Rabu, 29 Mei 2013

Senyum Najwa

        Rembulan malam itu tersenyum, senyum yang indah. Sungguh sangat indah. Namun rasanya sangat tidak adil karena hanya sebagian penikmat karunia Tuhan yang mampu merasakan indahnya salah satu ciptaanNya itu. Betapa miris rasanya melihat keadaan gadis kecil disudut jalan Pettarani itu. Malam itu pertama kali aku berkenalan dengan Najwa. Gadis kecil berusia 8 tahun yang harus tinggal bersama adiknya yang baru berusia sekitar 3 tahun. Sejak usia 4 tahun, Najwa telah merasakan kerasnya kehidupan jalanan kota. Sebagaimana kehidupan jalanan, Najwa tumbuh menjadi gadis kecil yang keras, bahasa yang tidak tertata, cuek terhadap lingkungan sekitar, jauh berbeda dengan anak-anak yang sejak kecil mendapat kasih sayang orang tua dan mengenyam dunia pendidikan. Namun, dibalik kehidupan dan sikapnya yang keras itu terpendam mutiara indah jauh dalam lubuk hati anak ini. Hatinya begitu lembut.
            Malam itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyapa gadis kecil itu. Aku telah lama memperhatikannya karena jalanan tempat Najwa mengais rejeki adalah jalanan yang kulalui setiap hari. Awalnya aku ragu namun rasa penasaranku yang membuncah mampu mengalahkan rasa ragu itu. Aku parkirkan motorku tak jauh dari tempat Najwa dan adiknya. Perlahan kudekati gadis kecil itu. Kulempar sebuah senyuman lembut sebagai tanda aku ingin menggapai lembut hatinya. Ia menatapku tanpa ekspresi. Begitu datar. Aku semakin mendekat namun ia berusaha mengacuhkanku. Setelah aku berada tepat dihadapannya, ia berusaha menghindar dariku, ia membereskan kardus-kardus yang ia jadikan alas beristirahat dengan adiknya. Malam itu sekitar jam 12 malam. Waktu ketika anak-anak seusianya telah terlelap ditempat tidurnya yang nyaman. Sedangkan dua gadis kecil ini harus tidur dibawah jalan layang beralaskan kardus seadanya dan kain tipis sebagai selimut. Malam yang dingin. Sangat dingin. Aku berusaha mencegahnya bergegas dari tempatnya.
            “adik mau kemana?” sapaku lembut.
            “mau pergi” jawabnya singkat.
            “kemana? Kasihan adiknya pasti kedinginan.”
            “bukan urusan kamu.” Ia menjawab dengan ketus. Alis matanya mengkerut seakan-akan ia bertanya dalam hati ‘orang ini siapa sih? Mau tau saja urusan orang’.
            “maaf yaa adik kalau kakak mengganggu tapi boleh tidak kakak minta sedikit saja waktu adik. Kakak Cuma pengen kenalan. Boleh ? tambahku lagi.
            “mau kenalan ? untuk apa ? saya tidak punya waktu” timpalnya kembali.
            “hemm… kakak janji tidak akan lama. Atau gini aja supaya waktu adik tidak terbuang sia-sia  nanti kakak kasih bayaran untuk tiap pertanyaan kakak. Gimana ?”
Dan sesuai dugaanku, ia akhirnya bersedia. Gambaran kehidupannya yang keras dan merasa uang adalah segalanya. Anak sekecil itu harus bersusah payah mencari recehan untuk bisa makan. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk adiknya. Apapun itu yang penting ia bisa mendapatkan uang. Termasuk untuk berteman sekalipun.
            “adik namanya siapa?” tanyaku membuka perkenalan.
            “najwa” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
            “kalau sikecil ini namanya siapa?”
            “Salah” jawabnya kembali. Karena ia tak dapat menyebut huruf R makanya nama adiknya yang sebenarnya Sarah berubah menjadi Salah.
            “Najwa umurnya berapa sekarang?”
            “8 tahun. Kalau Salah sudah 3 tahun.” Jawabnya mulai panjang dan sedikit terbuka.
            “oohh… maaf yaa, kok Najwa bobo disini?”
            “yaa.. mau bobo dimana lagi ? najwa tidak ada rumah”
            “najwa sejak kapan bobo di tempat seperti ini?”
            “sudah lama sejak Najwa kabur dari panti”
            “najwa pernah tinggal di panti ? kenapa kabur ? bukannya dipanti tempat tidurnya lebih nyaman daripada disini?”
Ia pun menjelaskan mengapa ia kabur dari panti asuhan. Ia tidak tahan dengan ibu panti yang sangat keras dan suka memukulinya. Sungguh tragis nasib gadis kecil ini. Malam itu masih banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan pada Najwa. Namun, ia Nampak sangat lelah dan mengantuk.
            “Najwa ngantuk. Mau tidur. Mana uangnya?” tanyanya mengakhiri pembicaraan kami yang cukup panjang malam itu. Aku pun memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan padanya. Ia Nampak lebih cerah dari sebelumnya setelah menerima uang dariku namun ia masih enggan untuk tersenyum.
