Sabtu, 28 Februari 2015

Cerpenku

 Secarik Rindu

                Zah menarik nafas panjang. Matanya mengamati sekitar. Kesibukan kota yang tak pernah padam. Bahkan ditengah terpaan hujan seperti sore ini. Ia sangat menyukai hujan seperti kesukaannya pada coklat hangat yang kini merapat dikedua tangannya. Ia mengatupkan tangannya membungkus gelas berisi cokelat yang hangatnya terasa menembus kulit.
                Hujan yang kian deras memaksanya untuk berteduh. Motor matic birunya terparkir pasrah dibawah guyuran hujan. Lima belas menit yang lalu ia memutuskan berteduh disebuah coffee shop di pinggir jalan.
                Percikan air hujan terlihat hendak menembus, namun tergulai pasrah perlahan mengalir di dinding kaca besar toko. Zah menarik pandangannya menuju percikan-percikan air hujan di jendela kaca dekat tempat duduknya. Tatapannya kosong. Pikirannya mulai melayang pada hujan tiga tahun yang lalu di salah satu toko buku besar di tengah kota.
                Zah sedang memilih-milih buku di pojok toko bertuliskan “Novel dan Fiksi” ia menggerakkan jari-jarinya disudut buku-buku yang terpajang rapi di rak-rak toko. Hingga tanpa sadar ia menjatuhkan buku ditangannya yang sudah ia pilih terlebih dahulu.
                “Maaf, bukunya jatuh” Sapaan lembut dari belakangan membuyarkan konsentrasi Zah yang sedang sibuk membaca judul-judul buku di rak.
                Disitulah kali pertama ia berkenalan dengan Lana. Lana adalah laki-laki yang menyenangkan. Selain wajahnya yang cukup tampan, wawasannya juga sangat luas. Senyumnya amat bersahaja. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Zah. Tutur katanya yang santun dan bijaksana membuat siapapun segan untuk menolak diajak ngobrol oleh Lana. Termasuk Zah yang biasanya cuek.
                Zah meneguk coklat hangatnya. Manisnya terasa menyentuh hingga ke ulu hati. Lamunannya berlanjut.
                Waktu berjalan sangat cepat. Setahun berlalu dari hari perkenalannya dengan Lana. Mereka tidak lagi saling bertemu. Hanya sekali pertemuan di toko buku itu. Namun sesekali Lana menghubungi Zah melalui email. Lana mengakui ketertarikannya pada Zah, begitupun sebaliknya. Namun Lana menghargai prinsip hidup Zah yang tak ingin menjalin hubungan special dengan seorang pria sebelum akad pernikahan. Dua tahun berlalu, komunikasi mereka semakin lancar. Apalagi riset yang dilakukan Lana, sesuai dengan judul skripsi yang sedang dikerjakan Zah masa itu. Hal tersebut membuat Zah banyak bertanya pada Lana. Benih-benih kasih semakin mekar dihati keduanya. Namun mereka tetap berusaha menjaga diri masing-masing. Komunikasi hanya dilakukan melalui email. Tanpa pernah bertemu. Apalagi mereka berada di pulau yang berbeda. Saat pertemuan di toko buku itu, Lana hanya kebetulan sedang mengadakan penelitian di kota tempat tinggal Zah.
                Waktu semakin tak bisa dihentikan, enam bulan bergulir hingga akhirnya Lana mantap memutuskan akan menjalin hubungan yang serius dengan Zah. Setiap malam hatinya dirundung rindu pada pemilik wajah berlesung pipi itu. Senyuman Zah dua tahun yang lalu masih terbayang jelas dipelupuk mata Lana. Setiap malam selama dua tahun ia berusaha melakukan berbagai aktivitas yang bisa menahannya sejenak dari rindu pada gadis berkerudung yang pernah ditemuinya di toko buku.
                Hanya sekali bertemu dan rindu itu tumbuh subur dihati keduanya. Carik demi carik rindu mereka kumpulkan tanpa ada yang tahu.
                Zah kembali menghela nafas panjang. Hujan diluar sana semakin deras. Lamunan Zah melambung hingga tiga bulan yang lalu.
                Setelah tiga bulan tidak berkomunikasi dengan Lana, Zah mulai merasa ada yang hilang dari hidupnya. Hingga akhirnya Lana datang ke kota Zah tepat tiga bulan yang lalu bersama kedua orangtuanya. Ia hendak melamar Zah. Zah dengan senang hati menerima lamaran Lana, satu-satunya pria dalam hidupnya yang pernah membuat ia tersenyum tanpa sebab.
                Namun malang menimpa, orang tua Zah yang masih memegang teguh budaya ditengah kehidupan kota yang kian modern tak merestui hubungan anak tunggalnya itu. Orang tua Zah menolak dengan dua alasan, alasan pertama karena budaya mereka yang notabene tinggal di pulau yang berbeda tidak sama. Alasan kedua karena mereka tak ingin anak mereka tinggal jauh dari mereka. Orang tua Lana telah mengikhlaskan jika Lana ingin tinggal di kota yang sama dengan Zah. Namun orang tua Zah tetap tidak setuju karena alasan budaya turun temurun yang berbeda.
                Zah telah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa budaya tidak seharusnya menjadi penghalang niat suci. Agama dapat menjadi penyatu dari budaya yang berbeda. Namun orang tua Zah tetap kekeh pada pendiriannya.
                “Jika kamu tetap memilih menikah dengan laki-laki itu, kamu bukan anak kami lagi!” Kalimat ini membuat Zah bergeming tanpa sepatah kata pun.
                Air mata Zah menetes seirama tetesan hujan yang mengalir perlahan di dinding kaca. Bayangan kerasnya orang tuanya yang menolak Lana kembali menggelayut dipikirannya. Secarik rindu masih tersisa dihatinya untuk Lana.
Rasanya sangat tidak adil jika perbedaan harus menjadi penghalang, jika perbedaan harus didahulukan diatas niat yang mulia, jika perbedaan harus diprioritaskan dalam segala hal. Perbedaan antara suku ini dan suku itu, antara si kaya dan si miskin, si cantik dan si buruk, si penguasa dan rakyat biasa, dll. Justru seharusnya perbedaan menjadi warna yang semakin mengeratkan. Bayangkan jika pelangi hanya memiliki satu warna, masih kah ada yang ingin menarik mata sejenak untuk memandanginya? Jika langit hanya tersusun atas hamparan hitam tanpa bintang sebagai pembeda, masihkan malam akan terlihat bercahaya?
                Ditengan lamunannya, ia dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar sekali. Sebuah email.
                “Wahai wanita yang lembut hatinya, tulus tuturnya, indah akhlaknya. Sungguh aku ingin bersamamu meraih surgaNya. Berjalan beriringan merangkai kasih atas namaNya. Mendidik pejuang-pejuang yang akan istiqomah dijalanNya. Hatiku tak pernah letih memohon dalam doa, semoga engkau yang dirangkai dari tulang rusukku. Aku mencintaimu Zahratunnisa. Aku akan menjadikanmu bidadari diistanaku. Perjunganku belum berakhir. Tunggu aku menjemputmu.”
                                                                                                                       #Lana

to be continued...

2 komentar:

  1. Subhanallah sangat menginspirasi..

    Terima kasih ya mbak..
    Salam kenal Saya teman satu kelas di KMO 4D

    http://www.ronnydepu.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih sudah mampir membaca ^^
      salam kenal juga :)

      Hapus