LAUTAN MIMPI
Apakah kau percaya bahwa dengan
kebaikan, kesugguhan dan kejujuran sebuah mimpi besar dapat tercapai? Mungkin
kau akan tertawa dan menganggap ini sebagai lelucon. Tapi aku percaya, bahkan
sangat percaya. Akan kuceritakan padamu sebuah kisah yang mungkin akan
membuatmu semakin tertawa. Tetapi sebelum kuceritakan, terlebih dahulu tanamkanlah
dalam dirimu kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.
Ini hanya satu kisah tentang seorang
anak yang percaya pada kekuatan mimpi. Ia lahir dengan mimpi menjadi pemain
sepak bola dunia. Sebuah mimpi yang mustahil untuk seorang anak kampung yang
tinggal di pesisir pantai Sabang. Tepat di kilometer nol Indonesia. Semakin
mustahil lagi karena ia lahir dengan kaki yang tidak simetris. Kaki sebelah
kirinya lebih pendek beberapa centimeter
dibanding kaki sebelah kanannya. Hanya satu orang di dunia ini yang percaya
bahwa ia bisa menjadi pemain sepak bola dunia. Sang ayah, Tengku Majid. Seorang nelayan miskin yang sehari-hari
bekerja di tengah lautan. Ah, bagaimana pula seseorang yang bahkan tak pernah
menginjakkan kaki ke lapangan sepak bola mampu melatih seorang anak bermain
sepak bola? Namun sang ayah lah yang selalu menanamkan keyakinan dan
menumbuhkannya menjadi bunga semangat yang tak pernah kuncup.
Tengku Majid melaut setiap malam hari
saat angin laut sedang bersahabat dan pulang ketika matahari mulai menunjukkan
pesonanya. Setelah itu, ia dibantu sang istri menjualkan hasil tangkapannya ke
pasar. Sore hari, barulah ia mengajak sang anak ke tepi pantai untuk berlatih
sepak bola.
“Bapak, kaki abang sakit pakai bola ini”
ia menunjukkan kaki merahnya karena seharian menendang bola yang terbuat dari batok
kelapa yang dengan dibentuk sedemikian rupa menyerupai bola.
“Sabar sedikit lagi nak, minggu depan
ayah belikan kau bola” Amar kecil hanya mengangguk dengan cahaya harapan
dimatanya.
Sambil
menyaksikan hebatnya matahari terbenam di lautan Aceh, Tengku Majid merentangkan
kakinya diatas pasir putih yang lembut. Disampingnya sang anak ikut duduk
menatap kagum pada pemandangan istimewa dihadapannya. Hanya sekian detik
matahari sempurna tergelincir ke tempat persembunyiannya.
“Amar
anakku, bisa kau lihat ujung lautan ini? Bapak harap mimpimu akan seluas lautan,
tanpa ujung, tanpa batasan. Suatu hari kau akan berlayar dari sudut-sudut dunia
untuk memperjuangkan mimpi-mimpimu dan bapak orang pertama yang percaya bahwa
kau bisa meraihnya. Milikilah kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.” Amar kecil
khidmat mendengarkan nasihat sang ayah. Ombak dihadapan mereka menjadi saksi kuatnya
mimpi seorang anak pesisir. Lautan mimpi yang tak akan goyah meski menghantam
dinding karang sekuat baja.
Amar
kecil berlatih setiap hari dengan penuh keyakinan. Ia tak peduli pada ejekan
teman-temannya yang terus berusaha mematahkan semangatnya. “Jalan saja susah,
bagaimana mau jadi pemain sepak bola? Jangan mimpi kau mar”
Kalimat-kalimat
ejekan itu justru menjadi suntikan semangat bagi Amar dan membuatnya semakin
giat berlatih. Ketika Amar berusia 12 tahun Tengku Majid mengajaknya menonton
pertandingan sepak bola tingkat propinsi di kota Banda Aceh. Dengan menumpang
perahu kayu milik tetangga yang juga ingin menyaksikan pertandingan itu,
berangkatlah mereka ke ibu kota propinsi. Amar begitu terpesona menyaksikan
gerakan lincah kaki-kaki pemain lapangan itu. Semangat dalam dirinya kian
terbakar hingga ia pun semakin semangat berlatih.