            Aku kembali ke rumah dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya ia mulai terbuka untuk berkenalan denganku. Entah mengapa aku merasa sayang pada gadis kecil itu. Ada sesuatu yang menarik darinya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Beberapa hari setelah perkenalan itu, setiap lewat dijalan itu aku selalu menyempatkan diri untuk menyapa atau sekedar tersenyum pada Najwa. Namun, gadis itu masih juga enggan membagi senyumnya padaku. Sejujurnya Najwa adalah gadis yang sangat manis. Ia punya lensung pipit di pipi kanannya yang mencuat sesekali saat ia bicara. Manisnya anak ini seandainya hari-harinya dipenuhi oleh senyuman.
            Setelah beberapa pekan setelah awal perkenalanku dengan Najwa, aku semakin dekat dengannya. Hingga terungkap satu hal yang membuat hatiku tersentuh dan tak menyangka akan kelembutan hati gadis kecil yang nampak sangat keras dari luarnya ini. Sejak kecil Najwa tak pernah tau siapa orang tuanya dan tak pernah tau dimana ia berasal. Ia ditemukan di tempat sampah depan panti asuhan kala ia berumur 1 hari. Tuhan… orang tua macam apa yang tega membuang anaknya di tempat seperti itu. Hatiku sangat miris mendengar ucapan gadis kecil itu.
            “kata ibu Aisyah, salah satu ibu panti yang baik hati, waktu itu Najwa nangis di tempat sampah. Lucu skali kata Ibu Aisyah, kak Putri.” Anak ini bercerita tanpa rasa dendam sedikitpun dihatinya pada orang tua yang tega membuangnya begitu saja.
Rasanya dadaku teramat sesak medengar cerita-cerita Najwa, hingga butiran-butiran lembut dari kelopak ini keluar dari peraduannya. Kenapa justru aku yang merasa kufur, merasa dunia ini begitu tak adil pada gadis kecil berhati lembut ini.
            “kak putri kok nangis ?” Tanya Najwa. Dengan sigap aku menghapus butiran air mata ini dan tersenyum padanya. Hingga untuk pertama kalinya selama aku mengenal Najwa ia tersenyum padaku. Memperlihatkan barisan-barisan gigi ompongnya.
Tuhan… mengapa justru aku yang merasa begitu lemah ? harusya aku yang menguatkan gadis kecil ini.
Fakta lain yang kutemukan dalam kisah hidup gadis ini ternya Sarah bukanlah adik kandung dari Najwa. Ia mengaku menemukan Sarah tengah menangis karena kehilangan orang tuanya. Ia menemukan Sarah dipinggir pantai Losari saat ia dan teman-temannya sedang mengamen disana.
            “ waktu itu Salah nangis k, Najwa Tanya siapa namanya tapi dia tidak jawab. Dia masih sangat kecil waktu itu. Belum bisa jalan k. najwa nemuin dek Salah dipinggir jalan.”
            “trus kenapa Najwa ga coba nyari orang tua Sarah?”
            “sudah kak. Ada yang ngaku orang tua Sarah tapi Najwa tau dia anak buah Om Parman.”
            “memangnya Om Parman itu siapa?”
            “Om Parman itu, Om Om yang jadi bos pengemis di Pantai. Najwa tidak mau Salah dibawa sama dia. Nanti Salah juga dipukuli kayak Najwa.”
            “memangnya Najwa pernah dipukuli sama Om Parman?”
            “iya. Pernah. Waktu Najwa ikut sama Om Parman. Tapi Najwa kabur lagi. Najwa pernah ditangkap lagi lho kak putri. Sampe Najwa pernah diikat pakai rantai dikaki Najwa. Ini masih ada bekasnya.” Sambung Najwa sambil memperlihatkan kakinya yang terdapat luka seperti luka gores.
Air mata ini semakin deras mengalir. Semakin aku berusa menahannya semakin dadaku terasa sesak. Hidup ini sungguh tak adil. Tak adil bagi Najwa dan Sarah.
Aku memandang wajah Sarah yang tengah lelap.
“Najwa tidak takut malam-malam begini tidur diluar berdua dengan dek Sarah ?”
“sudah biasa kak putri.”
“kenapa Najwa tidak balik saja ke panti asuhan?”
“tidak mau !” ucap Najwa yang tiba-tiba kembali ketus.
“kenapa sayang ? bukannya disana ada Ibu Aisyah yang baik hati.”
“Ibu Aisyah juga jahat. Ibu Aisyah ninggalin Najwa juga. Kata teman-teman Ibu Aisyah pergi ke tempat Tuhan. Ibu Aisyah pergi tapi tidak mengajak Najwa.”
“Ibu panti yang  lain kan ada syg? Apalagi kalau nanti ada orang tua yang mau jadiin Najwa anak mereka.”
“Najwa tidak mau kalau tidak ada Ibu Aisyah. Ibu Norma jahat sama Najwa. Suka pukul Najwa.
“trus dek Sarah bagaimana ? Najwa tega biarin Sarah tidur ditempat seperti ini setiap hari?”
“tidak. Tapi Najwa tidak mau pisah sama Salah” Najwa kembali mengeluarkan nada tinggi hingga air matanya pun tumpah tanpa ia sadari.
Hatiku semakin hancur melihat dua gadis kecil ini. Perjuangan hidup mereka sungguh tidak mudah. Berbeda denganku yang sejak dulu tinggal bersama orang tua dan minta apapun selalu ada. Aku memeluk Najwa erat. Aku tak ingin melepasnya. Ia membalas pelukanku. Ingin rasanya aku membawa mereka pulang dan menjadikan mereka adik-adikku. Tapi bagaimana dengan orang tuaku ? apalagi di Makassar ini aku masih tinggal kost. Masih mengandalkan biaya hidup dari orang tua. Kuliahku saja belum selesai. Tuhan… apa yang bisa kulakukan untuk gadis kecil ini ?

