Selasa, 16 Agustus 2016

Cerpenku: Lautan Mimpi

LAUTAN MIMPI

Apakah kau percaya bahwa dengan kebaikan, kesugguhan dan kejujuran sebuah mimpi besar dapat tercapai? Mungkin kau akan tertawa dan menganggap ini sebagai lelucon. Tapi aku percaya, bahkan sangat percaya. Akan kuceritakan padamu sebuah kisah yang mungkin akan membuatmu semakin tertawa. Tetapi sebelum kuceritakan, terlebih dahulu tanamkanlah dalam dirimu kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.
Ini hanya satu kisah tentang seorang anak yang percaya pada kekuatan mimpi. Ia lahir dengan mimpi menjadi pemain sepak bola dunia. Sebuah mimpi yang mustahil untuk seorang anak kampung yang tinggal di pesisir pantai Sabang. Tepat di kilometer nol Indonesia. Semakin mustahil lagi karena ia lahir dengan kaki yang tidak simetris. Kaki sebelah kirinya lebih pendek beberapa centimeter dibanding kaki sebelah kanannya. Hanya satu orang di dunia ini yang percaya bahwa ia bisa menjadi pemain sepak bola dunia. Sang ayah, Tengku Majid.  Seorang nelayan miskin yang sehari-hari bekerja di tengah lautan. Ah, bagaimana pula seseorang yang bahkan tak pernah menginjakkan kaki ke lapangan sepak bola mampu melatih seorang anak bermain sepak bola? Namun sang ayah lah yang selalu menanamkan keyakinan dan menumbuhkannya menjadi bunga semangat yang tak pernah kuncup.
Tengku Majid melaut setiap malam hari saat angin laut sedang bersahabat dan pulang ketika matahari mulai menunjukkan pesonanya. Setelah itu, ia dibantu sang istri menjualkan hasil tangkapannya ke pasar. Sore hari, barulah ia mengajak sang anak ke tepi pantai untuk berlatih sepak bola.
“Bapak, kaki abang sakit pakai bola ini” ia menunjukkan kaki merahnya karena seharian menendang bola yang terbuat dari batok kelapa yang dengan dibentuk sedemikian rupa menyerupai bola.
“Sabar sedikit lagi nak, minggu depan ayah belikan kau bola” Amar kecil hanya mengangguk dengan cahaya harapan dimatanya.
            Sambil menyaksikan hebatnya matahari terbenam di lautan Aceh, Tengku Majid merentangkan kakinya diatas pasir putih yang lembut. Disampingnya sang anak ikut duduk menatap kagum pada pemandangan istimewa dihadapannya. Hanya sekian detik matahari sempurna tergelincir ke tempat persembunyiannya.
            “Amar anakku, bisa kau lihat ujung lautan ini? Bapak harap mimpimu akan seluas lautan, tanpa ujung, tanpa batasan. Suatu hari kau akan berlayar dari sudut-sudut dunia untuk memperjuangkan mimpi-mimpimu dan bapak orang pertama yang percaya bahwa kau bisa meraihnya. Milikilah kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.” Amar kecil khidmat mendengarkan nasihat sang ayah. Ombak dihadapan mereka menjadi saksi kuatnya mimpi seorang anak pesisir. Lautan mimpi yang tak akan goyah meski menghantam dinding karang sekuat baja.
            Amar kecil berlatih setiap hari dengan penuh keyakinan. Ia tak peduli pada ejekan teman-temannya yang terus berusaha mematahkan semangatnya. “Jalan saja susah, bagaimana mau jadi pemain sepak bola? Jangan mimpi kau mar”
            Kalimat-kalimat ejekan itu justru menjadi suntikan semangat bagi Amar dan membuatnya semakin giat berlatih. Ketika Amar berusia 12 tahun Tengku Majid mengajaknya menonton pertandingan sepak bola tingkat propinsi di kota Banda Aceh. Dengan menumpang perahu kayu milik tetangga yang juga ingin menyaksikan pertandingan itu, berangkatlah mereka ke ibu kota propinsi. Amar begitu terpesona menyaksikan gerakan lincah kaki-kaki pemain lapangan itu. Semangat dalam dirinya kian terbakar hingga ia pun semakin semangat berlatih.