Dua
tahun kemudian, tim sepak bola propinsi sedang mencari pemain junior.
Berangkatlah Amar dengan restu dari ibu dan bapaknya. Bocah kampung merantau ke
kota untuk mengejar mimpi. Kalimat ini sepertinya sering terdengar. Beberapa
berhasil dan beberapa terpaksa pulang menghabiskan sisa usia di kampung
halaman. Tetapi Amar ingin memperjuangkan mimpi-mimpinya.
Di
kota ia menumpang pada tetangganya yang sedang merantau mencari pekerjaan. Uang
tabungannya bertahun-tahun dan bekal dari sang ayah tidak cukup untuk menyewa
sebuah tempat tinggal.
Pada
hari seleksi tanpa perlu mengikuti tes di lapangan, ia langsung dinyatakan
gugur. Panitia seleksi tidak bisa menerimanya dengan dalih kakinya yang tidak
simetris. Amar merasa dunianya akan berakhir, tapi tak mungkin ia pulang ke kampung
halaman dan menyerah. Petuah-petuah sang ayah terus terngiang dalam hati dan
pikirannya. Ia akan melakukan apapun untuk meraih impiannya. Amar pun menawarkan
diri menjadi petugas kebersihan di klub sepak bola itu. Setidaknya ia bisa
menyaksikan orang-orang yang berlatih dan melihat megahnya lapangan sepak bola
yang tidak pernah ada di kampungnya.
Hanya
dengan melihat lapangan sepak bola setiap hari, sudah mampu menumbuhkan
semangatnya. Ia pun diizinkan menempati gudang tempat peralatan sepak bola tua
yang sudah tidak terpakai. Setiap malam setelah semua pekerjaannya selesai dan
latihan klub juga telah selesai, ditemani pak Samid yang juga bekerja disana, ia
bertugas menyimpan alat-alat yang telah digunakan untuk latihan. Kesempatan itu
tak dilewatkan Amar untuk berlatih. Selama 10-15 menit ia bermain sendiri di tengah
lapangan. Menggiring bola menuju gawang dengan sangat piawai. Merasakan euphoria bermain sungguhan dalam sebuah
pertandingan megah.
“Seharusnya
kau menjadi pemain di klub ini nak, bukan petugas kebersihan. Kau bahkan lebih
berbakat dari orang-orang yang ada disini”
“Nasib
berkata lain pak. Tapi Amar tidak akan menyerah seperti kata bapak, miliki
kebaikan, kesungguhan dan kejujuran”
Hingga
suatu malam saat Amar sedang berlatih sendirian, seorang pelatih klub
melihatnya dan sangat terpukau dengan gerakan lincah kaki-kaki Amar menggiring
bola. Sang pelatih berjalan ke pinggir lapangan, hendak melihat permainan Amar
lebih dekat. Amar segera menghentikan permainannya dan meminta maaf karena
telah menggunakan peralatan tanpa izin.
“Saya
pikir kamu salah satu pemain klub ini. Siapa namamu? Boleh sekali lagi saya
melihat permainan sepak bolamu tadi?” Sang pelatih merasa sangat terpesona
dengan permainan Amar hingga akhirnya Amar diajak bergabung dalam klub. Awalnya
sebagai pemain cadangan, kemudian menjadi pemain utama. Karir sepak bola Amar
semakin bersinar hingga pada tahun kedua ia berhasil membawa timnya kebabak
final sepak bola Nasional. Ia sangat menjujung tinggi kejujuran dalam bermain.
Beberapa kali ia mendapat tawaran berlaku curang oleh pihak-pihak tertentu yang
memiliki kepentingan. Namun ia selalu teringat petuah yang disampaikan ayahnya.
Karir Amar terus menanjak hingga saat ini ia telah resmi menjadi pemain Tim sepak
bola Nasional. Mimpinya menjadi pemain dunia semakin dekat.
Kau
tahu, kenapa aku tahu persis kisah si Amar? Sebab inilah aku, Amar bin Majid
yang akan segera mambawa nama bangsa dikancah dunia. Mimpiku menjadi pemain
sepak bola dunia selangkah lagi akan terwujud melalui kebaikan, kesungguhan dan
kejujuran.