            “Najwa syg, malam ini Najwa mau tidak ikut kak Putri?” ajakku untuk kesekian kalinya berharap ia menerima ajakanku kali ini. Dan alhasil ia mengangguk menandakan iya. Senang rasanya melihat isyarat itu. Aku membawa Najwa dan Sarah ke tempat kost ku, sekitar sepuluh kilometer dari tempat Najwa dan Sarah mengais rezeki. Malam itu adalah malam yang sangat indah untukku, melihat dua gadis kecil yang sangat aku kasihi ini tidur di tempat tidur yang layak. Aku menatap wajah mungil mereka yang tengah terlelap. Ada perasaan haru, senang, bingung, marah atas orang tua yang tega menelantarkan anak mereka seperti ini. Terbersit dalam hatiku, aku ingin segera jadi seorang ibu. Akan kutunjukkan pada dunia, aku akan menjadi ibu yang baik. Ibu yang merawat anak-anaknya dengan segenap jiwa. Aku pun teringat pada tanteku yang memiliki panti Asuhan di salah satu kota kecil tak jauh dari Ibu Kota Makassar. Aku berniat menitipkan Najwa dan Sarah pada tanteku itu. Dengan bersusah payah aku membujuk Najwa untuk mengikuti ajakanku itu. Ia menolak. Sangat keras. Hingga akhirnya aku mengajak Najwa dan Sarah ke tempat itu. Sarah terlihat sangat bahagia dan senang berada disana. Melihat kebahagiaan Sarah itu, akhirnya Najwa memutuskan untuk menerima tawaranku untuk tinggal dipanti itu. Aku berjanji pada Najwa dan Sarah bahwa suatu saat aku akan datang untuk menjemput mereka. Aku janji itu. Suatu saat ketika aku mampu membiaya diriku sendiri. Aku akan menjadikan mereka kakak dari anak-anakku. Hingga senyum yang selalu kurindukan itu akan senantiasa mewarnai istana kecil yang akan kubangun. Iya.. suatu saat nanti. Tunggu aku Najwa…

1 komentar:

  1. :'(
    subhanallah. najwa adalah bukti ketulusan hatimu.

    di tunggu cerita2 berikutnya :)

    BalasHapus