarah ke tempat itu. Sarah terlihat sangat bahagia dan senang berada disana. Melihat kebahagiaan Sarah itu, akhirnya Najwa memutuskan untuk menerima tawaranku untuk tinggal dipanti itu. Aku berjanji pada Najwa dan Sarah bahwa suatu saat aku akan datang untuk menjemput mereka. Aku janji itu. Suatu saat ketika aku mampu membiaya diriku sendiri. Aku akan menjadikan mereka kakak dari anak-anakku. Hingga senyum yang selalu kurindukan itu akan senantiasa mewarnai istana kecil yang akan kubangun. Iya.. suatu saat nanti. Tunggu aku Najwa…
Cerita Tentang Cerita
Kumulai tulisanku dengan sebuah cerita, bukan tentang diriku atau orang lain. Namun, tentang cerita itu sendiri. Yaa.. sebuah cerita tentang cerita. Segala sesuatu punya ceritanya sendiri. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang punya cerita sama. Ada yang sama tapi sebenarnya tak sama. semua yang ada di dunia ini punya ceritanya masing-masing yang unik dan berbeda. Ada yang cenderung menyama-nyamakan, lebih tepatnya memaksa menyamakan. Namun bukankah sesuatu yang berbeda itu lebih istimewa ?
Tuhan telah mengatur semuanya dengan istimewa. Tuhan telah menuliskan naskah indahnya dan engkau adalah pelakonnya. engkau yang berhak mengimprovisasi ceritamu sendiri. Silahkan mainkan peranmu dengan indah, unik, dan berbeda. Dan Tuhan tak pernah membiarkanmu sendiri. Harta dan tahta tak selamanya bisa diwariskan, namun sebuah cerita dapat diwariskan hingga puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun mendatang tanpa pernah mengurangi makna dalam cerita itu.
Langganan:
Postingan (Atom)