            Dua tahun kemudian, tim sepak bola propinsi sedang mencari pemain junior. Berangkatlah Amar dengan restu dari ibu dan bapaknya. Bocah kampung merantau ke kota untuk mengejar mimpi. Kalimat ini sepertinya sering terdengar. Beberapa berhasil dan beberapa terpaksa pulang menghabiskan sisa usia di kampung halaman. Tetapi Amar ingin memperjuangkan mimpi-mimpinya.
            Di kota ia menumpang pada tetangganya yang sedang merantau mencari pekerjaan. Uang tabungannya bertahun-tahun dan bekal dari sang ayah tidak cukup untuk menyewa sebuah tempat tinggal.
            Pada hari seleksi tanpa perlu mengikuti tes di lapangan, ia langsung dinyatakan gugur. Panitia seleksi tidak bisa menerimanya dengan dalih kakinya yang tidak simetris. Amar merasa dunianya akan berakhir, tapi tak mungkin ia pulang ke kampung halaman dan menyerah. Petuah-petuah sang ayah terus terngiang dalam hati dan pikirannya. Ia akan melakukan apapun untuk meraih impiannya. Amar pun menawarkan diri menjadi petugas kebersihan di klub sepak bola itu. Setidaknya ia bisa menyaksikan orang-orang yang berlatih dan melihat megahnya lapangan sepak bola yang tidak pernah ada di kampungnya.
            Hanya dengan melihat lapangan sepak bola setiap hari, sudah mampu menumbuhkan semangatnya. Ia pun diizinkan menempati gudang tempat peralatan sepak bola tua yang sudah tidak terpakai. Setiap malam setelah semua pekerjaannya selesai dan latihan klub juga telah selesai, ditemani pak Samid yang juga bekerja disana, ia bertugas menyimpan alat-alat yang telah digunakan untuk latihan. Kesempatan itu tak dilewatkan Amar untuk berlatih. Selama 10-15 menit ia bermain sendiri di tengah lapangan. Menggiring bola menuju gawang dengan sangat piawai. Merasakan euphoria bermain sungguhan dalam sebuah pertandingan megah.
            “Seharusnya kau menjadi pemain di klub ini nak, bukan petugas kebersihan. Kau bahkan lebih berbakat dari orang-orang yang ada disini”
            “Nasib berkata lain pak. Tapi Amar tidak akan menyerah seperti kata bapak, miliki kebaikan, kesungguhan dan kejujuran”
            Hingga suatu malam saat Amar sedang berlatih sendirian, seorang pelatih klub melihatnya dan sangat terpukau dengan gerakan lincah kaki-kaki Amar menggiring bola. Sang pelatih berjalan ke pinggir lapangan, hendak melihat permainan Amar lebih dekat. Amar segera menghentikan permainannya dan meminta maaf karena telah menggunakan peralatan tanpa izin.
            “Saya pikir kamu salah satu pemain klub ini. Siapa namamu? Boleh sekali lagi saya melihat permainan sepak bolamu tadi?” Sang pelatih merasa sangat terpesona dengan permainan Amar hingga akhirnya Amar diajak bergabung dalam klub. Awalnya sebagai pemain cadangan, kemudian menjadi pemain utama. Karir sepak bola Amar semakin bersinar hingga pada tahun kedua ia berhasil membawa timnya kebabak final sepak bola Nasional. Ia sangat menjujung tinggi kejujuran dalam bermain. Beberapa kali ia mendapat tawaran berlaku curang oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Namun ia selalu teringat petuah yang disampaikan ayahnya. Karir Amar terus menanjak hingga saat ini ia telah resmi menjadi pemain Tim sepak bola Nasional. Mimpinya menjadi pemain dunia semakin dekat.
            Kau tahu, kenapa aku tahu persis kisah si Amar? Sebab inilah aku, Amar bin Majid yang akan segera mambawa nama bangsa dikancah dunia. Mimpiku menjadi pemain sepak bola dunia selangkah lagi akan terwujud melalui kebaikan, kesungguhan dan kejujuran.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar